Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Bara di Tanah Tandus

Selasa 07 Oct 2014 16:00 WIB

Red:

Oleh: Siwi Tri Puji B -- "Apa yang mereka lakukan sangat egois dan sama sekali tidak membuat mereka terlihat keren," kata Selena Lau, turis lokal asal Guangzhou yang tengah berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan di Hong Kong. Ia menyatakan hal itu saat sejumlah wartawan asing mewawancarainya mengenai aksi demonstrasi di bekas koloni Inggris itu, menuntut pemilihan langsung kepala pemerintahan tanpa campur tangan pusat.

Saat itu, para demonstran yang notabene mahasiswa memboikot perkuliahan. Pengunjuk rasa lainnya dari berbagai latar belakang bergabung kemudian dalam demonstrasi jalanan terbesar dalam satu dasawarsa ini. Mereka menyerukan reformasi demokrasi sejati di daerah semiotonom Cina ini. Polisi membubarkan mereka dengan gas air mata pada pekan lalu, tetapi mereka berkumpul kembali dan menyebar ke beberapa tempat lainnya.

Di mata Lau, demonstran Hong Kong adalah "anak manja". Ia mencatat bahwa di banyak bagian di dunia mereka tidak memiliki demokrasi dan bahwa Hong Kong memiliki lebih banyak kebebasan dari wilayah Cina lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto:time.com

"Orang-orang di Hong Kong sudah sangat beruntung dan mereka hanya harus bekerja keras untuk membuat kehidupan yang lebih baik untuk diri mereka sendiri," katanya.

Pandangan Lau mewakili pandangan sebagian besar warga Cina daratan. Umumnya, mereka memandang sinis warga kepulauan itu. Begitu juga sebaliknya.

Hong Kong dan daratan telah lama memiliki hubungan yang tidak nyaman. Penduduk bekas koloni Inggris melihat diri mereka sebagai sopan dan kosmopolitan, sementara warga daratan dianggapnya tak berpendidikan dan tidak sopan.

Ketika Cina mengambil alih Hong Kong pada 1997, dinegosiasikan "satu negara, dua sistem", pengaturan yang menjamin wilayah ini akan mempertahankan kebebasan sipil gaya Barat serta menjanjikan pemilihan umum pada akhirnya. Keputusan baru-baru oleh Beijing untuk memberlakukan proses penyaringan calon dalam pemilihan langsung pertama di wilayah itu pada 2017 dipandang banyak orang di Hong Kong sebagai mengingkari janji itu. Inilah yang mendorong protes.

Namun, jauh sebelum itu, isu-isu lain telah menyebabkan ketegangan dengan daratan. Bisnis dan perdagangan Cina disebut-sebut banyak diuntungkan sejak serah terima. Tapi, di sisi lain ada gemuruh ketidakpuasan tentang jumlah Cina daratan datang ke Hong Kong dan bersaing untuk sumber daya di kota kosmopolitan itu.

Sebut salah satunya adalah fenomena "wisata melahirkan". Kebijakan satu keluarga satu anak di Cina membuat banyak keluarga Cina hijrah ke Hong Kong begitu hamil anak kedua.

Bayi Cina daratan yang lahir di Hong Kong memiliki hak untuk tinggal dan bekerja di sana serta hak untuk paspor Hong Kong. Bertahun-tahun setelah serah terima wilayah dari Inggris ke Cina, terjadi peningkatan jumlah perempuan Cina yang melahirkan di wilayah itu.

Hampir setengah dari semua bayi yang lahir di Hong Kong pada 2010 adalah anak dari pasangan daratan, menurut angka pemerintah.

Setelah skandal keamanan makanan di Cina, yaitu ditemukannya zat berbahaya dalam susu formula bayi, banyak warga Cina daratan yang juga pergi ke Hong Kong untuk membeli susu formula secara massal karena dianggap lebih aman.

Pada gilirannya, kompetisi untuk tempat tidur rumah sakit, sumber daya medis, dan susu formula menyebabkan kemarahan di wilayah tahun lalu.

Keluarga asli Hong Kong juga memprotes kurangnya tempat di sekolah karena banyaknya keluarga Cina yang menyekolahkan anaknya di Hong Kong. Banyak anak melintasi perbatasan untuk bersekolah di kota yang hanya 30 menit penyeberangan dengan feri itu dari daratan.

Pada 2012 kemarahan publik memuncak dengan iklan satu halaman penuh di sebuah tabloid populer menyerukan penghentian "belalang" di Hong Kong mengacu pada warga Cina daratan.

Pemerintah Hong Kong sejak saat itu membatasi jumlah kelahiran warga Cina daratan. Selain itu, juga memberlakukan aturan pembatasan jumlah susu formula yang dapat dibawa ke daratan.

Di sisi lain, warga Hong Kong juga kerap tersinggung pada apa yang mereka lihat sebagai perilaku antisosial yang ditunjukan warga Cina daratan Cina yang mereka anggap sebagai perilaku tak beradab. Misalnya saja, pengguna situs jejaring sosial Hong Kong meradang saat beberapa tahun lalu muncul rekaman tentang bagaimana warga Cina daratan dengan santai makan di ketera bawah tanah atau meledek berkelahi komuter lokal yang memicu kemarahan publik.

Salah satu insiden terbaru terjadi pada April ketika warga Cina daratan membiarkan balita mereka buang air kecil di jalan yang sibuk, sehingga bertengkar dengan warga Hong Kong yang lewat.

Hong Kong yang dikenal sebagai surga pembelanja dengan tidak ada pajak penjualan juga menjadi salah satu tujuan wisata belanja warga daratan. Beberapa warga Hong Kong percaya bahwa mereka ini mendapatkan perlakuan khusus dan ada nada kebencian tentang kekayaan mereka.

Diakui atau tidak, antipati terhadap daratan turut menyebabkan demonstrasi kali ini lebih besar dari demonstrasi sebelumnya, dari sisi jumlah mengikut. Tapi, Chan Kin-man, salah satu pendiri dari Occupy Central, buru-buru mengingatkan. Ia mengatakan di depan ribuan pengunjuk rasa bahwa "yang kita lawan adalah daratanisasi, bukan orang-orang dari daratan."

Menurut Regina Ip, legislator dan ketua Partai Rakyat Baru, naik turunnya sentimen antidaratan berakar pada kegagalan Hong Kong untuk mengembangkan ekonomi kompetitif. Akibatnya, muncul distorsi dan ketidakseimbangan dalam ekonomi lokal.

Demonstrasi dengan napas antidaratan pernah muncul sebelumnya dalam bentuk unjuk rasa terhadap sistem pendidikan nasional atau panggilan untuk "membela nilai-nilai inti Hong Kong".

Ketimbang menyalahkan pada kebijakan yang cenderung pro-Cina dari Chief Executive Leung Chun-ying atau dugaan intervensi oleh pejabat daratan, Ip berpendapat bahwa sentimen antidaratan adalah hasil langsung dari salah urus Hong Kong dari hubungan antara daratan Hong Kong dalam satu dekade terakhir. "Paling utama adalah di bidang ekonomi," katanya.

Ia mengajak untuk kembali menengok perubahan kebijakan pada 2003 setelah wabah sindrom pernapasan akut (SARS) yang menghancurkan perekonomian Hong Kong. Pihak berwenang saat itu memutuskan untuk mencari perbaikan cepat dengan mengangkat kontrol sampai sekarang ketat di daratan pengunjung ke Hong Kong. Masuknya wisatawan lokal dari daratan tak hanya membuat keajaiban bagi bisnis ritel Hong Kong, tetapi juga menciptakan distorsi besar-besaran dan ketidakseimbangan dalam ekonomi lokal. "Meningkatnya wisatawan menaikkan permintaan yang tak semuanya bisa dipenuhi oleh sumber daya lokal dan dalam proses menghasilkan sebuah kebencian," katanya.

Orang Hong Kong seperti bangun dengan kenyataan bahwa ledakan permintaan telah pengecer dengan merek ternama dari luar negeri untuk membuka banyak gerai, menaikkan harga sewa dan harga properti, serta pada gilirannya membuat bisnis lokal tersingkir. Hal ini semakin memperparah kesenjangan kekayaan dan memicu antipati lokal terhadap pengunjung kaya dari daratan.

Mereka tiba-tiba menemukan orang-orang kaya daratan menguasai pusat kota dan segala fasilitasnya dan menyingkirkan warga asli Hong Kong ke pinggiran. "Yang tak terjawab hingga saat ini adalah perbaikan cepat dan strategi jangka panjang untuk melakukan restrukturisasi perekonomian kita agar dapat menciptakan nilai lebih dan karenanya memungkinkan orang untuk menikmati standar hidup yang lebih tinggi," katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA