Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Stok Vaksin Terbatas, Pemerintah Atur Laju Vaksinasi

Jumat 23 Apr 2021 14:38 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri, Antara/ Red: Andri Saubani

Vaksinator bersiap untuk melakukan vaksinasi Covid-19 di Aula RS Advent Bandung, Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Rabu (21/4). Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Dedi Supandi menyatakan, saat ini vaksinasi bagi guru dan tenaga pendidik di Jawa Barat sudah mencapai 65 persen dan pihaknya terus melakukan upaya percepatan vaksinasi sebagai bentuk persiapan pembelajaran tatap muka (PTM) yang rencananya akan digelar pada Juli 2021 mendatang. Foto: Republika/Abdan Syakura

Vaksinator bersiap untuk melakukan vaksinasi Covid-19 di Aula RS Advent Bandung, Jalan Cihampelas, Kota Bandung, Rabu (21/4). Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Dedi Supandi menyatakan, saat ini vaksinasi bagi guru dan tenaga pendidik di Jawa Barat sudah mencapai 65 persen dan pihaknya terus melakukan upaya percepatan vaksinasi sebagai bentuk persiapan pembelajaran tatap muka (PTM) yang rencananya akan digelar pada Juli 2021 mendatang. Foto: Republika/Abdan Syakura

Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Wiku meminta masyarakat tak khawatirkan stok vaksin Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, pemerintah harus mengatur laju vaksinasi Covid-19 karena pasokan vaksin yang terbatas. Namun, ia meminta masyarakat agar tak khawatir terkait jumlah vaksin saat ini.

Sebab, lanjutnya, akan ada tambahan sekitar 20 juta dosis vaksin Covid-19 hasil produksi PT Bio Farma. Sehingga, diharapkan program vaksinasi pada April dan Mei 2021 dapat terus berjalan.

"Selanjutnya PT Bio Farma juga akan terus meningkatkan kapasitas vaksin Covid-19 sehingga dapat mencukupi kebutuhan program vaksinasi," kata Wiku saat konferensi pers.

Lebih lanjut, Wiku juga memastikan keamanan seluruh jenis vaksin Covid-19 yang digunakan dalam program vaksinasi nasional. Vaksin-vaksin tersebut juga berkhasiat dan minim efek samping.

Namun, dalam penggunaannya memang ditemukan berbagai laporan efek samping. Meski begitu, lanjutnya, pemerintah meminta masyarakat agar tidak khawatir.

"Jika setelah vaksinasi ditemukan efek samping, pemerintah meminta masyarakat melaporkan temuan tersebut ke fasilitas kesehatan terdekat untuk segera memperoleh penanganan," kata dia.

Wiku pun juga meminta petugas di fasilitas kesehatan agar siap siaga menerima potensi keluhan kesehatan yang dialami masyarakat setelah menerima vaksin.

Baca juga : Sejumlah Anggota DPR Terima Suntikan Vaksin Nusantara

Hingga Kamis (22/4), jumlah penerima vaksin Covid-19 dosis pertama secara nasional kini bertambah 163.498 orang sehingga total mencapai 11.432.711 orang yang diberi vaksin Covid-19. Berdasarkan data dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, dari 11.432.711 orang tersebut, sebanyak 6.488.197 orang sudah diberikan vaksin COVID-19 dosis kedua atau bertambah 166.194 orang.

Pemerintah menargetkan sasaran vaksinasi Covid-19 sebanyak 40.349.049 orang. Masyarakat yang telah menerima vaksin Covid-19, termasuk di antaranya tenaga kesehatan, pejabat negara, pegawai pemerintah, petugas layanan publik, orang lanjut usia (lansia), tokoh agama, guru/dosen, wartawan dan pedagang pasar.

Setelah mendapat suntikan vaksin Covid-19, masyarakat diminta tetap disiplin melaksanakan protokol kesehatan untuk mencegah penularan dan penyebaran Covid-19. Protokol kesehatan itu meliputi, antara lain memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas.

Untuk jumlah kasus positif Covid-19 terdapat tambahan 6.243 orang, pada Kamis, sehingga total menjadi 1.626.812 orang. Sementara itu, kasus sembuh Covid-19 di Indonesia hingga 22 April 2021 bertambah 5.993 orang, sehingga total mencapai 1.481.449 orang .Kasus meninggal akibat Covid-19 bertambah sebanyak 165 orang menjadi 44.172 orang.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA