Saturday, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 January 2020

Saturday, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 January 2020

jalan-jalan

Kota Kipas Karlsruhe

Selasa 07 Oct 2014 12:00 WIB

Red:

Karlsruhe, kota dengan jutaan sepeda. Begitu keluar dari Karlsruhe Hauptbahnhoff (Hbf), terdapat Karlsruher Fahrradstation, sebuah tempat penitipan sepeda. Ribuan sepeda dari berbagai jenis diparkir di situ. Saking banyaknya, saya sempat melihat seorang bapak bingung mencari sepedanya yang sempat diparkir di situ.

Transportasi di Karlsruhe tertata, mudah, dan nyaman. Yang istimewa, penemu sepeda roda dua yang banyak dipakai oleh seluruh orang di seluruh dunia berasal dari Karlsruhe. Ia bernama Karl Drais. Namun sayang, ketika berkunjung di Karlsruhe, saya tidak sempat merasakan menggowes sepeda. Bersama teman saya, Stenick dan Amanda, kami lebih memilih naik bus dan trem untuk mengunjungi sejumlah objek wisata. Padahal, jika waktu mencukupi, tentu saya ingin sekali berkeliling kota dengan sepeda. Harap maklum, saat masih bekerja di salah satu stasiun televisi swasta, saya biasa menggowes sepeda. Bike to work, istilahnya.
 

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto-foto:Brillianto K Jaya

Kota Kipas
Karlsruhe terletak di Jerman Selatan, tepatnya negara bagian Baden-Württemberg yang ibu ko ta provinsinya Stuttgart. Karlsruhe berbatasan lang sung dengan dua negara besar, yakni Prancis dan Swiss. Kota ini berada di dataran rendah Ober rhein, di antara dua sungai kecil: Alb dan Rhein. Di bagian timurnya berbatasan dengan Schwarzwald atau bahasa Indonesia-nya Hutan Hitam dan Kraichgau.

Sejarah terbentuknya Karlsruhe dimulai dari mimpi bangsawan Karl III Wilhelm dari Baden- Durlach. Dalam suatu tidur di Hardtwald (hutan dekat Durlach) saat sedang berburu, ia me mimpikan sebuah istana megah yang berbentuk seperti matahari sebagai pusat kotanya. Pancaran sinar mataharinya merupakan jalan-jalan yang menyebar ke kota-kota. Mimpi ini kemudian digambarkan olehnya di atas selembar kertas.

Kertas berisi gambar tersebut direalisasikan seorang arsitek klasik bernama Friedrich Weinbrenner. Weinbrenner adalah arsitek berpengaruh untuk perkembangan Kota Karlsruhe pada awal abad ke-19. Banyak karyanya yang masih ditemukan di pusat kota saat ini. Marktplatz, misalnya.

Lokasi ini dibuat sebagai tempat berkumpulnya para pedagang. Dahulu, ini kawasan pasar, tetapi sekarang berupa pertokoan dan kafe dan restoran. Karya Weinbrenner lain adalah gereja kota yang dibuat pada 1807-1815 dan balai kota (1821-1825). Gereja St Stephan yang dibangun an tara 1808 dan 1814 bukan hanya salah satu gereja karya Weinbrenner, melainkan juga salah satu gereja klasik berkubah yang termasyhur di Jerman Selatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada 17 Juni 1715 nama Karlsruhe baru mun cul. Hal ini ditandai dengan peletakan batu pertama di Istana Karlsruhe. Jalan-jalan yang berbentuk sinar matahari tersebut masih bisa dilihat sampai sekarang dari peta kotanya. Sementara, istananya yang digambarkan sebagai matahari terletak di tengah dari sebuah lingkaran. Oleh karena itulah, Karlsruhe dikenal sebagai Fächerstadt atau "Kota Kipas".

"Kalau Mas lihat, mirip kipas, kan?" ujar Amanda, salah seorang mahasiswa yang sempat menemani saya selama di Karlsruhe, menunjukkan peta istana dan sekitarnya yang ada di dekat lokasi.

Konsep "Kota Kipas" juga berarti "Kota Terbuka". Sebagai bangsawan, Karl III Wilhelm ingin membangun satu kota dengan masyarakat majemuk, tetapi tetap modern. Semua orang boleh tinggal dan hidup. Hal ini sangat berlawanan dengan kota asalnya, yakni Residenz Durlach. Impian Karl-Wilhelm ini dirangkum dalam sebuah dokumen historis bernama "Privilegienbrief". Dokumen ini berisi gambaran tentang masyarakat dalam bernegara dan menjalankan kebebasan pribadi, kebebasan ekonomis, maupun kesetaraan dalam hukum dan politik.

Setelah Perang Dunia II, sebagian gedung di Karlsruhe hancur. Pada 1970 pemerintah mero boh kan rumah-rumah kecil dan kemudian digantikan dengan bangunan besar dari beton. Pada 1980-an, di Kriegsstraße dibangun jalan dengan multijalur yang secara berangsur-angsur dijadikan area pedestrian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah Karlsruhe ditinggalkan tentara Amerika dan Prancis sekitar 1990, terjadi beberapa perubahan desain kotanya. Di pusat kota dibangun lagi beberapa kompleks perumahan baru, termasuk bagian tenggara kota yang dulunya stasiun barang dan di bagian utara yang dulunya tempat permukiman Amerika.

Di bagian barat laut kota, yang dulunya kompleks pabrik senjata kemudian dibangun satu kom pleks bioskop, instansi pemerintah untuk tenaga kerja, kejaksaan negara, museum Zentrum fur Kunst und Medientechnologie Karlsruhe (ZKM), dan Universitas Seni dan Desain Karlsruhe. Lalu, pusat perbelanjaan Karlsruhe yang dulunya berpusat pada Kaiserstraße semakin meluas sejak dibukanya pusat perbelanjaan di Ettlinger Tor pada musim gugur 2005. Di pusat perbelanjaan ini terdapat 130 toko.

Selain pabrik senjata, ada pabrik percetakan uang logam yang sudah berdiri sejak 1827. Karlsruhe adalah satu dari lima pabrik pencetak uang logam euro di Jerman. Uang logam yang dicetak di Karlsruhe memiliki tanda khusus, yaitu tertera huruf "G".

Kampus Penemu Mercy

Sebagian besar jumlah penduduk Karlsruhe adalah pelajar. Seperti bebe rapa kota lain di Jerman, Karlsruhe memang dikenal juga sebagai kota pelajar. Itulah mengapa saya berkenalan dengan Amanda dan Steinick. Oleh karena dua teman baru saya ini masih berstatus pelajar, saat makan siang saya mencoba menggali tentang sistem perkuliahan di Jerman, khususnya di Karlsruhe dari mereka.

Tempat kuliah Steinick dan Amanda sendiri, yakni KIT, dikenal sebagai kampus yang paling susah di Jerman. Bahkan, untuk beberapa jurusan, KIT termasuk yang terbaik, tepatnya Top 10 Universitas di Jerman. Pada Oktober 2006 kampus ini terpilih sebagai universitas elite di Jerman di samping Universitas Teknik München dan Universitas Ludwig Maximilians. Secara keseluruhan universitas di seluruh dunia, KIT masuk di peringkat ke-127. Saya sempat mengunjungi kampus KIT.

Sejak awal, Amanda memang hendak kuliah di Jerman karena negeri ini dikenal bagus untuk berguru masalah teknik. Selain alasan itu, kebetulan paman Amanda ada yang tinggal di Hamburg. "Selain karena teknik, kebetulan saya juga suka negara Jerman," ungkap Amanda.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berbeda dengan Amanda, Steinick ingin kuliah di kampus yang bayarannya murah, tetapi reputasinya kelas internasional. Walhasil, pria ini kepincut kuliah di Jerman dan akhirnya masuk KIT. Kini, ia tercatat sebagai mahasiswa semester V Fakultas Business Engineering and Administration KIT.

Sudah sejak dahulu KIT dikenal sebagai kampus inovasi di Jerman. Banyak orang terkenal dan penemu besar sempat kuliah di sini. Carl Benz, misalnya. Pria ini dikenal sebagai pendiri perusahaan mobil Mercedes Benz. "Nah, itu dia Benz," ujar Amanda, begitu melihat prasasti yang ada kepala Carl Benz.

Rupanya, Amanda baru melihat ada patung Benz di kampus KIT ini. Padahal, saya perhatikan, prasasti tersebut sudah berdiri sejak 3 Desember 2007. Benz sendiri lahir di Muhlburg, Karlsruhe, pada 25 November 1844. Insinyur otomobil ini dikenal sebagai salah satu pencipta otomobil berbahan bakar bensin. Ia juga putra seorang masinis.

Selain Benz, tokoh terkenal lain adalah Heinrich Rudolf Hertz. Pria ini dikenal sebagai penemu frekuensi dan lain sebagainya. Namanya diabadikan sebagai satuan frekuensi, yakni Hertz. Selain di KIT, fisikawan ini sebenarnya juga sempat menuntut ilmu di University of Kiel, University of Bonn, University of Munich, dan University of Berlin.

Schloß Karlsruher dan Bundesverfaßungsgericht

Begitu turun dari trem, lokasi yang saya jelajahi bersama Steinick dan Amanda adalah Schloß Karlsruher atau Istana Karlsruhe. Schloß Karlsru her ini berlokasi di jalan Schloßbezirk, Innenstadt-West. Untuk menuju Istana Karlsruhe, kami naik trem. Halte trem jurusan Marktpaltz yang lokasinya persis di seberang Karlsruhe Hbf.

Schloss Karlsruher didirikan pada 1715 oleh Margrave Charles III William of Baden-Durlach. Lokasi istana tepat di tengah-tengah kota. Menara istananya dikelilingi oleh taman istana.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Schloß Karlsruher dilingkari sebuah jalan yang dinamakan Zirkel atau bahasa Indonesianya lingkaran. Dahulu, seluruh bangunan kota hanya boleh dibangun di sisi luar dari jalan Zirkel ini. Seluruh bangunan di sekitar istana dipantau secara saksama, khususnya yang berhubungan dengan ketinggian gedung. Sebab, hal ini akan meme ngaruhi keseluruhan kesan kota.

Awalnya, sebagian Schloß Karlsruher terbuat dari kayu. Tapi, pada 1746 istana harus dibangun kembali di masa Charles Frederick, Margrave von Baden-Durlach dengan meng gunakan batu. Pada 1770 masa Charles Frederick, Grand Duke of Baden istana diubah lagi. Arsiteknya Bal thasar Neumann dan Friedrich von Kesslau. Ia menambahkan jendela yang lebih besar dan pintu, paviliun, dan sayap. Lalu, pada 1785 Wilhelm Müller Jeremias menambahkan kubah di Schloß Karlsruher.

Selama revolusi pada 1848, Leopold Grand Duke of Baden yang tinggal di istana diusir untuk beberapa waktu. Pada 1918 istana dikuasai raja terakhir Frederick II Grand Duke of Baden harus pindah.

Setelah puas melihat Schloss Karlsruher, kami berge rak ke gedung Bundesverfassungsgericht atau Mahkamah Kon stitusi (MK). Bundesverfassungsgericht adalah institusi yang bertugas menjaga konstitusi atau Undang-Undang Dasar (UUD) di Republik Federal Jerman. Institusi ini punya peran ganda, baik sebagai badan konstitusional independen dan juga menjadi peradilan di bidang hukum konstitusi dan internasional.

Di Jerman, Karlsruhe juga dikenal sebagai daerah resi den hukum. Ini dimulai pada 1950, saat pengadilan tertinggi negeri di Jerman dibangun di Karlsruhe. Kemudian, pada 28 September 1951 barulah Bundesverfassungsgericht ini.

Gedung Bundesverfassungsgericht terletak di Schloss bezirk. Bangunan utama yang terkenal dengan gaya mo dern dirancang arsitek Paul Baumgarten pada 1965 dan selesai pada 1969. Kata Steinick dan Amanda, jika cuaca di Karlsruhe hangat, di sekitar gedung ini dipenuhi oleh bunga-bunga mungil. Jika kita melihat dari jauh, seolah tanah yang berada di bawah pepohonan itu ditutupi bunga-bunga. Namun sayang, saat ke Karlsruhe, cuaca di Karl sruhe dingin, sehingga saya tak sempat menyaksikan keindahan itu.
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oasis Hijau Ala Istana Bogor
Sebuah taman cantik langsung membuat mata saya berbinar-binar. Taman cantik ini bernama Botanischer Garten atau Taman Botani. Tempat ini semacam kebun rayanya Bogor yang ada di Karlsruhe. Meski tidak seluas Kebun Raya Bogor, Botanischer Garten ini dahulu merupakan sebuah taman di tepi kebun barat istana Karlsruhe.

Taman ini seperti "oasis hijau" di tengah-tengah bekas ibu kota kerajaan Baden. Ia juga merupakan salah satu monumen nasional dan dikelola oleh Istana Negara dan Garders of Baden-Wurttemberg.

Begitu memasuki Botanischer Garten ini, Anda akan dibawa sejenak melupakan keramaian dan hiruk pikuk kota besar. Betapa tidak, pepohonan besar seolah melindungi kita, rumput hijau bagai permadani alam yang memanjakan mata kita, dan tentu saja bunga-bunga yang cantik. Begitu eksotik.

Sejarah Botanischer Garten ini tak lepas dari nama Charles III William, Margrave Karl Wilhelm von Baden-Durlach (1679-1738). Ia ingin memiliki kebun indah. Oleh karena itu, Karl Christian Gmelin merancang sebuah taman. Dan, pada 1853 dan 1857 arsitek Heinrich Hubsch kembali menciptakan tiga rumah taman lagi, yakni rumah kaca atau Orangeries yang megah, lalu taman dengan bunga-bunga, kandang burung, serta gua-gua di antara dua sayap kastil.

Ketika Perang Dunia ke-II, bangunan rusak. Sebagian lagi hancur. Pada 1952 Botanischer Garten dibangun kembali. Pembangunan baru rampung empat tahun kemudian.

Botanischer Garten ini buka setiap Selasa sampai Jumat pukul 10.00-16.45. Senin, Sabtu, Ahad, dan hari besar tutup. Untuk masuk ke dalam lokasi yang terletak di Hans- Thoma Strasse 6 ini, Anda dikenakan biaya sebesar dua euro per orang. Sementara, jika datang sekeluarga, Anda hanya akan dikenakan biaya lima euro. Biaya yang dipungut ini kabarnya untuk biaya perawatan beberapa pohon langka dari abad ke-19.

Pasar Kaget di Gütenberg

Lokasi lain yang juga patut Anda jelajahi adalah di bagian barat Karlsruhe. Di sini ada satu tempat yang disebut Gütenberg. Gütenberg adalah sebuah lapangan cukup luas yang diapit empat jalan kecil. Di sekeliling lapangan ini terdapat sejumlah restoran, kafe, maupun toko-toko yang bisa memanjakan mata Anda.

Pada hari-hari biasa, sebagian besar lapangan ini dipakai untuk tempat memarkir mobil. Tapi setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu pagi, Gütenberg digunakan sebagai pasar kaget. Di sini para pedangan menjual bahan-bahan makanan segar.

Terdapat dua air mancur di salah satu sisi Gütenberg. Dua air mancur ini dinamakan Kol dan Pelikan. Di sekitar lapangan, kita bisa duduk-duduk sembil menyeruput kopi atau teh. Bisa pula sambil breakfast campur lunch alias brunch.

Lokasi Gütenburg sangat populer, terutama jika cuaca Karlsruhe sudah mulai hangat. Saking populernya, kadang-kadang kita harus booking satu sampai dua minggu di kafe atau restoran tersebut, sebelum nongkrong supaya bisa mendapat meja. Harga makanan yang paling murah di sini berkisar lima euro.

Bagaimana Mencapai Karlsruhe?

* Karlsruhe terletak di posisi yang optimal dari tiga bandara udara internasional, yakni 135 km dari Bandar Udara Frankfurt am Main, 80 km dari Bandar Udara Stuttgart, dan 85 km dari Airport Strasbourg, Prancis. Jadi, Anda bisa pergi ke Karlsruhe melalui tiga bandara tersebut.

* Selain melalui airport Frankfurt, Stuttgart, Anda bisa melalui Baden-Airpark, sebuah airport regional di Karlsruhe yang dibuka pada akhir 1996. Airport ini terletak di Rheinmünster-Söllingen/Hügelsheim, sekitar 45 km dari Karlsruhe. Baden-Airprak juga merupakan bandara udara terbesar kedua di Baden-Württemberg. Untuk mencapai airport ini, Anda bisa menggunakan bus. Turis maupun warga Jerman yang pergi melalui airport ini telah mencapai 712 ribu penumpang menurut statistik pada 2005.

* Ada pula lapangan terbang kecil di Forcheim yang berjarak sekitar delapan km selatan dari Karlsruhe.

* Jika mendarat di Frankfurt, Anda bisa naik kereta api ke Karlsruhe. Untuk pesewat ke Frankfurt, silakan Anda cek harganya, karena setiap waktu bisa berubah sesuai dengan musim. Sebaiknya, jauh-jauh hari direncanakan dan membeli tiketnya. Sementara, harga tiket kereta api dari Frankfurt ke Karlsruhe seharga 40 euro dengan jarak tempuh dua jam.

* Setelah bereda di Karlsruhe, Anda tinggal pilih mau pergi ke objek wisata yang mana. Namun, ada paket trem dan bus seharga 2,3

* Untuk penginapan, jika punya banyak uang, Anda bisa menginap di hotel dari bintang 3 sampai bintang 5. Sementara, jika backpacker biasanya menginap di Jungendherberger yang bertarif antara 14,90 euro sampai 31 euro per malam. Tarif itu sudah termasuk makan pagi. Ada pula yang disebut pension atau losmen, mulai dari 25 euro sampai 40 euro. ed: nina chairani

Oleh Brillianto K Jaya,
Traveler Tinggal Di Jakarta  

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA