Friday, 5 Rajab 1444 / 27 January 2023

Ombudsman RI Minta Pemerintah Pastikan Keakuratan Data PHK

Kamis 01 Dec 2022 18:14 WIB

Red: Indira Rezkisari

Sejumlah karyawan berjalan usai bekerja di Jakarta, Senin (24/10/2022). Berdasarkan data Center of Economics and Law Studies (Celios), adanya resesi global?yang diprediksi terjadi pada 2023 bisa berdampak terhadap gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), karena tahun 2022 pertumbuhan ekonomi global hanya berkisar 3,2 persen, sementara di tahun 2020 mencapai 6,1 persen.

Sejumlah karyawan berjalan usai bekerja di Jakarta, Senin (24/10/2022). Berdasarkan data Center of Economics and Law Studies (Celios), adanya resesi global?yang diprediksi terjadi pada 2023 bisa berdampak terhadap gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), karena tahun 2022 pertumbuhan ekonomi global hanya berkisar 3,2 persen, sementara di tahun 2020 mencapai 6,1 persen.

Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja
Data PHK Apindo-BPJS dan data Kemenaker angkanya sangat berbeda.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ombudsman RI mengharapkan pemerintah turun ke lapangan untuk memastikan keakuratan data terkait pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai dasar untuk mencari solusi atas isu tersebut. Anggota Ombudsman RI Robert Na Endi Jaweng menyebut terdapat perbedaan data antara pemangku kepentingan ketenagakerjaan terkait PHK.

Hal itu menyebabkan timbul kesangsian para pihak terkait data mana yang merefleksikan fakta di lapangan. "Kenyataan di lapangan itu perlu untuk dilihat. Kami berharap Kementerian Ketenagakerjaan bisa melakukan kunjungan ke berbagai tempat terutama ke dua industri yang hari-hari ini sebagai industri yang memiliki jumlah PHK yang cukup besar baik garmen, tekstil maupun industri alas kaki," ujar Robert, Kamis (1/12/2022).

Baca Juga

Sebelumnya, Ombudsman RI mendapatkan informasi dari Apindo dan BPJS Ketenagakerjaan terkait data PHK periode Januari-Oktober 2022 yaitu 834.037 pekerja telah mencairkan dana Jaminan Hari Tua (JHT) dalam periode itu. Dengan JHT dapat dicairkan oleh pekerja anggota BPJS Ketenagakerjaan yang terkena PHK.

Data dari Asosiasi Persepatuan dan Alas Kaki Indonesia sepanjang 2022 telah terjadi PHK sebanyak 25.700 pekerja pada segmen industri berorientasi ekspor. Selain itu, ratusan ribu pekerja pada segmen produksi orientasi domestik juga mengalami dirumahkan, tidak diperpanjang masa kerja serta pengurangan jam kerja.

Sementara data Kemnaker memperlihatkan jumlah tenaga kerja yang terkena PHK per Oktober 2022 mencapai 11.626 pekerja. Dengan melihat situasi di lapangan, katanya, maka dapat memastikan akurasi data dan menemukan penyebabnya. Dia mengingatkan bahwa dampak PHK tidak bisa terlihat saat ini tapi akan dirasakan dalam beberapa bulan ke depan.

"Baiknya pemerintah kita harapkan untuk bergerak di lapangan, mencermati, melihat. Sebarkan pengawas ketenagakerjaan maupun petugas terkait untuk mencermati situasi, mengumpulkan data. Karena hanya dengan data yang valid, data yang pasti, maka kerangka tindakan bisa lebih terumuskan secara pasti," katanya.

Robert memastikan Ombudsman RI akan melakukan beberapa langkah menindaklanjuti isu PHK di Tanah Air termasuk terus menerima laporan masyarakat terkait pengaduan layanan publik ketenagakerjaan, membangun koordinasi dengan pemangku kepentingan ketenagakerjaan dan membangun jaringan kerja dengan membuka ruang dialog.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA