Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Meluruskan Niat

Jumat 05 Sep 2014 12:00 WIB

Red:

Haji di Indonesia kadang dikaitkan dengan status sosial. Seorang jamaah haji asal Indonesia kadang harus mengeluarkan materi tak sedikit di luar keperluan ibadah haji sendiri. Mulai dari pamitan haji, pengantaran dan penjemputan, syukuran haji, hingga permasalahan gelar haji yang disandang.

Jika tidak meluruskan niat, jamaah calon haji justru bisa tergelincir. Terlebih, pada saat pelaksanaan, ujian dan godaan semakin berat guna menyandang haji mabrur.

Pengasuh Training iHAQi Ustaz Erick Yusuf mengatakan, niat adalah perkara penting bagi calon haji. Menyiapkan dan menjaga agar niat terus lurus akan membuat pelaksanaan ibadah haji maksimal.

Dalam Alquran surah Albaqarah ayat 197, Allah berfirman, "Haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji …."

Ustaz Erick menegaskan, mereka yang melaksanakan ibadah haji harus membersihkan niat sedari sebelum berangkat. Saat persiapan mereka sudah harus menjaga lidah, tidak berkata kotor, menghindari maksiat, dan menjaga keistiqamahan niat dengan memperbanyak ibadah sunah.

Tak jarang saat mendapatkan kesempatan menjadi tamu Allah, godaan besar akan mengujinya. "Mereka yang belum berangkat biasanya terkadang diuji oleh hal yang lebih menggiurkan, seperti tiba-tiba mendapatkan proyek dengan keuntungan yang besar, padahal pelaksanaan proyek bertepatan dengan keberangkatan haji," ujar dia.

Bagi calon haji yang baru pertama kali menunaikan ibadah ke Baitullah, ketakutan-ketakutan pun sering membayangi. "Bagaimana nanti saat berangkat, bagaimana di Makkah," ujarnya. Kekhawatiran berlebihan juga akan dialami mereka yang merasa telah banyak melakukan dosa-dosa besar.

Ketika di Tanah Suci pun, ujian tak jua berkurang. Cuaca yang berbeda dengan Tanah Air menjadi hambatan tersendiri. "Cuaca di Arab Saudi saat ini lebih panas. Energi yang dibutuhkan pun lebih besar dari ibadah lain," ungkapnya.

Jutaan manusia dengan latar dan adat-istiadat berbeda juga menjadi ujian tersendiri. Jika niat tidak benar-benar dimantapkan, emosi bisa meledak dan justru mengurangi kekhusyukan ibadah. "Haji bukan ibadah yang mudah."

Ustaz Erick memberi kiat agar jamaah calon haji bisa lulus menghadapi godaan. "Bangun benteng ibadah yang lebih tekun dari hari biasanya," ujar dia. Shalat wajib usahakan tepat waktu, puasa sunah diperbanyak, shalat sunah ditambah, membaca Alquran diseringkan. Ilmu dan materi haji pun harus sering dibuka kembali. "Bagaimana tawaf dengan benar di tengah situasi yang berdesakan. Intinya, kalau total menghamba kepada Allah, ujian bisa dihindarkan," kata Ustaz Erick.

Pengasuh Pondok Pesantren An Nurmaniyah Ustazah Nurma Nugraha mengatakan, niat ibadah haji terbagi menjadi tiga. Pertama, niat karena semata-mata ibadah.

Mereka yang menunggu porsi haji dengan penuh kesabaran dan segala ujian yang dihadapi dianggap sebagai nikmat. Dalam berhaji, ada pembelajaran penuh kesabaran yang bernilai ibadah.

Kedua, niat haji untuk bertobat. Umat Muslim yang merasa memiliki banyak dosa menggunakan kesempatan beribadah haji untuk meminta ampunan Allah SWT.

Ketiga, niat untuk berubah menjadi lebih baik. "Tadinya kita memiliki sifat negatif menjadi lebih positif. Tadinya pelit jadi lebih sering berderma, tadinya tidak malas ibadah sekarang menjadi lebih rajin," ujar dia.

Menurut Nurma, godaan sebelum berangkat lebih sedikit dibandingkan ketika menunaikan ibadah haji. Godaan terberat dalam pandangannya ketika mendapatkan teman kelompok yang niatnya berbeda dengan niat yang diinginkan.

"Jangan sampai kita tergoda ibadah haji hanya untuk jalan-jalan, belanja, maupun sekadar ikut-ikutan saja," ujar dia. Jadikan ibadah haji sebagai bahan untuk merenung dan hindari bermalas-malasan untuk beribadah, baik wajib maupun sunah.

Akhlak ketika berada di sana juga harus dijaga. "Jangan bicara porno, bercanda berlebih-lebihan, menjaga emosi, tidak boleh sombong," ujar dia.

Sehingga, ketika pulang, mereka menjadi haji yang mabrur. "Kita yang datang ke Tanah Haram harus meneladani apa yang diajarkan Rasulullah," ujarnya.  rep:ratna ajeng tejomuki ed: hafidz muftisany

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA