Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Lini Masa Hong Kong

Selasa 07 Oct 2014 16:00 WIB

Red:

1842 - Cina menyerahkan Pulau Hong Kong pada Inggris setelah Perang Opium Pertama. Selama beberapa dekade, ribuan migran Cina melarikan diri dari pergolakan domestik dan menetap di koloni ini.

1898 - Cina menyewakan wilayah yang dinamakan New Territories itu bersama dengan 235 pulau lainnya pada Inggris selama 99 tahun dari 1 Juli.

1937 - Dengan pecahnya Perang Sino-Jepang, Hong Kong menjadi tempat perlindungan bagi ribuan warga Cina daratan yang melarikan diri sebelum Jepang maju.

1941 - Jepang menempati Hong Kong. Kekurangan pangan mendorong banyak warga mengungsi ke Cina daratan. Populasi Hong Kong dengan cepat menyusut dari 1,6 juta pada 1941 menjadi 650 ribu pada akhir Perang Dunia Kedua.

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto:mashable.com

1946 - Inggris kembali membangun pemerintahan sipil. Ratusan ribu warga kembali ke koloni itu berbarengan dengan para pengungsi yang melarikan diri dari perang saudara antara kaum nasionalis dan komunis di Cina.

1950 - Hong Kong menikmati kebangkitan ekonomi dengan bertumpu pada sektor industri ringan, seperti tekstil.

1960 - Mulai muncul ketidakpuasan sosial dan perselisihan perburuhan. Marak di kalangan tenaga kerja yang memperoleh upah rendah.

1967 - Kerusuhan parah pecah, terutama dihasut oleh pengikut Revolusi Kebudayaan Cina.

1960-an - Kondisi kehidupan sosial meningkatkan dan kerusuhan mereda.

1970 - Hong Kong didapuk sebagai Macan Asia—salah satu kekuatan ekonomi di kawasan itu—dengan ekonomi berkembang yang berbasis pada industri teknologi tinggi.

1982 - Inggris dan Cina memulai pembicaraan tentang masa depan Hong Kong.

1984 - Inggris dan Cina menandatangani Deklarasi Bersama di mana Hong Kong akan kembali ke pemerintahan Cina pada 1997. Di bawah formula "satu negara, dua sistem", Hong Kong akan menjadi bagian dari negara komunis, tetapi tetap mempertahankan sistem ekonomi kapitalis dan sistem politik demokratis selama 50 tahun setelah serah terima.

1989 - Pembantaian atas demonstran pro-demokrasi di Lapangan Tiananmen Beijing membuat warga Hong Kong waspada tentang perlunya mempertahankan demokrasi di bekas koloni Inggris itu.

1990 - Beijing secara resmi meratifikasi konstitusi dan UUD Hong Kong pascapenyerahan.

1992 April - Chris Patten menjadi gubernur Inggris terakhir dari Hong Kong dengan tugas utama mengawal penyerahan koloni ke Cina.

1992 Oktober - Chris Patten mengumumkan proposal untuk reformasi lembaga demokrasi Hong Kong yang bertujuan memperluas basis pemungutan suara dalam pemilihan umum. Cina marah karena merasa Patten belum berkonsultasi dan mengancam untuk merobek kontrak bisnis dan membatalkan reformasi setelah pengambilalihan.

1992 Desember - Pasar saham Hong Kong jatuh.

1994 Juni - Setelah hampir dua tahun perselisihan, legislatif Hong Kong memperkenalkan versi baru dari paket reformasi demokrasi Chris Patten.

1995 - Pemilu diselenggarakan untuk memilih anggota DPRD yang baru.

1997 Juli - Hong Kong diserahkan kembali kepada Cina setelah lebih dari 150 tahun di bawah kontrol Inggris. Tung Chee-hwa, pria asal Shanghai yang juga mantan taipan perusahaan ekspedisi dan tanpa pengalaman politik dipilih oleh Beijing untuk memerintah wilayah itu pascapengambilalihan.

1998 Mei - pemilu pascapenyerahan pertama diadakan.

2001 Februari - Deputy Chief Executive Anson Chan yang merupakan mantan wakil Chris Patten dan salah satu tokoh utama dalam pemerintahan Hong Kong yang menentang campur tangan Cina di wilayah itu mengundurkan diri di bawah tekanan dari Beijing dan digantikan oleh Donald Tsang.

2002 Juni - Pengadilan mengadili 16 anggota gerakan spiritual Falun Gong yang ditangkap selama protes di luar kantor penghubung Beijing di wilayah itu. Falun Gong tetap legal di Hong Kong meskipun dilarang di daratan Cina sejak 1999 dan sidang dipandang sebagai ujian bagi Beijing dalam menjamin kebebasan berpendapat di Hong Kong setelah serah terima. Keenam belas orang itu dinyatakan bersalah, menyebabkan obstruksi publik.

2002 September - Proposal Tung Chee-hwa mengenai undang-undang antisubversi baru yang kontroversial yang dikenal sebagai Pasal 23 disahkan.

2003 Maret-April - Wabah infeksi saluran pernafasan akut (SARS) menyebar di Hong Kong. Tindakan karantina yang ketat diberlakukan untuk menghentikan penyebaran penyakit. Hong Kong dinyatakan bebas dari SARS pada Juni.

2003 Juni - Sehari setelah kunjungan ke wilayah itu oleh Perdana Menteri Cina Wen Jiabao, 500 orang berdemonstrasi menentang Pasal 23. Dua anggota pemerintah Hong Kong mengundurkan diri. RUU dipetieskan tanpa batas waktu.

2004 April - Aturan dibuat Beijing Cina yang memberikan hak untuk memveto setiap gerakan ke arah demokrasi, seperti pemilihan langsung untuk kepala eksekutif di wilayah itu.

2004 Juli - Sekitar 200 ribu orang memperingati tujuh tahun penyerahan Hong Kong ke pemerintahan Cina dengan mengambil bagian dalam demonstrasi memprotes keputusan Beijing terhadap pemilihan kepala eksekutif berikutnya dengan hak pilih universal.
Inggris menuduh Cina mengganggu dalam proses reformasi konstitusi Hong Kong dengan cara yang tidak sesuai dengan jaminan yang telah disepakati sebelum serah terima.

2004 September - pihak Pro-Beijing mempertahankan dominasi mereka dalam pemilihan yang dilihat sebagai referendum Hong Kong untuk demokrasi yang lebih luas. Kelompok hak asasi manusia menuduh Beijing menciptakan "iklim ketakutan" yang bertujuan untuk memengaruhi hasilnya.

2004 Desember - Presiden Cina Hu Jintao memberikan teguran publik untuk Tung Chee-hwa, mengatakan kepadanya untuk meningkatkan kinerja pemerintahannya.

2005 Maret - Di tengah kritikan kepada pemerintahannya, Tung Chee-hwa mengundurkan diri dengan alasan kesehatan. Dia digantikan pada Juni oleh Donald Tsang.

2005 Mei - Pengadilan tertinggi Hong Kong menjungkirbalikkan keyakinan delapan anggota Falun Gong yang dinyatakan bersalah menyebabkan obstruksi di wilayah itu pada 2002.

2005 Juni - Puluhan ribu orang memperingati ulang tahun ke-16 Tragedi Tiananmen. Hong Kong adalah satu-satunya bagian dari Cina yang memperingati peristiwa itu.

2005 September - anggota prodemokrasi di parlemen (Legco atau Legislative Council) membuat kunjungan tak terduga ke Cina daratan. Sebanyak 11 anggota kelompok prodemokrasi sebelumnya dilarang untuk berkunjung ke daratan selama 16 tahun.

2005 Desember - legislator prodemokrasi memblokir rencana Tsang untuk reformasi konstitusional terbatas. Tsang mengatakan, rencananya yang akan mengubah proses pemilihan tanpa memperkenalkan hak pilih universal hanya akan terwujud jika Beijing mengizinkan.

2006 Maret - Paus Benediktus XVI mengangkat Uskup Joseph Zen, pemimpin 300 ribu umat Katolik Hong Kong dan pendukung vokal kelompok prodemokrasi, sebagai kardinal. Cina memperingatkan Kardinal Zen untuk tetap berada di luar koridor politik.

2006 Juli - Puluhan ribu orang berdemonstrasi mendukung demokrasi penuh.

2007 Januari - Aturan baru yang bertujuan untuk membatasi jumlah ibu hamil membuat warga Cina daratan datang ke Hong Kong untuk melahirkan. Banyak yang mendapatkan hak tinggal di Hong Kong untuk anak-anak mereka demi menghindari kebijakan satu anak di Cina.

2007 April - Chief Executive Donald Tsang ditunjuk untuk masa jabatan lima tahun setelah memenangkan pemilihan pada Maret.

2007 Juli - Hong Kong menandai peringatan 10 tahun penyerahan ke Cina. Pemerintah baru di bawah Chief Executive Donald Tsang dilantik. Rencana untuk demokrasi penuh diresmikan.

2007 Desember - Beijing mengatakan, akan memungkinkan orang-orang Hong Kong untuk langsung memilih pemimpin mereka sendiri pada 2017 dan anggota legislatif mereka pada 2020. Tetapi, aktivis prodemokrasi mengungkapkan kekecewaan pada skala waktu yang berlarut-larut.

2008 September - Kubu prodemokrasi Hong Kong memenangkan lebih dari sepertiga kursi di pemilu legislatif, mempertahankan veto kunci atas RUU di masa depan.

2009 Juni - Puluhan ribu orang menghadiri peringatan 20 tahun tragedi pembantaian di Lapangan Tiananmen. Lagi-lagi, Hong Kong adalah satu-satunya wilayah di Cina yang menggelar peringatan itu.

2009 Desember - Otoritas Hong Kong mengungkap proposal untuk reformasi politik dalam menanggapi tekanan untuk demokrasi yang lebih besar, termasuk Dewan Legislatif yang diperluas. Tapi, kritikus menilai, langkah itu saja tak cukup.

2010 Mei - Lima anggota parlemen dari kubu oposisi dikembalikan ke tempat duduk mereka. Partai Demokrat Oposisi secara tradisional bermusuhan dengan Beijing mengadakan pembicaraan pertama dengan pejabat Cina sejak serah terima.

2012 Juli - Leung Chun-ying menjabat sebagai chief executive, menggantikan Donald Tsang yang digoyang kontroversi atas kaitannya dengan pengusaha kaya.

2012 September - pihak prodemokrasi mempertahankan kekuasaan dengan memveto undang-undang baru dalam pemilihan Dewan Legislatif, tetapi kinerja mereka tak sesuai harapan.

2013 Juni - Ratusan orang berdemonstrasi mendukung whistleblower Edward Snowden yang melarikan diri ke Hong Kong setelah mengekspos rahasia program pengawasan AS.

2014
10 Juni: Beijing mengeluarkan "White Paper" pada Hong Kong yang menurut pegiat demokrasi, menunjukkan bahwa kebebasan di kota ini dapat dicabut sewaktu-waktu.

30 Juni: Hasil referendum tidak resmi yang diselenggarakan oleh kelompok protes Occupy Central menunjukkan bahwa hampir 800 ribu suara diberikan dalam mendukung kebebasan demokratis lebih besar. Beijing mengutuk pemungutan suara itu sebagai ilegal.

2014 Juli - Puluhan ribu pengunjuk rasa mengambil bagian dalam unjuk rasa yang disebut-sebut sebagai yang terbesar di Hong Kong dalam satu dekade ini.

2014
Awal Agustus - Pemerintah Cina mengesampingkan pemilihan langsung pemimpin Hong Kong pada tahun 2017, dengan memberlakukan aturan ketat pada nominasi calon yang ingin maju dalam jajak pendapat.

18 Agustus: Puluhan ribu orang dengan melambaikan bendera Cina melakukan demonstrasi tandingan.

31 Agustus: Cina bersikeras tentang haknya untuk memilih calon pimpinan Hong Kong pada 2017 melalui komite pencalonan. Sebagai tanggapan, kelompok prodemokrasi menggelar aksi "era pembangkangan sipil", termasuk aksi duduk di pusat kota.


2014
September - demonstran prodemokrasi menempati kota selama beberapa hari dalam protes terhadap keputusan pemerintah pusat untuk membatasi pilihan pemilih dalam pemilihan pemimpin mereka pada 2017.

22 September: mahasiswa Universitas memulai boikot kuliah selama seminggu untuk memprotes penolakan Beijing untuk memberikan hak pilih universal penuh.

26 September: Sekitar 150 pengunjuk rasa menyerbu kantor pusat pemerintahan dan menempati halaman kompleks itu. Polisi menggunakan semprotan gas air mata mengusir mereka. Para pengunjuk rasa menggunakan payung yang kemudian dijadikan lambang gerakan mereka untuk melindungi diri.

28 September: demonstran memblokir jalan utama dekat markas pemerintah. Pada sore hari, polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan para demonstran. Jumlah demonstran justru bertambah setelah warga marah atas tindakan polisi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA