Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Kamis, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Apindo Sambut Kenaikan BBM Bersubsidi

Kamis 30 Okt 2014 17:16 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Apindo

Apindo

Foto: antara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Pemerintah telah memastikan akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi sebelu 1 Januari 2015. Rencana kenaikan harga BBM ini disetujui dan disambut baik oleh Asosiasi pengusaha Indonesia ( apindo ), karena memang sudah dinantikan sejak lama.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia, Franky Sibarani mengatakan, pihaknya mendukung kenaikan harga bbm bersubsidi karena selama ini dianggap salah sasaran dan tidak menyehatkan APBN. Berdasarkan riset lima tahun terakhir, pemerintah membiarkan penggunaan BBM bersubsidi yang salah sasaran.

Menurut Franky, dengan naiknya harga BBM bersubsidi, maka pemerintah telah menyelesaikan masalah salah sasaran yang selama ini terjadi di masyarakat. Franky tak menampik bahwa, dengan kenaikan harga BBM bersubsidi ini akan berpengaruh terhadap daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.

“Selama tiga bulan pemerintah bisa membuat kebijakan untuk memberikan bantuan kepada masyarakat kelas menengah bawah agar daya belinya lebih siap,” ujar Franky kepada ROL, Kamis (30/1).

Franky mengatakan, kenaikan BBM bersubsidi tidak akan berpengaruh terhadap pergerakan industri yang berada di kelas menengah hingga besar. Karena sebagian besar para industri tersebut sudah melakukan kontrak langsung dengan Pertamina sehingga BBM yang digunakan sudah disesuaikan dengan harga industri.

Secara keseluruhan, industri menengah dan besar sudah siap dengan kenaikan BBM bersubsidi ini. Menurut Franky, kenaikan BBM bersubsidi hanya berpengaruh terhadap distribusi produksi. Tidak menutup kemungkinan biaya distribusi akan mengalami sedikit peningkatan.

“Naiknya tidak banyak mungkin hanya sekitar dua sampai lima persen, sedangkan untuk industri makanan paling hanya satu sampai dua persen,” ujar Franky.

Sementara itu, sektor industri yang merasakan dampak besar adalah sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Menurut Franky, para pelaku UMKM tentu akan mengalami kenaikan biaya produksi namun tidak berlangsung lama. Kenaikan hanya berlangsung pada saat awal saja, ketika sudah berjalan maka akan ada penyesuaian.

Franky menjamin bahwa kenaikan BBM bersubsidi tidak akan mempengaruhi harga jual, karena penentuan harga jual tergantung dengan kurs dolar atau bahan baku. Apalagi, menurut Franky, sejauh ini nilai rupiah relatif stabil.

“Pemerintah boleh saja menaikkan harga BBM bersubsidi, asalkan BBM tetap tersedia dan tidak ada pembatasan kuota sehingga tidak menganggu jalannya sektor industri,” ujar Franky.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA