Tuesday, 16 Rajab 1444 / 07 February 2023

Satgas IDI: Vaksinasi Lansia Jadi Bahan Perhatian Jelang Endemi

Senin 19 Sep 2022 13:46 WIB

Red: Agus raharjo

Dokter Spesialis Paru RSUP Persahabatan Jakarta Erlina Burhan saat sesi foto untuk Tokoh Perubahan Republika 2020 di Jakarta.

Dokter Spesialis Paru RSUP Persahabatan Jakarta Erlina Burhan saat sesi foto untuk Tokoh Perubahan Republika 2020 di Jakarta.

Foto: Republika/Prayogi
Vaksinasi untuk lansia optimal untuk memberi perlindungan dari Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB-IDI) Erlina Burhan mengatakan masyarakat dari kelompok lanjut usia (lansia) menjadi bahan perhatian menjelang endemi. Hal ini didasarkan karena lansia memiliki faktor risiko kematian yang tinggi saat terinfeksi Covid-19.

"Lansia jadi bahan perhatian akibat usia tinggi, sistem imunitas turun, ditambah komorbid, itu ada faktor risiko kematian atau beratnya penyakit kalau terkonfirmasi Covid-19," katanya dalam gelar wicara 'Mengapa Booster Masih Diperlukan' yang diikuti dari Youtube BNPB di Jakarta, Senin (19/9/2022) siang.

Baca Juga

Dokter spesialis penyakit paru-paru Rumah Sakit Persahabatan Jakarta Timur itu, mengatakan perlindungan vaksinasi pada lansia optimal untuk memberi perlindungan. Termasuk protokol kesehatan, yakni minimal memakai masker.

"Kalau melihat kondisi sekarang di rumah sakit, umumnya adalah orang tua dan mereka yang berkomorbid yang belum divaksin. Lebih banyak pasien yang belum divaksin," katanya.

Dilansir dari laman Vaksinasi Covid-19, jumlah lansia yang telah menerima suntikan dosis ketiga berjumlah 6,61 juta orang dari target sasaran 21,55 juta jiwa. Untuk dosis pertama berjumlah 18,36 juta jiwa atau setara 85,19 persen serta dosis kedua berjumlah 14,84 juta jiwa atau setara 68,88 persen dari target sasaran.

Erlina mengatakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan vaksinasi pada lansia sebagai salah satu indikator penting menuju endemi yang sudah di depan mata. Cakupan vaksinasi pada lansia yang direkomendasikan WHO minimal harus mencapai 97 persen dari populasi di setiap negara.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA