Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Kemenristek Dukung Pengembangan Teknologi Karet Alam

Selasa 27 Oct 2020 10:15 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Fuji Pratiwi

Menristek Bambang Brodjonegoro. Kemenristek/BRIN siap mendukung pengembangan teknologi yang menggunakan karet alam.

Menristek Bambang Brodjonegoro. Kemenristek/BRIN siap mendukung pengembangan teknologi yang menggunakan karet alam.

Foto: Antara/Wahyu Putro A
Kemenristek/BRIN terus mendorong agar peneliti bersinergi dengan petani rakyat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) akan mendukung daerah yang ingin mengembangkan sumber daya alamnya. Hal ini menanggapi Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan yang bersama petani di daerahnya mengembangkan pabrik aspal karet.

"Kita siap dukung pengembangan teknologi yang menggunakan karet alam," kata Bambang, pada Republika, Senin (26/10).

Kemenristek/BRIN berupaya mengembangkan petani-petani rakyat di daerah agar mereka memiliki pasar yang lebih luas. Salah satu yang sedang didorong adalah petani sawit dalam pengembangan inovasi bahan bakar nabati.

Baca Juga

Selain itu, dalam setiap inovasi yang dilakukan di Indonesia, Kemenristek/BRIN juga terus mendorong agar peneliti bersinergi dengan petani-petani rakyat. Bambang mengatakan, jika ada daerah yang memberdayakan petani rakyat maka tentu akan didukung oleh pemerintah pusat.

Ia menjelaskan, saat ini pemerintah pusat juga terus melakukan sinergi dengan peneliti-peneliti di daerah. Tidak hanya dengan pemerintah daerah, tapi sinergi yang dilakukan Kemenristek/BRIN juga bersama peneliti di perguruan tinggi.

"(Kolaborasi) bisa melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) atau juga perguruan tinggi setempat," kata Bambang.

Kabupaten Musi Banyuasin memperluas pasar petani karet dengan mengembangkan aspal karet. Pabrik aspal karet sudah diresmikan pada Senin (26/10) dan disebut mampu menyerap 20 ribu ton lebih lateks pekat produksi petani. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA