Tuesday, 15 Jumadil Akhir 1443 / 18 January 2022

Tuesday, 15 Jumadil Akhir 1443 / 18 January 2022

Pengamat: Harus Ada Komitmen Bersama Benahi Internal TNI 

Selasa 30 Nov 2021 17:00 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Agus Yulianto

Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi

Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi

Foto: Dok Pribadi
Ada kesenjangan antara konstruksi realitas digital dengan realitas sosial.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Militer Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi menanggapi terkait perkelahian antaroknum prajurit TNI Angkatan Darat dan Laut di jembatan Barelang, Batam yang viral di media sosial. Menurutnya, harus ada komitmen bersama untuk membenahi internal TNI.

"Ini penyakit kambuhan. Berulang terus dan tidak pernah diobati dengan baik," katanya saat dihubungi Republika, Selasa (30/11). 

Padahal, ucap Khairul, kalaupun tidak bisa disembuhkan, setidaknya ada komitmen bersama untuk membenahi internal TNI karena pemicunya ada di dalam rumah. Seperti egosektoral, superioritas, kebanggaan dan jiwa korsa yang dipompa berlebihan, yang kemudian berekses rendahnya penghormatan dan hadirnya ketidaksukaan pada pihak lain.

Dikatakannya, para TNI memang dicetak untuk bermental juara dan selalu berkompetisi untuk menjadi yang paling unggul. Kesalahan dan kekalahan adalah hal yang dianggap sangat memalukan. 

Menurut dia, ada kesenjangan antara konstruksi realitas digital dengan realitas sosial. Di ruang digital, tampak ada sinergitas yang baik ditampilkan pimpinan TNI melalui beragam event dan momen seremonial. 

"Namun kenyataannya, persoalan kecil saja ternyata sudah bisa memicu perkelahian bahkan kontak senjata yang bukan saja membahayakan para prajurit itu sendiri namun juga dapat mengancam keselamatan warga masyarakat," kata dia.

TNI memiliki tingkat kepercayaan yang lebih baik sebagai institusi yang mestinya tidak banyak terlibat langsung dalam urusan-urusan publik. Dalam hal ini, harus bisa mengendalikan diri dari keterlibatan berlebihan dan tidak menonjolkan superioritasnya.

"Kuncinya ada pada pembenahan integritas moral dan praktik-praktik kepemimpinan terutama bagi para pimpinan atau perwira di lapangan," kata dia.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA