Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Petani Tomat Merugi

Rabu 31 Dec 2014 16:45 WIB

Red: Erdy Nasrul

 Persiapan tomat yang tidak layak jual atau busuk pada Hanjat Kampung dan Perang Tomat di Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (19/11).  (Republika/Edi Yusuf)

Persiapan tomat yang tidak layak jual atau busuk pada Hanjat Kampung dan Perang Tomat di Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (19/11). (Republika/Edi Yusuf)

REPUBLIKA.CO.ID,PASURUAN -- Sejumlah petani buah tomat di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, mengaku telah merugi karena harga jual komoditas itu menurun akibat curah hujan yang cukup deras, sehingga kualitas produk kurang baik.

"Harga jual buah tomat akhir-akhir ini menurun karena hujan yang deras membuat sebagian besar buah tomat rusak. Buah tomat tidak boleh kena air karena mudah busuk," kata salah seorang petani tomat di Kecamatan Kejayan, Mochammad Anton, di pasuruan, Rabu.

Menurut dia, derasnya curah hujan berdampak pada harga jual tomat karena produksi tomat tidak berkembang dan sebagian tomat busuk terkena air. "Harga jual tomat menurun dari Rp5.000 menjadi Rp2.500 per kilogram, sehingga turunnya harga tomat membuat para petani merugi," tuturnya.

Perawatan tanaman tomat pada musim hujan, lanjut dia, membutuhkan tenaga dan dana yang ekstra karena petani harus membeli obat anti hama yang disemprot dengan menggunakan pestisida, agar buah tomat terhindar dari hama. "Perawatan juga harus dilakukan secara rutin seperti memangkas daun, agar buah tomat tumbuh dengan sempurna," katanya.

Ia menjelaskan produksi tomat pun mengalami penurunan hingga mencapai 70 persen karena sebelumnya bisa memetik buah tomat seberat tiga kuintal, namun selama musim hujan hanya bisa dipanen sebanyak 15 kilogram setiap harinya karena kualitas tomat yang kurang bagus. "Kalau dihitung tidak akan bisa menutupi biaya produksi awal yang mencapai lebih dari Rp25 juta setiap hektare, sehingga bisa dipastikan petani merugi dengan harga Rp2.500 per kilogram," paparnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA