Thursday, 18 Rajab 1444 / 09 February 2023

Soal KKB di Papua, Mahfud: Kita Tetap Gunakan Pendekatan Tertib Sipil

Rabu 20 Jul 2022 20:43 WIB

Rep: Flori Sidebang/ Red: Teguh Firmansyah

Presidential Lecture yang diwakili oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD di Jakarta, pada Selasa (19/7/2022).

Presidential Lecture yang diwakili oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD di Jakarta, pada Selasa (19/7/2022).

Foto: Dok. Web
Mahfud menilai opini aparat langgar HAM di Papua ada hoaks.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD merespons peristiwa penembakan 10 warga sipil di Papua yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Mahfud mengatakan, pemerintah tetap akan menggunakan pendekatan keamanan tertib sipil. 

"Sampai sekarang kita tetap menggunakan pendekatan keamanan dalam tertib sipil," kata Mahfud dikutip dalam akun Instagram resmi miliknya @mohmahfudmd, Rabu (20/7/2022).
 
Mahfud juga menyinggung soal pro dan kontra mengenai pemekaran wilayah atau daerah otonomi baru (DOB) Papua. Menurut dia, jika ada pihak yang menolak keputusan DOB Papua merupakan hal biasa. 
 
Ia menuturkan, justru lebih banyak pihak yang mendukung keputusan tersebut, baik dari rakyat maupun tokoh-tokoh setempat. "Dukungan sangat masif dan meriah," ujarnya. 
 
"Kalau OPM (Organisasi Papua Merdeka), ya memang sejak awal menolak pemekaran. Kalau menunggu semua orang setuju atas satu rencana kebijakan, takkan pernah ada kebijakan. Di dalam negara demokrasi, biasa ada yang setuju dan tak setuju," tambahnya menjelaskan. 
 
Mahfud mengungkapkan, ada bias opini yang sering dikembangkan oleh kelompok-kelompok tertentu terkait Papua. Misalnya, kata dia, opini bahwa di Papua terjadi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) oleh aparat yang sampai disoroti oleh dunia internasional. 
 
Meski demikian, Mahfud menyebut, opini tersebut merupakan hoaks. "Itu adalah hoaks, karena faktanya KKB yang membunuh warga masyarakat atau warga sipil dengan keji," tutur dia. 
 
Sebelumnya diberitakan, Kepolisian bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI) memburu teroris kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua yang membunuh 10 warga dan melukai dua warga sipil. Pengerahan pasukan dan personel keamanan sudah dilakukan sejak akhir pekan kemarin setelah serangan KKB di Nduga, Papua, pada Sabtu (16/7/2022).
 
“Di Nduga, anggota Polri dan TNI sudah berjaga ketat di lokasi. Kita bersama-sama akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengejar pelakunya dan menangkap pelakunya untuk bisa dihadapkan ke hukum,” kata Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Papua Komisaris Besar (Kombes) Ahmad Musthofa Kamal, Ahad (17/7/2022).
 
Kamal mengeklaim, situasi dan keamanan di Nduga berangsur kondusif. Polri dan TNI mengantisipasi adanya hal-hal yang tidak diinginkan dengan penetapan status siaga.
 
Pada Sabtu (16/7/2022) pagi waktu setempat, sekitar 20-an anggota KKB menyerang perkampungan di Nogolait, Distrik Kenyam, Nduga. Serangan itu diduga dilakukan kelompok separatis yang dipimpin Egianus Kogoya.
 
Serangan dengan senjata api dan senjata tajam itu menewaskan 10 orang warga sipil. Dua korban lainnya dalam kondisi kritis karena luka-luka bacokan dan tembakan.
 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA