Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

Jumat, 16 Rabiul Akhir 1441 / 13 Desember 2019

siesta

Merepotkan tapi Menggemaskan

Selasa 16 Sep 2014 17:00 WIB

Red:

Banyak perempuan gemar memelihara kucing. Ada yang sejak kecil sudah jatuh cinta dengan hewan menggemaskan yang satu ini, ada pula yang memang tergerak memelihara lantaran ingin menolong kucing malang di jalanan. Bagaimana pengorbanan mereka mengurus kucingnya? Simak kisah tiga perempuan berikut ini.

Lima Juta Rupiah per Bulan

Fenti Lela Safitri jatuh cinta dengan kucing sejak usia belia. Sejak kecil, ia terbiasa dikelilingi kucing. Bahkan, ketika baru lahir pun kucing peliharaan sang bunda sudah ada di dekatnya. "Seluruh anggota keluarga kami pecinta kucing," ujarnya.

Di rumahnya, Fenti sekeluarga merawat 30 kucing. Lebih dari 20 di antaranya merupakan kucing lokal, tiga lainnya kucing persia, dan empat lainnya kucing anggora. Dari puluhan kucing tersebut, ia paling menyayangi Bili, kucing betina ras persia. Bulunya panjang dan lembut. Warnanya oranye cerah bercampur putih. "Badannya gemuk, gemesin," kata Fenti.

Berjauhan dengan Bili, Fenti akan merasa kangen. Ia tak tahan kalau seharian belum memegang dan mencium kucing kesayangannya itu. "Lucu ngeliat mukanya, tingkahnya, dan bulunya yang lembut," ujar perempuan kelahiran Bagan Batu, 8 Juli 1986 ini.

Agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan, Fenti mengelompokkan kucingnya. Kucing kampung ia tempatkan di kamar khusus. Kucing ras dibiarkan berada di rumah bersama keluarga Fenti. Kucing tersebut ada yang dipelihara sejak lahir, ada yang pemberian orang, dan sebagian besar diambil dari jalan karena kasihan. Sang bunda paling tak tega melihat kucing terlantar. "Kalau melihat kucing kecil yang tak ada induknya berkeliaran di jalan, pasti ibu ambil," ungkapnya.

Fenti dan ibunya berbagi tugas mengurus puluhan kucingnya. Sejak berhenti bekerja setahun lalu, Fenti bertugas memberi makan kucing di pagi hari, dari Senin sampai Jumat. "Ibu masih bekerja jadi baru bisa mengurus kucing pada akhir pekan."

Kucing Fenti diberi makan ikan cuwe, ayam yang sudah dikukus, dan biskuit kucing. Kucingnya juga minum susu. Setiap bulannya, keluarga Fenti menganggarkan lima juta rupiah untuk membeli makanan dan minuman tambahan untuk si pus. "Kami sudah ada pemasok reguler yang bersedia mengantar ikan seminggu sekali dengan total biaya sekitar sejuta rupiah," kata Fenti yang rutin memberikan vaksinasi untuk seluruh kucingnya.

Keluarga Fenti tak hanya memperhatikan kebutuhan pangan kucing peliharaannya. Kebersihannya pun terjaga dengan membawa kucing mandi di pet shop terdekat. Semua kucing di rumah Fenti sudah terlatih untuk buang kotoran di kamar mandi. Fenti dan ibunya bergantian menyiramnya. "Tapi, ada juga yang buang kotoran di tempat khusus yang kami sediakan."

Fenti yang tengah mengandung tujuh bulan aktif melindungi diri dari risiko terinfeksi virus toksoplasma gondii, virus yang hidup sebagai parasit ada di kotoran kucing. Ia melakukannya dengan rajin mencuci tangan dengan saksama setiap selesai memegang kucing.

Menikah dengan penggemar kucing, suami Fenti ikut menyayangi kucing. Ia tak segan membantu Fenti mengurus kucing, memberi makan cemilan, dan membuat susu untuk kucing kecil. "Sebetulnya saya tak dilarang dokter untuk kontak dengan kucing, tetapi suami minta saya tidak mencium kucing dulu selama hamil." 

Awalnya Hanya Sepasang

Fitri Sabarudin juga menyukai kucing sejak kecil. Ia dan seluruh keluarganya memang pecinta kucing. Kegemaran yang sama menurun pada anak-anaknya. "Karena kami sekeluarga pecinta kucing jadi wajib hukumnya memelihara kucing."

Awalnya, hanya ada sepasang kucing di rumah keluarga Fitri. Setelah kucingnya beranak-pinak, kini jumlah kucingnya lebih dari 10 ekor. "Mukanya lucu, ngegemesin banget. Saya suka memeluk dan menggendongnya seperti anak sendiri," ujar perempuan kelahiran 25 Agustus 1977 ini.

Fitri memelihara berbagai macam jenis kucing, ada kucing kampung, blasteran angora, dan kampung, serta kucing persia. Kucing blasteran dan persia berasal dari pemberian temannya. Kucing kampung telah dipelihara sejak kucing tersebut masih bayi dan beberapa ekor kucing lainnya datang dengan sendirinya. "Ada juga yang dipungut dari jalanan."

Fitri mengaku lebih suka kucing kampung karena tidak repot memberi makannya. Kucing angora ataupun persia makanannya harus pelet atau ikan sarden khusus kucing untuk menghindari kerontokan bulunya. "Saya harus menyetok banyak makanan dan pasir di rumah demi kenyamanan kucing peliharaan keluarga kami," kata ibu tiga anak ini.

Memberi makan kucing menjadi aktivitas yang sangat merepotkan bagi Fitri. Terkadang, kucing-kucingnya tidak sabar dan terus mengeong. "Saya bertugas memberi makan dan membersihkan kotoran kucing dan anggota keluarga lain membantu memandikan," tutur Fitri yang rutin memvaksinasi kucingnya

Tak ada kamar maupun kandang khusus untuk kucing-kucing Fitri. Ia membiarkan kucingnya lepas bebas di rumahnya. Ia tak tega mengurung binatang kesayangannya di dalam kandang. Sebab, ketika terkunci di kandang, Fitri seolah melihat wajah kucingnya tampak sedih dan murung.

Membiarkan binatang peliharaannya bebas berkeliaran, Fitri terkadang harus menahan dongkol karena tingkah kucingnya yang buang hajat sembarangan. Sebetulnya, ia sudah menyiapkan tempat yang berisi pasir khusus untuk mereka buang air. Persoalannya, tak setiap kucing paham akan pembiasaan tersebut.

Perasaan kesal yang membuncah akan sirna ketika Fitri melihat tingkah lucu kucingnya. Kucingnya kerap diajak lomba lari oleh anak-anak Fitri. Kucingnya juga menjadi teman setia Fitri kala sendiri di rumah. Sudah tak lagi bekerja, ia tidak pernah merasa kesepian ketika ditinggal berangkat beraktivitas oleh suami dan anak-anaknya.

Menolong Kucing Jalanan

Afriana Setyarani menyukai kucing sejak masih kecil. Hanya saja karena ibundanya seorang tentara maka ia tak boleh merawat kucing lantaran khawatir tempat tinggalnya akan pindah-pindah. Keinginan masa kecilnya untuk memelihara kucing baru kesampaian empat tahun lalu.

Afriana tertular oleh anandanya yang menyayangi kucing. Anaknya dahulu sering memberi makan kucing liar yang tengah hamil sampai kucing itu beranak-pinak. Kini, ia memelihara sekitar 26 kucing, semuanya kucing lokal dan sebagian besar dipungutnya dari jalan. "Mudah-mudahan jumlah kucing kami tidak bertambah karena semua sudah disteril, tinggal yang baru-baru saja belum disteril," kata perempuan yang berusia 41 tahun ini.

Afriana tak tega melihat kucing yang terlantar berkeliaran di jalanan. Ia ingin memberikan tempat tinggal yang nyaman bagi binatang kesayangan Rasulullah ini. Namun, tak semua kucing yang ada di jalan dibawanya pulang. Ia hanya mengambil kucing yang terlihat sangat memerlukan bantuan, misalnya, kucing yang matanya buta.

Afriana tak menempatkan kucingnya di kamar khusus. Kucingnya menyebar di rumah dua lantai milik keluarga pengusaha retail ini. Ada juga yang hanya keluar-masuk. Mengurus kucing, Afriana berbagi tugas bersama Dinda, buah hatinya. Dinda bertugas mencuci pasir tempat kucingnya buang air, memberi makan, mengajaknya main, dan memberi vitamin. "Pecinta kucing wajib punya filter udara agar hawa rumah tetap segar," ujar Afriana berbagi tip.

Afriana bertanggung jawab atas kebersihan seluruh rumah. Namun, ketika salah satunya memiliki kegiatan, mereka akan bergantian mengurus kucing-kucingnya. Kalau mereka memiliki agenda keluar rumah secara bersamaan, Afriana akan meminta tolong temannya memberi makan kucing-kucingnya.

Kucing di rumah Afriana diberi makan kepala ayam dan ikan tongkol yang sudah dipresto. Terkadang, mereka diberi makanan yang dikombinasi ikan salem. Mereka tidak mencampur makanan dengan nasi karena campuran nasi akan membuat kotoran kucing mengeluarkan aroma tak sedap. Dalam sepekan, ia belanja kepala ayam 30 kilogram, ikan tongkol 10 kilogram, dan satu karung makanan kering ukuran delapan kilogram.

Sementara itu, untuk urusan mandi, Afriana tak pula repot. Ia baru memandikan ketika kucingnya tercebur got atau baru pertama kali menjadi bagian dari keluarga besarnya. Kucing yang baru datang akan diisolasi di luar hingga terbebas dari virus dan kutu. Selain itu, kucing-kucingnya tersebut ada yang divaksin, ada juga yang tidak. Vaksin, menurutnya, tidak menjadi kebutuhan utama bagi kucingnya. Ada dokter hewan langganan yang bisa ia kontak untuk kasus darurat, konsultasi, dan pemeliharaan kesehatan kucing. "Kalau kucing hilang selera makannya, saya akan memeriksa apakah ia demam atau sakit lainnya." rep:desy susilawati ed: reiny dwinanda

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA