Friday, 9 Jumadil Akhir 1442 / 22 January 2021

Friday, 9 Jumadil Akhir 1442 / 22 January 2021

Belum Ada El Nino

Selasa 09 Sep 2014 14:00 WIB

Red:

Kabupaten Bandung darurat kekeringan.
JAKARTA -Berdasarkan prediksi iklim Musim Hujan (MH) 2014/2015 dari Badan Meteorologi, Klimatologi daan Geofisika serta Badan Pene litian dan Pengembangan Kementerian Pertanian, (Balit bangtan), musim hujan akan terjadi pada Oktober dan November di 73,4 persen wilayah Indonesia.

Wilayah tersebut meliputi Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Kalimantan.Sebesar 67,4 persen hujan bersifat normal. Namun sebagian wilayah Jawa, Sulawesi, dan Bali akan terjadi kemunduran awal. Mundurnya awal musim hujan di ketiga wilayah tersebut diperkirakan antara sepuluh hari hingga sebulan.Kepala BMKG Andi Eka Sakya mengatakan, El nino saat ini belum muncul. "Jadi kekeringan yang terjadi bukan disebabkan oleh El Nino,"ujarnya kepada Republika kemarin.

Analisis Kalender Tanam (Katam) Terpadu yang dikeluarkan oleh Balitbangtan menunjukkan, sifat hujan normal menyebar di 4.780.895 hektar sawah baku. Wilayah itu mencakup Sumatra, Jawa, BaliNusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi.

Sementara sifat hujan di bawah normal menyebar di 2.980.776 hektar sawah baku yang meliputi sebagian Sumatra, Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Sedangkan sifat hujan di atas normal menyebar di 481.651 hektar sawah baku yaitu sebagian Sumatra, Bali-Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Papua.

Secara terpisah, bencana ke keringan di Kabupaten Ban dung sudah masuk dalam kategori darurat. Warga sulit mencari air bersih dan tak bisa bertani. `'Saat ini status bencana kekeringan masuk pada tahap darurat. Dan kita juga sudah dikabarkan mengenai bencana kekeringan ini oleh Badan Na sional Penanggulangan Bencana,'' kata Kepala Badan Pe nanggu langan Bencana Daerah (BPDB) Kabu paten Ban dung, Marlan, kepada Republika, Senin (8/9).

Menurut Marlan, sampai saat ini sudah ada lima kecamatan yang mengalami dampak kekeringan akibat musim kemarau ini. Lima kecamatan tersebut yakni Cileunyi, Pacet, Cikancung, Pangaleng, Ranca ekek. Sementara di Cicaleng ka, kata dia, air sudah mu lai menguning dan tak layak dikonsumsi.

Selain itu, terdapat sejumlah wilayah lain yang berpotensi mengalami kekeringan seperti Pasir Jambu, Ibu, Majalaya, Solokan Jeruk, Nagreg, Cicaha, Bojong Soang, Bale Endah, Ciparay, Paseh, dan Banjaran.

Marlan mengungkapkan, selain mengakibatkan sulit air bersih, warga juga susah untuk bercocok tanam. Pemerintah, kata dia, terus melakukan identifikasi di lapangan melalui camat untuk melihat kondisi sawah, ladang, dan air ber sih. "Kita sudah edarkan su rat ke kecamatan untuk antisipasi kekeringan."

Berdasarkan pantauan Republika, musim kemarau kali ini membuat sejumlah sawah di beberapa wilayah mengalami kekeringan. Termasuk kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. Ada sekitar tujuh desa yang keke ringan.

Iing ( 56 Tahun), salah seorang petani asal desa Sukamanah, mengatakan, kekeringan yang melanda desanya sudah terjadi sejak tiga bulan belakangan. Hal tersebut tentu saja mengganggu produksi gabah yang menjadi mata pencahariannya itu. Iing mengatakan, kemarau tahun ini lebih parah dibandingkan dengan tahun lalu.

Selain Jawa Barat, kekeringan juga terjadi di sejumlah wilayah lain di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sejumlah wilayah pertanian di Lampung juga terdampak kemarau. Di Yogyakarta distribusi air dari PDAM juga berkurang. Begitupula di PDAM Sukabumi, Jawa Barat. rep:c80/c88, ed: teguh firmansyah

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA