Saturday, 22 Rabiul Akhir 1443 / 27 November 2021

Saturday, 22 Rabiul Akhir 1443 / 27 November 2021

Sehatkan Mental Anak, Ortu Perlu Sehat Mental Lebih Dulu

Rabu 27 Oct 2021 02:57 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Dwi Murdaningsih

Orang tua mendampingi anaknya saat berkunjung ke SeaWorld Ancol, Jakarta, Jumat (22/10). Unit rekreasi di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol salah satunya yaitu SeaWorld kini mengizinkan anak-anak usia di bawah 12 tahun untuk dapat berkunjung dan rekreasi, Hal ini seiring dengan penurunan level PPKM Provinsi DKI Jakarta menjadi level 2.Prayogi/Republika

Orang tua mendampingi anaknya saat berkunjung ke SeaWorld Ancol, Jakarta, Jumat (22/10). Unit rekreasi di Kawasan Taman Impian Jaya Ancol salah satunya yaitu SeaWorld kini mengizinkan anak-anak usia di bawah 12 tahun untuk dapat berkunjung dan rekreasi, Hal ini seiring dengan penurunan level PPKM Provinsi DKI Jakarta menjadi level 2.Prayogi/Republika

Foto: Prayogi/Republika.
Orang tua harus menjaga kesehatan, baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia hampir 2 tahun belakangan juga menyerang mental manusia, termasuk anak-anak. Untuk memulihkan mental anak, Psikolog dan pemerhati anak Seto Mulyadi meminta orang tua terlebih dahulu harus sehat secara mental.

"Yang paling penting adalah orang tua harus menyadari menjaga kesehatan, baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental. Sebab, seringkali orang lupa menjaga kesehatan mental," katanya saat mengisi konferensi virtual FMB9 bertema Adaptasi Anak Demi Sukses Pendidikan Tatap Muka, Selasa (26/10).

Baca Juga

Ia meminta orang tua secara mental bisa membuat diri sendiri lebih tegar, tahan banting, tidak mudah baper, dan menjalankan kegiatan secara teratur. Kemudian menjaga waktu istirahat sehingga tidak mudah panik dan lelah yang bisa menimbulkan emosi negatif.

Yang tak kalah penting, kata Seto, adalah menjalankan ibadah, berdoa, dan bersyukur. Selain itu, ia meminta orang tua menghentikan segala tindakan kekerasan pada anak. Sebab banyak laporan bahwa pandemi ini atas nama kurikulum dan sebagainya ternyata anak ditekan oleh orang tua. Setelah orang tua sehat secara mental, dia melanjutkan, kemudian baru mengajak putra-putrinya dalam keluarga supaya sehat secara memtal.

"Kembangkan kebiasaan diskusi maupun ngobrol bareng atau rapat keluarga, berbicara dari hati ke hati, kemudian saling menguatkan tetapi juga menerima masukan. Jadikan keluarga sebagai support team yang tangguh yang memberikan apresiasi dan penguatan," ujarnya.

Dengan cara ini, ia berharap daya adaptasi terhadap pandemi yang masih terus berkepanjangan bisa diperkuat. 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA