Friday, 4 Rabiul Awwal 1444 / 30 September 2022

Islam di Bosnia, Toleransi di Tengah Keragaman (1)

Selasa 16 Dec 2014 11:37 WIB

Rep: c03/ Red: Damanhuri Zuhri

Muslim Bosnia

Muslim Bosnia

Foto: washingtonpost

REPUBLIKA.CO.ID,

Austria menyambut baik keramahan dan tradisi Islam di Bosnia.

Islam di Bosnia dan Herzegovina telah melewati rentang sejarah yang panjang. Agama Allah SWT ini masuk ke Bosnia sekitar abad ke-15.

Adalah Kesultanan Turki Utsmani di bawah pimpinan Sultan Muhammad yang pertama kali membawa Islam ke Bosnia dan wilayah lainnya di kawasan Balkan, seperti Albania, Bulgaria, Kroasia, Montenegro, Makedonia, dan Serbia .

Sebagian besar wilayah Bosnia berhasil dikuasai Turki Utsmani pada 1463. Sedangkan, Herzegovina ditaklukkan pada 1480-an. Satu abad kemudian, masih di bawah kekuasaan Utsmani, banyak etnis Slavia yang memeluk Islam. Pada awal 1600-an diperkirakan dua pertiga populasi Bosnia merupakan Muslim.

Pada 1831 Bosnia dan Herzegovina tetap menjadi provinsi di Turki Utsmani dan memperoleh otonomi setelah pemberontakan Bosnia pada 1831. Tahun 1908 Austria-Hungaria secara resmi menganeksasi wilayah itu.

Bosnia didiami tiga kelompok etnis utama, yakni Bosnia, Serbia, dan Kroasia. Sedangkan, Islam merupakan agama mayoritas di sana yang umumnya dianut oleh etnis Bosnia.

Jumlah Muslim di negeri ini mencapai sekitar tiga juta orang. Selain itu, penganut Kristen Ortodoks mencapai 31 persen dan Katholik Roma 15 persen.

Sebagai kelompok mayoritas, Muslim Bosnia sejak lama menjalin hubungan baik dan hidup berdampingan secara damai dengan etnis Serbia yang sebagian besar memeluk Kristen Ortodoks serta etnis Kroasia yang mayoritas menganut Katholik Roma dan Yudaisme (agama bangsa Yahudi).

Sejarah mencatat, selama lebih dari 130 tahun, Muslim Bosnia hidup rukun dalam sistem monarki Austria-Hungaria yang menganut Kristen. Bahkan, warga Austria menyambut baik keramahan dan tradisi Islam di Bosnia.

Sikap toleran dan cinta damai yang diperlihatkan penduduk Bosnia Herzegovina membuat pemimpin Yugoslavia, Joseph Broz Tito, terkesan.

Ia pun menjadikan Bosnia sebagai contoh bagi warga Yugoslavia. Tito berharap warga Yugoslavia pun dapat hidup berdampingan di tengah keberagaman suku dan agama tanpa adanya konflik.

Tentang tingginya toleransi itu dapat terlihat di Sarajevo, ibu kota Bosnia. Di kota ini warga Muslim hidup berdampingan secara damai dengan warga lain berbeda keyakinan. Hal serupa juga terlihat di Gorazde, sebuah wilayah di Lembah Drina, Bosnia Timur.

Di tempat ini, tak kurang 9.600 Muslim hidup berdampingan dengan 5.600 orang etnis Serbia yang berlainan agama.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA