Tuesday, 15 Jumadil Akhir 1443 / 18 January 2022

Tuesday, 15 Jumadil Akhir 1443 / 18 January 2022

Prof Tjandra: Varian Omicron Pengaruhi Tes PCR

Kamis 02 Dec 2021 19:44 WIB

Rep: Rizky Suryarandika, Rizky Jaramaya/ Red: Andri Saubani

Calon penumpang pesawat terbang menjalani tes usap PCR di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung.

Calon penumpang pesawat terbang menjalani tes usap PCR di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung.

Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Varian Omicron bisa membuat gen S tidak terdeteksi lewat tes PCR.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Guru Besar FKUI Tjandra Yoga Aditama menganalisis dampak Covid-19 varian Omicron terhadap pemeriksaan tes PCR. Ada indikasi bahwa Omicron mempengaruhi pemeriksaan tes PCR.

Tjandra menjelaskan dampak Omicron menimbulkan mutasi spike protein di posisi 69-70. Kondisi ini menyebabkan terjadinya fenomena “S gene target failure (SGTF)”, di mana gen S tidak akan terdeteksi dengan PCR lagi atau hal ini disebut juga drop out gen S.

Baca Juga

 

"Walau ada masalah di gen S tetapi untungnya masih ada gen-gen lain yang masih bisa dideteksi sehingga secara umum PCR masih dapat berfungsi," kata Tjandra dalam keterangan pers yang diterima Republika, Kamis (2/12).

 

Tjandra menerangkan, tidak terdeteksinya gen S pada pemeriksaan PCR dapat dijadikan indikasi awal untuk kemungkinan yang diperiksa adalah varian Omicron. Lalu dalam hal ini menurutnya, perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) untuk memastikannya.

 

"Kalau kemampuan WGS terbatas maka ditemukannya SGTF dapat menjadi semacam bantuan untuk menyaring mana yang prioritas dilakukan WGS, selain kalau ada kasus berat, atau ada klaster, atau ada kasus yang tidak wajar perburukan kliniknya," ujar Mantan Direktur WHO Asia Tenggara itu.

 

Selain itu, Tjandra menyinggung indikasi sudah beredarnya varian Omicron bila di suatu daerah ditemukan peningkatan sampel laboratorium yang menunjukkan SGTF. Sehingga, ia menyarankan Pemerintah mempublikasikan laporan peningkatan SGTF.

 

"Penting juga bagi kita di Indonesia dalam menganalisa hasil PCR yang setiap hari dilaporkan jumlah pemeriksaannya di media, artinya jangan hanya jumlah total saja tetapi apakah ada peningkatan SGTF atau tidak," ucap Prof Tjandra.

 

Terlepas dari hal ini, dampak pada PCR memang merupakan salah satu dari enam kemungkinan dampak Omicron.

"Lima yang lain adalah apakah penularan akan makin tinggi, kemungkinan penyakitnya memberat, terjadinya infeksi ulang pada mereka yang sudah sembuh, dampak pada vaksin yang sekarang sudah dipakai termasuk di negara kita serta analisa tentang obat Covid-19 yang ada, seperti penghambat reseptor Interleukin 6 yang bermanfaat untuk menangani badai sitokin serta obat anti peradangan/inflamasi yaitu kortikosteroid," sebut Tjandra.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA