Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Lagi, Migran Rohingya Terbunuh

Kamis 29 Jan 2015 17:43 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: M Akbar

Relawan Palang Merah Indonesia (PMI) berangkat dalam misi kemanusian bagi etnis muslim Rohingnya melalui Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (25/8). Palang Merah Indonesia (PMI) mengirimkan 7,5 ton bantuan kemanusiaan berupa 500 paket hygiene kit,

Relawan Palang Merah Indonesia (PMI) berangkat dalam misi kemanusian bagi etnis muslim Rohingnya melalui Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (25/8). Palang Merah Indonesia (PMI) mengirimkan 7,5 ton bantuan kemanusiaan berupa 500 paket hygiene kit,

Foto: Republika/Adhi.W

REPUBLIKA.CO.ID, BUKIT MERTAJAM -- Malang benar Abul Kassim. Pencari suaka asal Rohingya ini ditemukan tewas berdarah-darah dan babak belur pada 13 Januari 2015. Sehari sebelumnya, ia diculik dari rumahnya di Penang, Malaysia bagian utara.

Pascaditemukan jasad Abul, polisi mencari pembunuh pria 40 tahun tersebut. Beberapa waktu kemudian, polisi Penang mengatakan dalam pernyataan bahwa mereka menyelamatkan 17 migran Rohingya yang ditahan di sebuah rumah di Kedah.

Enam orang terduga pelaku perdagangan manusia asal Malaysia, Myanmar dan Bangladesh ikut ditahan dalam aksi penyergapan. Aktivis Rohingya mengatakan pembunuhan Abul Kassim kemungkinan besar dilakukan oleh pelaku perdagangan manusia.

Mereka akan melakukan tindakan seekstrim apa pun untuk melindungi bisnis menguntungkan tapi berlangsung secara ilegal. Menurut presiden Rohingya Society di Malaysia, Abdul Hamid, Kassim sering memberi informasi pada polisi terkait kegiatan pelaku perdagangan manusia itu.

Kasus pembunuhan seperti ini pernah terjadi sebelumnya pada 2013 dan 2014 di Penang. Keluarga dan rekan korban mengatakan pada Reuters mereka diculik dari rumah, di kedai kopi dan dari jalan. Salah satu dari mereka disiksa setelah dibawa oleh para pedagang dari Thailand.

Tiga dari empat kasus berakhir dengan pembunuhan. Kelompok hak asasi manusia Asia Tenggara Fortify Rights mendokumentasikan tiga dugaan pembunuhan warga Rohingya lainnya tahun lalu. Pembunuhan juga dilakukan pelaku perdagangan manusia.

Kekerasan pada migran secara luas sering dilakukan. Sejak 2012, lebih dari 100 ribu Muslim Rohingya melarikan diri dari Myanmar. Sebagian besar dari mereka bertujuan ke Malaysia karena dianggap negara makmur.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA