Friday, 13 Syawwal 1441 / 05 June 2020

Friday, 13 Syawwal 1441 / 05 June 2020

Bakal Jadi Tiananmen Jilid II?

Selasa 07 Oct 2014 16:00 WIB

Red:

Oleh: Siwi Tri Puji B -- Banyak kalangan menyebut aksi protes di Hong Kong merupakan tantangan politik terbesar Cina sejak aksi massa prodemokrasi di Lapangan Tiananmen pada 1989. Saat itu, aksi mahasiswa selama tujuh pekan di Beijing diakhiri dengan serangan  militer yang menelan korban jiwa.

Bahkan, banyak yang menyebut gerakan berjuluk Revolusi Payung ini merupakan reinkarnasi gerakan massa 25 tahun lalu, sama-sama menuntut demokrasi dari Beijing. Sama seperti yang saat ini tengah dipertontonkan massa pro-demokrasi di Hong Kong kala itu puluhan ribu demonstran menduduki jalan-jalan ibu kota Cina, seolah menantang langsung otoritas suci Partai Komunis China.

Kedua gerakan sama-sama dimotori mahasiswa yang  kemudian menarik simpati luas warga. Apalagi, demonstran menunjukkan sikap-sikap yang jauh dari beringas, ada kegembiraan di sela amarah dengan campuran ketenangan, kesopanan, dan ketabahan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto:buzzfeed

Mahasiswa dari perguruan tinggi lokal berbaris ke Lapangan Tiananmen, Beijing, untuk menunjukkan reformasi pemerintah pada 1989. Puluhan ribu mahasiswa bergabung dalam protes di ibu kota Cina itu.

Di Hong Kong, 25 tahun kemudian, para pengunjuk rasa menghidupkan senter ponsel mereka saat memblokir daerah di luar gedung kantor pusat pemerintahan di Hong Kong pada 1 Oktober 2014. Seperti halnya di Beijing 1989, para pengunjuk  rasa Hong Kong menemukan sebagian orang yang lewat bersikap ramah dan mendukung. Warga memberikan mereka makanan dan air minum. Yang lain memutuskan untuk turut bersama mereka.

Wartawan di Beijing pada 1989 kagum melihat fungsionaris partai yang biasanya berwajah masam tiba-tiba berubah menjadi ramah terhadap demonstran. Hal yang dibaca saat itu sebagai mereka yang selama ini menyokong rezim komunis pun sebenarnya merindukan perubahan.

Situs berita BBC melihat ada dua kemiripan utama dalam dua gerakan ini, yaitu sama-sama mengedepankan aksi nonkekerasan dan tidak ada penggunaan senjata di luar masker gas. Hal lain yang juga sama, Beijing sama sekali tak suka dengan dua gerakan ini. Kalimat resmi yang digunakan oleh Pemerintah Cina untuk gerakan ini sama seperti 25 tahun lalu, "merugikan stabilitas social" dan "gerakan dihasut oleh kekuatan asing yang memusuhi Cina".

Namun, tampaknya terlalu sembrono untuk meramalkan demonstrasi di Hong Kong akan berakhir sama seperti kejadian di Lapangan Tiananmen. Bagaimanapun, ada perbedaan besar dalam keadaan antara sekarang dan 25 tahun yang lalu. Tiananmen adalah jantung suci dari negara komunis dan aksi demonstrasi saat itu bak pukulan di wajah Partai Komunis Cina. Hong Kong, bagaimanapun, berada di pinggiran selatan Cina, sebuah wilayah yang jauh jauh dari ibu kota. Partai bahkan tidak beroperasi secara terbuka di Hong Kong. Dan, yang mereka tuntut adalah demokrasi lokal, bukan perubahan politik di seluruh Cina.

Media lokal yang notabene dikontrol penuh oleh Pemerintah Cina juga lebih dingin menanggapi aksi massa di Hong Kong. Dalam satu edisinya, People’s Daily di halaman depan mengecam protes itu sebagai "penodaan demokrasi dan supremasi hukum" di Hong Kong, kurang panas dibandingkan peringatan media yang dikenal sebagai corong Partai ini menjelang Tragedi Tiananmen. Saat itu, mereka menulis ulah para mahasiswa di Tiananmen itu menyasar pucuk pimpinan partai dan membawa negara ke arah kekacauan.

Selain itu, administrasi Hong Kong masih beroperasi di bawah prinsip "Satu Negara, Dua Sistem" di mana Cina memperlakukan Hong Kong dengan aturan dan metode yang berbeda. Di Hong Kong, partai dapat bersikap lebih lunak; menahan diri; dan tidak antam kromo, seperti di tempat lain di Cina.

Di sisi lain, Beijing memahami konsekuensi berat dari setiap tindakan keras. Sebuah korban saja jatuh akan langsung menurunkan kepercayaan investor di Hong Kong yang tetap menjadi tujuan badan usaha milik negara Cina untuk mencari modal internasional. Mereka jelas mempertimbangkan investor yang bakal lari jika mereka tak cantik menangani aksi unjuk rasa di Hong Kong.

Pendek kata, menggilas 'Umbrella Man' dengan tank jelas bukan pilihan Cina saat ini. Kondisi telah berubah, kendati situasi politik di Cina daratan tak banyak berubah sejak 1989.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA