Wednesday, 17 Syawwal 1443 / 18 May 2022

Harga Minyak Bisa 43 Dolar AS per Barel Tahun Depan

Selasa 09 Dec 2014 01:05 WIB

Red: Yeyen Rostiyani

Seorang petugas pompa bensin mengganti papan harga minyak di sebuah pompa bensin di Medford, Massachusetts, pada 4 Desember 2014.

Seorang petugas pompa bensin mengganti papan harga minyak di sebuah pompa bensin di Medford, Massachusetts, pada 4 Desember 2014.

Foto: Reuters/Brian Snyder

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Patokan harga minyak Brent dan pasar minyak mentah Amerika Serikat (AS) turun 2 dolar AS pada perdagangan Senin waktu AS atau Selasa pagi WIB. Angka ini menyentuh titik terendah harga minyak dunia dalam lima tahun terakhir, akibat kelebihan suplai di pasar global.

Harga minyak bahkan diperkirakan makin turun pada 2015. Morgan Stanley meramalkan harga minyak bisa menyentuh angka 43 dolar AS per barel pada 2015. Hal ini diungkap dalam laporan mereka tertanggal 5 Desember lalu. 

"Tanpa intervensi dari OPEC, pasar minyak terancam tidak seimbang, apalagi titik kelebihan suplai diperkirakan akan terjadi pada caturwulan kedua 2015," kata Adam Longson, analis dari Morgan Stanley.

Harga Brent untuk Januari 2015 turun 2,42 dolar AS menjadi 66,62 dolar AS per barel. Angka ini tercatat paling rendah sejak 2009.

Sedangkan harga minyak mentah AS turun 2,27 dolar AS menjadi 63,55 dolar AS per barel. Harga ini juga terbilang paling rendah sejak Juli 2009.

"Saat harga turun, maka penurunannya cenderung jauh lebih rendah dari pada yang diperkirakan sebelumnya," kata Tariq Zahir dari Tyche Capital. "Saya memperkirakan kecenderungan harga akan tetap rendah."

Dalam pertemuan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada November, Arab Saudi menampik permintaan anggotanya agar OPEC mengurangi produksi minyaknya. Akibatnya harga pun terus meluncur turun hingga 40 persen sejak Juni lalu.  

Namun, Kuwait yang salah satu anggota OPEC, menyebutkan bahwa harga minyak diharapkan masih bertahan dalam enam bulan ke depan. Negara ini memperkirakan harga akan bertahna pada kisaran 65 dolar AS per barel dalam enam atau tujuh bulan ke depan.

Perusahaan minyak negara di Libya menyebutkan pada Ahad bahwa mereka memproduksi 800.000 barel per hari. Produksi ini akan bertahan meski kilang minyak El Sharara ditutup akibat terjadi blokade di fasilitas pipa minyak.  

Sedangkan minyak shale AS masih belum terkena dampak dari penurunan harga minyak dunia. Baker Hughes menyebutkan dalam laporan mereka pada Jumat bahwa AS bahkan telah menambah tiga lokasi pengeboran minyak pada akhir pekan lalu.  

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA