Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Polisi Hong Kong Kembali Gunakan Semprotan Merica pada Mahasiswa

Kamis 16 Oct 2014 14:55 WIB

Rep: Ani Nursalikah/ Red: Esthi Maharani

Polisi bentrok dengan pendemo di Hongkong

Polisi bentrok dengan pendemo di Hongkong

Foto: BBC

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Bentrokan antara massa prodemokrasi dan polisi Hong Kong kembali terjadi, Kamis (16/10). Polisi menggunakan semprotan merica untuk menghentikan pendemo yang mencoba menutup jalan utama dekat kantor pemerintahan.

Dalam konfrontasi terbaru itu, Radio Television Hong Kong (RTHK) mengatakan demonstran menyerbu jalan Lung Wo di samping kantor Pemimpin Eksekutif Leung Chun-ying. Massa membawa blokade plastik dan benda-benda lain.

Sejumlah pendemo terlibat perkelahian dengan sekelompok polisi. Polisi menggunakan semprotan merica untuk menghalau mereka.

Dalam pernyataannya, dikutip dari //BBC//, polisi mengatakan massa mencoba menghalangi dan mengepung polisi ketika polisi melakukan penahanan. Pengunjuk rasa berusaha menyerang polisi, karena itulah polisi menggunakan semprotan merica.

Seorang demonstran mengatakan kepada surat kabar //South China Morning Post// tidak ada peringatan atas tindakan polisi. Dia juga tidak menduga polisi akan menggunakan semprotan merica.

Hingga Kamis siang, ratusan pengunjuk rasa masih menduduki lokasi protes utama. Sekitar 50 polisi tampak berjaga. Kebanyakan demonstran tidur di tenda.

"Meski semalam keadaannya cukup tegang, saya masih bisa tidur. Saya masih berharap pemerintah akan memulai dialog dengan mahasiswa. Saya masih berharap permintaan kami akan hak pilih universal bisa terwujud," ujar Brian Yip (19 tahun).

Media Cina, yakni kantor berita //Xinhua// dan //People's Daily// memuji polisi karena mengambil tindakan yang menentukan untuk  membubarkan para demonstran demi kelancaran lalu lintas.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA