Sunday, 7 Rajab 1444 / 29 January 2023

Padanya Ada Ridha dan Murka Allah

Jumat 19 Dec 2014 13:55 WIB

Red:

Dari Abdullah bin Amr bin Ash RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua." (HR Bukhari).

Betapa besar kedudukan orang tua dalam agama ini. ‘Stempel’ diterimanya amal ibadah juga mesti melalui keridhaan orang tua. "Benar adanya, hadis-hadis yang disampaikan oleh Rasulullah SAW adalah tuntutan Allah SWT. Umat Islam patut memahami dan mengamalkannya, terlebih terkait dengan sosok yang sangat dimuliakan dalam Islam, yaitu orang tua," ujar Ketua Umum Yayasan Nasyitha Centre, Ustazah Nurjanah Hulwani, Selasa (16/12).

Ketua yayasan yang fokus pada dakwah Muslimah serta pembinaan janda dhuafa dan yatim berprestasi ini menjelaskan, hadis tersebut mengandung makna seorang anak tidak pantas menyakiti orang tuanya.

"Hubungan Allah dengan orang tua itu erat. Hubungan antara hamba dan Tuhannya yang tidak ada hijab bagi keduanya," ujar Ustazah Hulwani.

Oleh karena itu, lanjut dia, menyakiti dan membuat orang tua marah sama halnya mengkhianati Allah dan membuat-Nya marah. "Subhanallah, sesungguhnya hadis itu adalah pengingat dan peringatan untuk kita."

Namun, Ustazah Hulwani menggarisbawahi hadis itu tidak berlaku dalam keadaan tertentu. "Hadis itu dalam konteks orang tua tidak bermaksiat kepada Allah dan tidak menuntut anak untuk mengkhianati Allah SWT," jelasnya. Jika orang tuanya ahli maksiat dan turut memaksa anak untuk melawan perintah Allah, gugurlah keutamaan itu.

Sehingga, tidak bisa dipahami secara tekstual semua kemarahan orang tua juga kemarahan Allah. Begitu pun ridha orang tua belum tentu bermakna ridha Allah. "Saat ini banyak orang tua yang mendiamkan perbuatan anak yang kurang baik dan melanggar agama. Itu bukan ridha namanya," jelasnya.

Dalam kasus sehari-hari, ia menyebut masalah jodoh anak sering menimbulkan perdebatan antara orang tua dan anak. Ada anak yang merasa lebih mengetahui apa yang terbaik untuknya, tapi tidak melihat mana yang baik untuk agamanya. Di sisi lain, ada orang tua yang beranggapan jodoh yang tak beriman tak masalah, asal memiliki harta yang lebih.

"Meskipun begitu, berbakti kepada orang tua tetaplah harus dilaksanakan sebagai seorang anak. Mengingat kasih sayang orang tua khususnya ibu tiada batasnya. Bahkan, tidak dapat tergantikan oleh apa pun yang ada di dunia ini," kata Ketua Adara Relief Indonesia ini. Keistimewaan orang tua khususnya ibu pun tertuang dalam Alquran. Seperti termaktub dalam surah al-Isra ayat 23 yang melarang berkata kasar kepada orang tua.

Muslimah yang tercatat sebagai pengurus Pusat Wanita Islam ini mengatakan, selain menjaga lisan terhadap ibu, patuhi juga segala perintah ibu yang mengajak anak kepada ridha-Nya. "Jangan menolak apalagi membantahnya dengan bahasa yang kasar. Meskipun orang tua tidak marah saat itu, kemungkinan hati mereka yang marah dan menangis."

Namun, berbeda halnya apabila orang tua memerintahkan maksiat. Sang anak diharuskan untuk menolak dan tidak mematuhinya dengan cara yang santun. "Baik tidaknya harus dikembalikan kepada Allah, dengan beristikharah kepada-Nya. Karena, hanya Allah yang mengetahui yang baik dan tidak, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang tidak diketahui hambanya," ucapnya.

Hal yang juga kerap terjadi di rumah keluarga Muslim adalah persilangan pendapat soal pilihan fikih anak dan orang tua. "Berbeda terkait masalah fikih sudah biasa dan sering dijumpai. Tapi, yang perlu diwaspadai adalah jangan biarkan perbedaan itu menjauhkan silaturahmi antara anak dan orang tua," kata Ustazah Hulwani menyarankan.

Ia mengatakan, berilah pengertian kepada ibu dengan cara yang baik. Lagi pula fikih bukanlah sesuatu yang diwajibkan untuk orang lain. Keduanya bisa melakukan pembicaraan dengan cara yang baik dan saling memberikan pengertian dan bersabar. "Terkecuali aliran sesat," ujar Ustazah Hulwani menegaskan.

Ketua Badan Kontak Majelis Taklim Ustazah Tuty Alawiyah menambahkan posisi sentral ibu dalam kehidupan anak. "Janganlah kita sebagai anak menyia-nyiakan orang tua kita dengan mudah. Ingatlah apa yang telah orang tua lakukan sepanjang hidup kita wabil khusus ibu yang mengandung kita."

"Sesungguhnya dia merugi, bagi yang mengabaikan dan durhaka kepada orang tuanya karena banyak ancaman Allah jika seorang anak melakukan hal itu," kata Ustazah Tuty melanjutkan. 

Selain itu, berbakti kepada orang tua disamakan dengan jihad di jalan Allah, seperti yang tertuang dalam beberapa hadis. Ia menyebutkan hadis riwayat Bukhari, suatu ketika datang seorang pria kepada Nabi SAW lalu ia meminta izin kepada Baginda untuk berjihad. Kemudian, Nabi pun berkata, "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?" Pria itu menjawab "Ya", lalu Rasulullah berkata, "Berjihadlah kepada kedua orang tuamu".

Berbakti kepada orang tua pun memiliki tingkatan amal yang tinggi. Tuty menjelaskan dalam sebuah hadis riwayat Bukhari Muslim, seseorang bertanya tentang apa yang paling dicintai oleh Allah SWT. Nabi kemudian menjawab shalat pada waktunya, berbakti kepada orang tua, dan jihad fi sabilillah.

Oleh karena itu, lanjut dia, seorang anak haruslah berperilaku ihsan dan tidak kasar karena orang tua memiliki posisi yang paling dekat dengan Allah. "Berbakti kepada orang tua yang diajarkan dalam Islam adalah dengan berbicara jujur, berlemah lembut, dan patuh kepadanya serta mendoakan keduanya." n c64 ed: hafidz muftisany

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA