Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Sunday, 5 Sya'ban 1441 / 29 March 2020

Sinar Laser Jadi Teknologi Baru Operasi Katarak

Sabtu 11 Oct 2014 19:10 WIB

Red: Indira Rezkisari

Sejumlah warga menunggu pembagian obat setelah menjalani operasi katarak massal di Rumah Sakit Arun NGL Lhokseumawe, Provinsi Aceh.

Sejumlah warga menunggu pembagian obat setelah menjalani operasi katarak massal di Rumah Sakit Arun NGL Lhokseumawe, Provinsi Aceh.

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rumah Sakit Jakarta Eye Center (JEC) di Kedoya, Jakarta, memperkenalkan teknologi terbaru operasi katarak yakni bladeless laser cataract surgery. Teknologi itu membuat operasi katarak tidak lagi menakutkan bagi pasien karena tidak menggunakan pisau bedah melainkan sinar laser.

“Ini merupakan standar internasional dengan penggunaan teknologi operasi katarak terkini dan satu-satunya di Indonesia. Operasi katarak jadi tidak menakutkan lagi dan lebih aman,” kata Direktur Medis Jakarta Eye Center @Kedoya dan ketua Bedah Refraktif Surgery Dr. Setiyo Budi Riyanto, SpM, di JEC, Jakarta, Sabtu (11/10).

Setiyo menjelaskan bladeless laser cataract surgery menggunakan sinar laser berbasis teknologi femtosecond yakni sinar infra merah yang memiliki kemampuan memotong sangat akurat dibandingkan dengan teknologi laser lainnya dengan tingkat panas yang sangat rendah.

Operasi tidak lagi manual menggunakan pisau sehingga operasi tidak lagi berdarah, tidak perlu dijahit, tidak diperban dan tidak perlu ada perawatan.

Proses operasi pun hanya memerlukan waktu sekitar 5-10 menit tanpa ada resiko infeksi pasca operasi.

“Kalau operasi manual disuntik tapi ini cukup tetes saja, lalu biasanya luka sehabis operasi manual itu besar sampai dijahit lima atau tujuh jahitan jadi harus perawatan dan kemungkinan infeksi tinggi. Tetapi dengan metode ini, luka kecil cukup 2 milimeter saja,” ujar Setiyo.

"Dulu kita pasti sering dengar operasi katarak bisa gagal. Namun dengan teknologi yang tinggi ini itu hampir sulit terjadi bahkan minim trauma. Operasi juga tidak lagi harus menunggu kataraknya matang,” tambahnya.

Dengan tingkat akurasi dan aman yang lebih tinggi ini, Setiyo pun berharap masyarakat tidak lagi takut untuk melakukan operasi katarak sehingga bisa menurunkan angka kebutaan di Indonesia.

Presiden Direktur JEC Korporat Dr. Darwan M. Purba, SpM, mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan urutan ketiga dari negara yang penduduknya menderita katarak di dunia. Di Asia Tenggara, Indonesia nomor satu.

Berdasarkan data The Fred Hollows Foundation, kasus kebutaan di Indonesia mencapai angka 3,6 juta dan 70 persen diantaranya disebabkan oleh katarak.

"Kondisi kesehatan mata di Indonesia yang masih memprihatinkan ini menjadi alasan JEC untuk terus memberikan edukasi tentang kesehatan mata dan melakukan operasi katarak gratis,” kata Darwan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA