Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

siesta

Menuliskan Cerita Perjalanan

Selasa 09 Sep 2014 16:00 WIB

Red:

Sepintas, menulis cerita perjalanan tampak mudah, namun ternyata ada teknik dan jurus tertentu untuk membuatnya menarik. Olenka Priyadarsani menemukan semakin banyak cerita, semakin banyak pula yang membaca backpackology.me. Ia menarik kesimpulan tersebut setelah berkali-kali menulis dan mengunggah artikelnya ke blog. "Ketika banyak pembaca memberikan komentar, bertanya, atau meminta saran, blog akan semakin dikenal banyak orang," tutur Olen.

 

 

 

 

 

 

 

 

Foto:Republika/ Wihdan

Menulis cerita perjalanan, seorang travel writer harus membuat karya yang berbeda dengan tulisan promosi pariwisata. Sebagai penulis, ia bebas mengambil sudut pandang penulisan. Teknik mendasarnya, cantumkan sisi positif dan negatif dari lokasi yang dikunjungi. "Selain mengungkap pesona suatu lokasi, kita juga perlu menuliskan kritik yang membangun agar pengelola tempat wisata itu bisa memperbaiki infrastruktur atau pelayanannya," urai Olen.

Travel writer juga harus memerhatikan ketentuan menulis sesuai dengan peruntukan artikelnya. Artikel untuk media massa sangat berbeda dengan gaya penulisan blog pribadi. Kontributor media massa terikat dengan sederet ketentuan menulis.

Pemilik blog pariwisata sebaiknya menyadari pembaca bukan hanya membutuhkan informasi umum mengenai lokasi tujuan berlibur. Mereka juga ingin tahu pengalaman pelancong ketika berada di sana. "Tuliskan hal unik dan penting, lalu sertakan aneka kiat menjadi turis," kata Olen.

Di samping itu, blog harus memiliki ciri khas, baik dalam hal isi maupun cara penyampaian. Jangan pernah takut berekspresi. Kekhasan penulislah yang akan membuat orang terus berkunjung ke blog.

Untuk menambah hits pengunjung, rajin saja blogwalking atau berkunjung ke blog orang lain. Tinggalkan jejak ketika mampir di blog lain dengan memberikan komentar. Lantas, aktiflah memberikan informasi yang bermanfaat di media sosial. Lakukan keduanya secara berkesinambungan.

Bagi pemula, buat blog terlebih dahulu. Di samping artikel, lengkapi pembahasan dengan mengunggah foto ataupun video. Semakin menarik foto tentunya akan memberikan nilai lebih bagi sebuah tulisan. Travel writer tak bermodalkan kamera SLR. Kamera saku atau kamera ponsel pun sudah bisa menghasilkan foto yang baik.

Artikel yang di-posting di blog perlu ditautkan ke media sosial untuk dipromosikan. Kalau ingin melakukan kultwit di Twitter, sebaiknya tuliskan informasi yang berunsur tips, misalnya, tentang pengaturan keuangan saat berlibur.

Bloger juga bisa memanfaatkan fasilitas dari media online yang menyediakan fasilitas untuk mempromosikan tulisan terbaru para bloger. Tulisan tersebut akan tertaut otomatis sehingga bisa langsung diklik dan menuju ke domain blog. Media massa juga kerap merangkul travel writer untuk membuat artikel wisata. Dari situ, penulis cerita perjalanan bisa mendulang rupiah.

Penulis buku wisata tak mesti seorang bloger, tetapi blog bisa membantu seseorang memperlihatkan hasil karyanya hingga terpantau oleh editor penerbitan. Banyak travel blogger yang mendapat tawaran menulis buku lantaran sang penerbit bermain ke blognya. Akan tetapi, Olen menganggap menulis buku jauh lebih sulit daripada menulis blog. "Kita harus menyesuaikan penulisan dengan pakem yang diatur penerbit dan terbelenggu deadline," kata penulis yang sudah menerbitkan empat buku, di antaranya, Wisata Hemat Phuket dan Backpacking Vietnam.

***
Tulisan yang Informatif dan Objektif


Gemar melancong, Ade Kumalasari lama-kelamaan letih menjawab pertanyaan yang sama seputar perjalanannya. Ade lalu menuliskan pengalamannya dan mengunggahnya ke www.travelingprecils.com. Ia memilih menulis di blog agar makin banyak orang yang mendapatkan manfaat dari pengalaman yang dibaginya terkait liburan bersama keluarga. "Berbagi cerita mengenai pelesiran itu tidak merugikan," kata Ade yang mulai ngeblog sejak 2011.

Ade bahagia bisa membantu banyak keluarga untuk bepergian secara mandiri. Ketika menulis tentang wisata keluarga, penekanannya ada pada kepentingan bersama. Sebab, bisa jadi destinasi wisata yang diminati banyak orang dewasa tidak menarik bagi anak-anak.

Travel writer harus menghindari gaya penulisan ala brosur. Perhatikan takaran yang tepat untuk tulisan serius dan santai. Jangan sampai ulasan mengenai hal-hal yang membuat lucu justru berlebihan. Nama seorang travel writer akan semakin dikenal jika isi tulisannya dapat dipercaya. Ade, contohnya, kerap mendapatkan undangan ke beragam acara pelesiran dengan segmen khusus family traveling. "Blog itu ibarat portofolio si penulis," kata Ade yang dalam waktu dekat akan meluncurkan buku Kecil-Kecil Keliling Dunia.

Banyak travel writer yang mengawali langkahnya dengan menjadi bloger pariwisata. Mereka pun berkesempatan menjadi kontributor di sejumlah media massa. "Peluang tersebut merupakan keuntungan khusus bagi bloger sebab mereka dapat memublikasikan artikel yang sesuai dengan kegemarannya," tutur Ade.

***
Berbagi Sekaligus Menimba Ilmu


Cerita perjalanan mesti bersifat mengkaji atau memberi penilaian terhadap hotel, lokasi wisata, ataupun tempat makan yang disambanginya. Agar tulisan lebih informatif, jangan pelit berbagi tips dan selipkan pengalaman pribadi Anda saat melancong. "Contohnya, tentang perjuangan mencari tiket pesawat yang harganya lebih terjangkau atau cara membuat anak nyaman saat menempuh perjalanan jauh," kata Tesya Sophianti.

Seorang travel writer perlu meluaskan jejaring pertemanannya. Jalin persahabatan dengan sesama pelancong dari berbagai belahan dunia agar kelak termudahkan saat menempuh perjalanan wisatanya ke tempat asing. "Dengan membuat blog berbahasa Inggris, akan lebih banyak yang mengerti isi tulisan kita dan kemampuan berbahasa Inggris kita pun jadi terlatih," ujar penulis buku Jelajah Singapura dan Hong Kong, A Place for Everyone ini.

Apa yang harus dituliskan? Penulis cerita perjalanan sebaiknya tak berkutat pada ulasan tentang keindahan tempat wisata. Gali kisah yang paling informatif. "Ciptakan sisi berbeda dengan membuat angle lain yang lebih menarik," saran Tesya yang juga menerbitkan e-book gratis tentang cerita perjalanannya.

***
Menyusun Langkah


1. Seorang travel writer tentu harus gemar jalan-jalan dan senang berbagi pengalaman, baik secara tulisan maupun lisan. Rajinlah membaca rubrik perjalanan di media massa agar paham gaya penulisan di tiap koran, tabloid, ataupun majalah.

2. Tekunlah dan bulatkan niat untuk menulis blog. Perbarui blog dengan rutin, minimal seminggu sekali harus ada tulisan baru. Semakin sering update maka blog semakin sering dikunjungi pembaca.

3. Tulisan harus deskriptif sehingga bisa membawa pembacanya ikut mengalami atau melihat apa yang dilihat penulis. Di samping itu, artikel yang dibuat mesti informatif, inspiratif, menarik, dan tidak monoton.

4. Cerita perjalanan yang dialami sendiri tentu lebih mudah untuk dituliskan ketimbang membuat cerita saduran. Saat jalan-jalan, rekam perjalanan melalui foto atau video untuk memudahkan memanggil memori tentang tempat yang disambangi. Rekam momen yang menarik, seperti ketika mencicipi kuliner khas, berbicara dengan warga lokal, atau saat mengikuti acara budaya setempat. Jangan ragu untuk menulis kenangan indah, lucu, atau pengalaman menarik, contohnya ketika tersesat. Segera menulis begitu selesai bepergian agar tiap detail masih segar dalam ingatan.

5. Gaya bahasa boleh saja ringan, tetapi juga tidak boleh terlalu santai. Banyak membaca blog dan buku bisa menjadi bahan referensi gaya penulisan. Gaya bertutur, seperti sedang bercerita kepada teman pun bisa dipakai, namun tetaplah menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang baik. 

6. Gunakan media sosial untuk mempromosikan blog.

7. Foto harus sesuai dengan tulisan dan menguatkan isi tulisan. Tanpa dukungan foto, artikel sekeren apa pun akan terasa hambar.

8. Begitu sudah banyak pembaca, jangan lupakan terus menambah teman sesama bloger. Jalin pertemanan dengan baik.

9. Jaga agar pembaca tertarik melanjutkan bacaannya dengan berbagi tips penting seputar perjalanan maupun lokasi wisata.

10. Travel writer harus bercerita dengan jujur dan apa adanya. Cerita perjalanan dapat menginspirasi pembaca yang memiliki kondisi serupa, misalnya, bepergian dengan dana yang terbatas. Dalam menyelipkan pengalaman dan solusi untuk mengatasi dana terbatas itu, cerita kita akan berbeda dari kebanyakan tulisan. rep:nora azizah ed: reiny dwinanda

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA