Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Poros Jejaring Ulama Nusantara

Ahad 31 Aug 2014 17:30 WIB

Red: operator

Karya-karyanya menjadi fondasi keilmuan dunia pesantren.

Sulit melepaskan figur Syekh Nawawi al-Bantani dari keterkaitannya dengan pesan tren-pesantren di Indonesia.

Tokoh Indonesia yang sempat belajar langsung Islam di Makkah di abad ke-19 banyak yang berguru kepada Syekh Nawawi.

Jaringan ulama Indonesia di Timur Tengah juga turut berperan dalam transformasi pergerakan intelektual Muslim di Indonesia mela wan penjajahan Belanda sejak akhir abad ke- 19. Syekh Nawawi, Salih Darat dan Rifa'i Kalisalak dikenal sebagai tokoh yang mendorong para muridnya memurnikan Islam dari orientasi mistis secara bertahap.

Syekh Nawawi tidak mengkhususkan diri pada satu bidang tertentu. Dalam skripsi Syekh Nawawi al-Bantani Riwayat Hidup dan Sumbangsihnya Terhadap Islam, Yuyun Rodiana menulis ilmu yang diajarkan Syekh Nawawi bervariasi mulai dari fikih, tauhid, tasawuf, bahasa Arab hingga tafsir Alquran.

Murid-murid Syekh Nawawi banyak yang memintanya untuk menulis tafsir agar bisa lebih banyak yang mempelajari Alquran. Syekh Nawawi lalu menulis "Tafsir al-Munir".

Namun, Syekh Nawawi tidak secara khusus mengajarkan ilmu tarekat kepada muridnya. Selain karena sibuk mengajar, ketekunan Syekh Nawawi menghasilkan karya tulis juga menyita waktunya. Syekh Nawawi tidak menganjurkan ataupun melarang jika ada muridnya yang ingin mengikuti satu kelompok tarekat selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Meski tidak memimpin satu kelompok tarekat seperti rekannya yang lain, Syekh Nawawi mengakui ia bermahzab Syafi'i dan mengikuti tarekat Qadiriyyah. Syekh Nawawi mempelajarinya dari gurunya Khatib Sambas dan mengamalkannya sendiri.

Dakwah santun Syekh Nawawi senantiasa mengedepankan metode dakwah yang santun dengan kon ten yang rasional terhadap objek dak wah (mad'u). Namun, metode bisa berubah bagi objek dakwah atau situasi tertentu.

Samsul Munir Amin dalam bukunya Sayyid Ulama Hijaz: Biografi Syaikh Nawawi al-Bantani menulis, Syekh Nawawi menjelaskan prinsip dakwah sesuai dengan surah an-Nahl ayat 125, yaitu menyeru dengan hikmah, menggunakan bahasa yang baik dan jika pun harus mendebat maka harus menggunakan dalil yang kuat.

Dari metode ini juga Syekh Nawawi mengajarkan cara melihat karakter objek dakwah sehingga pendekatan yang digunakan pun tepat. Bagi mereka yang memiliki akal sehat, cerdas, dan jujur berpikir, Syekh Nawawi mengajak mereka kepada Islam dengan hikmah, yakni penjelasan yang meyakinkan.

Sementara, bagi mereka yang berpan dangan benar namun pola pikirnya kacau, mereka diseru dengan nasihat yang baik.

Bagi mereka yang senang mendebat tanpa tujuan untuk mencari ilmu, Syekh Nawawi menyarankan untuk tetap bersikap baik kepada mereka meski harus berdebat pula.

Konten dakwah menjadi bagian penting dalam dakwah. Konten dakwah yang utama disampaikan menurut Syekh Nawawi adalah iman kepada Allah SWT, sifat-sifat Allah SWT, dan mensucikan diri dari keyakinan syirik. Sebab, iman adalah aspek mendasar dalam Islam.

Selain iman, amar ma'ruf juga harus disampaikan kepada para objek dakwah sebab dengan ini mereka diseru untuk melakukan ibadah wajib dan sunah. Amar ma'ruf juga harus dilengkapi nahi mungkar ketika objek dakwah mengetahui larangan- larangan agama.

Syekh Nawawi menekankan peng gunaan argumen yang jelas dalam berdakwah. Ini penting, sebab alasan yang jelas dan masuk akal lebih membuat Islam lebih bisa diterima masyarakat.

Warisan pemikiran Syekh Nawawi bagi umat Islam di Indonesia juga masih bisa digali melalui tulisan-tulisannya. Ada sekira 40 judul tulisan Syekh Nawawi yang terbit dan beredar di Indonesia. Topik buku-buku itu antara lain seputar fikih, sirah nabi, tasawuf, dan bahasa Arab.

Muhammad Mustaqim Mohd Zarif dalam tesisnya "Jawah Hadith Scholarship in the Nineteenth Century: A Comparative Study of the Adaptation of Lubab al- Hadith Composed By Nawawi of Banten (d 1314/1897) and Wan `Ali of Kelantan (d1331/1913)" menulis, selain mendasarkan semua karya dan ajarannya pada Alquran, Syekh Nawawi juga termasuk analis hadis yang andal.

Ia memisahkan hadis berdasarkan perawinya sehingga status hadis menjadi jelas. Ia juga banyak mengkritisi tulisan- tulisan ulama lain untuk menghindari kesalahan pemahaman.

Tulisan Syekh Nawawi tidak ada yang langsung menyinggung tentang kondisi Indonesia yang sedang dijajah pada abad 19. Topik tulisan Syekh Nawawi lebih banyak berupa panduan ibadah yang sesuai Alquran dan hadis. Dari tulisan ini diharapkan muridnya dari Indonesia bisa menggali manfaat lain dari pengamalan agama sesuai syariat.

John R Bowen dalam artikelnya "Intellectual Pilgrimages and Local Norms in Fashioning Indonesian Islam" menulis, ulama Indonesia yang pernah berguru kepada ulama Makkah dan Madinah, termasuk kepada Syekh Nawawi, kembali membawa semangat pembaruan untuk melawan tekanan kolonialisme melalui organisasi Islam.

Gerakan ini pada dasarnya adalah bentuk pemurnian nilai Islam dari campuran nilai-nilai lain. Meski awalnya orga nisasi ini bersifat kultural dan ke daerahan, pola tersebut kemudian berkembang men jadi gerakan modern. rep:fuji pratiwi ed: nashih nashrullah

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA