Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Kabar dari Incheon

Belum Lengkap Jika tidak ke Ansan

Rabu 01 Okt 2014 12:00 WIB

Red: operator

"Waktu pertama datang ke sini, satu tempat yang saya ingin kunjungi, ya Ansan. Katanya kalo di sini gak lengkap kalo gak ke Ansan," kata Awan (29 tahun), TKI asal Cilacap, saat kami bertemu di kereta menuju Ansan.

Saat tiba di Ansan, saya sepakat sepenuhnya dengan pendapat Awan. Di Ansan, saya tidak terlalu merasa asing. Setidaknya, saya bisa bertemu dengan orang-orang Indonesia dan yang terpenting saya bisa kembali merasakan makanan khas Indonesia.

Ansan adalah kota yang berada di sebelah barat Incheon. Dengan menggunakan jalur kereta yang sudah terhubung, dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk bisa mencapai Ansan. Dari Stasiun Kereta Bupyeong dibutuhkan dua kali transit, yaitu di Stasiun Woninjae dan Oido.

Tiga stasiun dari Oido, kita sudah berada di Ansan. Suasana ramai pun sudah menyambut saat memasuki Yok (stasiun kereta bawah tanah). Berhiaskan lampu berwarna terang, deretan toko-toko yang menjual berbagai kebutuhan sudah berjajar di sana. Mulai dari komestik murah asal Cina, tawaran-tawaran diskon ponsel-ponsel baru dan bekas, hingga sayur dan buah-buahan.

Hal serupa juga ditemui begitu keluar dari stasiun. Berbagai papan nama restoran bertuliskan Indonesia, Vietnam, Sri Lanka, dan India, sudah bisa langsung ditemui di sepanjang jalan Damunhwa. Khusus untuk makanan asal Indonesia, harga rata-rata makanan seperti nasi rendang dan nasi rames khas Indonesia dibanderol mencapai enam ribu won (Rp 50 ribu rupiah). Harga ini rasanya cukup pantas demi bisa melepas kangen mencicipi kuliner khas Tanah Air.

Selain restoran Indonesia dan toko serbaada yang menyediakan berbagai produk asal Indonesia, jalan yang tepat berada di depan Stasiun Ansan itu juga menyediakan bermacam-macam barang kebutuhan, mulai dari pakaian jadi hingga berbagai jenis ikan dan udang.

Jalan Damunhwa sepertinya menjadi primadona Kota Ansan. "Apalagi kalau malam minggu, di sini rame sekali, banyak orang Indonesia yang kerja di Korea main ke sini. Ya, sudah seperti di Indonesia," lanjut Awan.

Awan, yang tengah mendapatkan jatah libur dari pabrik tempatnya bekerja di Namdong, sengaja datang ke Ansan untuk mengganti telepon pintarnya yang rusak. Selain itu, dia juga datang untuk bisa mengirimkan sejumlah uang kepada keluarganya di Tanah Air.

Ansan memang dikenal sebagai wilayahnya orang asing di Korea Selatan. Kondisi ini juga dengan cerdas dimanfaatkan pihak penyelenggara Asian Games ke-17 Incheon. Laga babak perdelapan final cabang sepak bola antara Indonesia dan Korea Utara pun digelar di Stadion Ansan Wa, stadion terbesar yang ada di kota sebelah selatan Seoul tersebut.

Hasilnya, ribuan suporter Indonesia rela datang dan membeli tiket laga tersebut demi bisa menyaksikan langsung timnas U-23. Sayangnya, di Ansan pula langkah tim besutan Aji Santoso itu terhenti. Bayu Gatra dan kawan-kawan menyerah 1-4, Jumat (26/9) lalu. rep:reja irfa widodo(Incheon,Korea Selatan) ed: fernan rahadi

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA