Thursday, 22 Rabiul Awwal 1443 / 28 October 2021

Thursday, 22 Rabiul Awwal 1443 / 28 October 2021

Tanam Pohon Zaitun, Pejabat Palestina Ditangkap Militer Israel

Rabu 11 Feb 2015 21:54 WIB

Rep: C84/ Red: Karta Raharja Ucu

Pohon Zaitun

Pohon Zaitun

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Militer Israel menahan Kepala Komite Otoritas Palestina terhadap tembok pemisah dan pemukiman, Jamil al-Barghouti, Senin (9/2). Ia ditahan di Desa Silwad karena menghadiri kampanye untuk menanam pohon zaitun.

Penanaman pohon zaitun dianggap sebagai tindakan simbolis protes terhadap permukiman ilegal Israel. Seperti dilansir Albawaba, Selasa (10/2), pasukan Israel dilaporkan menyerang Barghouthi dan warga Palestina lainnya dalam kampanye tersebut sebelum membawanya ke tahanan.

Barghouthi ditunjuk Presiden Palestina Mahmud Abbas pada Desember tahun lalu untuk menggantikan Ziad Abu Ein, yang tewas dalam penanaman pohon zaitun. Abu Ein meninggal pada 10 Desember 2014, setelah tentara Israel memukulnya dengan senjata dan helm di Desa Turmusayya.

Abbas pun mengutuk penangkapan dan penyerangan tersebut. "Serangan brutal yang menyebabkan kesyahidan Abu Ein. Tindakan Israel adalah tindakan barbar yang tidak bisa ditoleransi atau diterima," kecam Abbas.

Ribuan warga Palestina menggelar aksi unjuk rasa untuk mengecam kegiatan permukiman Israel dan tembok pemisah, yang telah mengisolasi sebagian besar wilayah Palestina.

Sementara itu, Mahkamah Pengadilan Internasional (ICC) di Den Haag meminta Israel menghentikan pembangunan tembok pemisah ilegal di wilayah Palestina yang diduduki. Kecaman internasional juga mengiringi langkah pembangunan permukiman yang terus dilakukan Israel. Masyarakat internasional menganggap semua permukiman Israel yang dibangun di atas tanah Palestina yang diduduki adalah ilegal.

Lebih dari setengah juta warga Israel tinggal di lebih dari 120 permukiman ilegal yang dibangun sejak pendudukan Israel di wilayah Palestina sejak 1967.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA