Senin 08 Dec 2014 13:00 WIB

Kisah Lelaki Bertopi dalam Banyak Versi

Red:

Kisah Panji terdiri dari banyak versi. Ada versi Bali, Jawa, hingga Melayu. Berikut dinukilkan dua kisah cerita Panji yang di relief candi di Jawa Timur kerap digambarkan sebagai lelaki muda yang mengenakan topi.

Kisahnya begini: Dahulu kala, Di Kerajaan Jenggala ada seorang resi bernama Gadahu. Dia mempunyai empat orang putra dan seorang putri, yaitu Prabu Dewakusuma, Dewi Killisuci, Lembu Amijaya, Lembu Mengarang, dan Pregiwangsa. Setelah sang ibu meninggal, mereka diboyong ke pertapaan Arga Jambangan oleh ayahnya.

Suatu ketika mereka mendengar adanya sayembara untuk melenyapkan panji-panji ajaib yang menyebarkan wabah besar bagi Kerajaan Keling. Dewakusuma pun mengikuti sayembara dan memenangkannya sehingga ia menjadi pengganti Raja Keling dan dinikahkan dengan putrinya. Dari pernikahan itu, lahirlah seorang putra yang bernama Panji atau Marabangun. Setelah dewasa, Panji kemudian menikah dengan Dewi Candrakirana dan menetap di Jenggala.

                          *****

Panji pada suatu waktu ingin mengadakan perjalanan ke Keling dengan menumpang sebuah kapal. Namun, di tengah perjalanan, kapal yang ditumpanginya diserang badai sehingga para penumpangnya berhamburan ke luar kapal. Panji terdampar di Dayak. Dewi Candrakirana terdampar di Bali. Atas musibah itu, orang-orang Jenggala mengira semua penumpang telah mati tenggelam. Untuk memastikan itu, dua orang penggawa Kerajaan Jenggala, Brajanata dan Lempungkaras, diperintahkan mencari Panji untuk memastikan kabar tersebut.

Setelah siuman akibat terlempar ke luar kapal yang terempas angin ribut, Panji tiba-tiba didatangi Sang Hyang Narada yang turun ke bumi khusus menemuinya. Dalam pertemuan itu, Narada kemudian mengingatkan Panji agar mengganti namanya menjadi Jayakusuma dan mengabdikan diri kepada Raja Urawan. Tak hanya mendatangi Panji yang berada di Dayak, Narada juga menemui Candrakirana yang terdampar di tengah hutan di Bali.

Dalam pertemuan itu, Narada menyarankan Candrakirana mengubah penampilannya menjadi seorang laki-laki dengan nama Jayalengkara. Selian itu, Narada pun meminta Jayalengkara mengabdi pada sebuah kerajaan di Bali yang kebetulan hendak diserang bala tentara Urawan yang dipimpn Panji. Maka, peperangan segera terjadi. Bahkan, Jayalengkara berhasil memukul mundur pasukan Panji yang bermaksud merebut kerajaannya.

Melihat bala tentaranya kocar-kacir, maka Panji (Jayakusuma) mereka lecehkan. Dia pun marah besar dan tidak menerima adanya kenyataan pahit tersebut. Maka, ia pun mencari cara untuk memata-matai siapa Raja Bali yang memimpin pasukan itu.

Hasilnya, pada suatu malam Jayakusama berhasil melihat langsung sosok Raja Bali yang saat itu tengah bertapa. Ia pun kemudian memperhatikan dengan saksama wajah raja itu. Bukan hanya itu, dia pun dengan jeli meneliti keseluruhan penampilan tubuh raja yang menjadi musuhnya. Akibatnya, di situ ia pun terkejut karena ternyata Raja Jayalengkara yang sakti tersebut ternyata seorang perempuan. Ia makin  tercengang setelah sadar betapa rupawan wajah sang seterunya itu.

Maka, tanpa perlu berpikir panjang lagi, Jayakusuma kemudian berusaha membangunkan Jayalengkara dari tapanya. Begitu terbangun, tanpa mengubah penampillannya sebagai Jayakusuma, Panji langsung saja memperkenalkan diri sebagai dewa cinta yang bisa mengabulkan seluruh permohonan dari pihak orang yang bertapa. Adanya pernyataan dari 'sang cewa cinta' pun dipercaya dengan begitu saja oleh Jayalengkara. Tanpa sungkan, dia kemudian mengeluhkan musuhnya yang terlalu kuat sehingga sangat susah untuk dikalahkan.

Mendengar keluhan itu, maka Jayakusuma langsung menyarankan agar Jayalengkara memilih menyerah. Semula Jayalengkara enggan karena merasa harga dirinya direndahkan. Akibatnya, keduanya terlibat percekcokan serta kemudian memancing keduanya untuk melakukan perkelahian hidup dan mati. Keduanya pun sudah berhadap-hadapan siap berkelahi dengan menghunus keris.

                          ******

Untunglah pada saat yang genting, Narada turun dari langit menemui mereka. Dia langsung melerai perkelahian sembari memberitahukan siapa sebenarnya kedua orang tersebut dan menerangkan mengenai maksud dari peperangan itu.

Akhirnya, setelah Narada menerangkan asa usul atau jati diri mereka, keduanya tersadar dan langsung menghentikan perselisihan. Narada kemudian mengembalikan sosok Jayakusuma sebagai Panji dan mengembalikan sosok Jayalengkara sebagai Dewi Candrakirana. Maka, keduanya pun kembali bersatu sebagai sepasang kekasih. n muhammad subarkah

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement