Saturday, 26 Zulqaidah 1443 / 25 June 2022

Gara-Gara 'Charlie Hebdo', Pelajar Muslim Inggris Alami Bullying

Senin 26 Jan 2015 04:46 WIB

Rep: C16/ Red: Indira Rezkisari

Bullying (ilustrasi)

Bullying (ilustrasi)

Foto: www.chicago-bureau.org

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON - Sejumlah pelajar Muslim di sekolah-sekolah di Inggris telah menjadi korban dari virus Islamophobia. Kelompok anti rasisme dan persatuan guru-guru di Inggris telah memperingatkan bahwa meningkatnya sentimental anti Muslim di sekolah-sekolah dapat menumbuhkan suasana ketakutan diantara para pelajar Muslim.

Ini merupakan akibat gagalnya pemerintah menangani permasalahan Islamophobia ini.

"Kami melihat banyak kejadian rasial dan bullying terhadap pelajar Muslim di beberapa sekolah setelah terjadinya peristiwa penembakan di Paris," ujar kepala eksekutif kelompok Tell MAMA, Fiyaz Mughal, dilansir Islam Online, Sabtu (24/1).

Para pelajar Muslim biasanya diejek dengan sebutan 'teroris dan imigran'. Mereka mengalami peningkatan menerima serangan verbal dan fisik di sekolah semenjak penyerangan yang terjadi di kantor Charlie Hebdo dan mengakibatkan 17 orang tewas.

Tell MAMA melaporkan telah terjadi sebanyak 112 serangan akibat Islamophobia, sembilan diantaranya terjadi dari West Yorkshire sampai East Sussex. Seorang pelajar di sekolah Oxfordshire harus menghadapi teman-temannya yang dengan sengaja menampar dan meneriakinya dengan kata-kata kotor.

Serangan lainnya, Universitas Birmingham yang memiliki cukup banyak mahasiswa Muslim dirusak dan diserang dengan menggambarkan simbol swastika Nazi dan tulisan 'Islam harus mati'.

Dalam upaya untuk melawan meningkatnya Islamophobia di sekolah-sekolah Inggris,  Tell MAMA telah berulang kali meminta dukungan dari Departemen Pendidikan (DFE) untuk menawarkan pelatihan bagi sekolah-sekolah yang terjangkit Islamophobia. Namun, upaya ini selalu ditolak.

"Apa pun alasannya, penolakan itu memberikan kesan bahwa kebencian anti-Muslim adalah sesuatu yang tidak penting bagi mereka,".

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA