Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Perceraian Penyebab Stres Paling Besar pada Anak

Jumat 16 Jan 2015 06:28 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari

Anak akan merasa dirugikan dengan hilangnya salah satu orang yang berarti dalam hidupnya akibat perceraian (ilustrasi)

Anak akan merasa dirugikan dengan hilangnya salah satu orang yang berarti dalam hidupnya akibat perceraian (ilustrasi)

Foto: DIVORCELAWYERS.COM

REPUBLIKA.CO.ID, Perceraian merupakan penyebab stres nomor dua bagi orang dewasa setelah kematian pasangan. Namun, bagi anak-anak perceraian menjadi penyebab stres paling besar. Hal itu diungkapkan oleh Psikolog anak, Ine Indriani, MPsi, kepada ROL, Jumat (16/1).

Ia mengungkapkan contoh kasus perceraian yang membuat anak menjadi stress. R adalah anak laki-laki kelas 4 SD. Ibu berselingkuh, lalu ibu menggugat ayah untuk cerai. Sejak cerai, R sering marah-marah, mengompol, merasa tidak disayang, dan membenci selingkuhan ibu. R masih berharap ayah dan ibu dapat bersatu lagi.

Saat ini, R tinggal dengan ibu dan ibu menutup komunikasi dengan ayah. R sebenarnya lebih ingin tinggal dengan ayah. Proses konseling dilakukan atas pengajuan ayah. Sementara ibu, tidak mau bekerjasama dalam proses konseling.

Selain contoh kasus R, adapula contoh kasus kedua. Ry adalah ibu rumah tangga. Anaknya R laki-laki 6 tahun dan O perempuan 4 tahun. Ibu menggugat ayah bercerai, karena ayah melakukan KDRT kepada ibu maupun R dan O. Untuk menghindari KDRT, ibu menggugat ayah untuk cerai dan bersembunyi dari ayah ke kota lain. Sementara ayah yang tidak terima dengan gugatan ibu, terus mencari ibu dan anaknya.

Dan contoh kasus ketiga adalah Y perempuan 9 tahun, Z laki-laki 6 tahun. Kedua orangtuanya bercerai. Setelah bercerai, Y tinggal bersama ayah dan Z dengan ibu. Karena ibu kurang mempunyai biaya untuk membesarkan Z, Z kembali tinggal bersama ayah.

Setelah bercerai, tidak terjadi perubahan perilaku pada Y, tetapi Z menjadi lebih emosional, terutama di sekolah. Terlebih lagi setelah ayah menikah lagi dan memiliki 1 orang anak. Ketika ditanya apa yang menyebabkan Z marah-marah atau emosional, Z tidak menjawab.

Z ingin kembali tinggal bersama ibu, tetapi dia khawatir jika tinggal bersama ibu, dirinya tidak bisa bermain dengan mainan-mainan seperti yang ada di rumah ayah.

Masih ada contoh kasus perceraian yang berdampak buruk pada anak. Yaitu kasus V. V melahirkan seorang anak laki-laki yang mengalami gangguan mental. Keadaan tersebut membuat suami V tertekan dan kemudian menceraikan V.

V berjuang sendirian mengasuh anaknya. Hingga setelah sang anak beranjak remaja, ayah kemudian baru menyadari akan kesalahannya. Ayah lalu mulai menyisihkan waktu anaknya. Meskipun demikian, sang anak tetap memendam rasa marah kepada ayahnya yang telah meninggalkan dia dan ibu.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA