Selasa, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 Januari 2020

Selasa, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 Januari 2020

Ini Tiga Makna Pertemuan Jokowi-Soros

Selasa 30 Des 2014 20:02 WIB

Rep: Dwi Murdaningsih/ Red: Agung Sasongko

George Soros (file photo)

George Soros (file photo)

Foto: Antara/Saptono

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Investor kelas kakap asal warga Negara Amerika George Soros menemui presiden Indonesia Joko Widodo, Selasa (30/12). Peneliti ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam menangkap setidaknya ada tiga makna dari pertemuan kedua belah pihak tersebut.

“Yang tahu agendanya tentu mereka berdua, tapi menurut saya secara implisit ada beberapa hal yang bisa kita tarik,” ujar Latif, saat dihubungi ROL, Selasa (30/12).

Latif mengatakan, bisa jadi reputasi Soros yang dikenal sebagai spekulan atau investor portofolio ini telah diberi saran oleh Jokowi untuk tidak ‘bermain’ sehingga nilai tukar rupiah tidak bergejolak. Apalagi saat ini nilai tukar rupiah memang tengah mengalami penurunan.

“Memang sulit dibuktikan tapi boleh jadi yang pertama bisa kita tangkap ke arah sana bahwa kita berkeinginan agar para spekulan tidak ikut bermain,” katanya.

Kedua, pertemuan tersebut bisa jadi sebagai salah satu permintaan Jokowi agar investor portofolio seperti Soros tidak serentak menarik uang ketika ada pasar lain yang lebih menarik. Meskipun investor pasti akan mencari pasar dengan keuntungan paling tinggi. Dia mengatakan struktur pasar modal Indonesia yang belum begitu kuat dan didominasi investor asing membuat hot money mudah keluar dari pasar.

“Mungkin yang didiskusikan bagaimana Jokowi meyakinkan bahwa kondisi sekarang jauh lebih baik sehingga boleh jadi ada keinginan dan himbauan agar investor tidak serta merta melarikan hot money,” katanya.

Ketiga, bisa jadi Jokowi berkeinginan untuk mengundang Soros bukan hanya sebagai investr di pasar keuangan, namun juga masuk ke dalam sektor riil. Latif mengatakan pertemuan Soron dengan presiden Indonesia bukanlah kali pertama. Menurutnya, hal ini sebagai pertanda bahwa Indonesia adalah tempat yang menarik untuk berinvestasi.

“Idealnya ada agenda utama di dalam meeting ini sehingga akan menjadi simbiosis mutualisme, harus satu level dan jangan menganggap investor adalah segalanya dan mengorbankan kesejahteraan rakyat,” katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA