Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Masyarakat Harus Waspadai Pemecah Belah Kesatuan

Rabu 27 Feb 2019 11:57 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agus Yulianto

Ketua Tim Kemenangan Daerah (TKD) pasangan calon presiden (capres) nomor urut 01 di Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengajak semua pihak untuk waspada menjelang hari pencoblosan Pilpres 2019 ini.

Ketua Tim Kemenangan Daerah (TKD) pasangan calon presiden (capres) nomor urut 01 di Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengajak semua pihak untuk waspada menjelang hari pencoblosan Pilpres 2019 ini.

Foto: Foto: Arie Lukihardianti/Republika
Dedi menganggap emak-emak pelaku kampanye hitam sebagai korban doktrinasi ideologis.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Ketua Tim Kemenangan Daerah (TKD) pasangan calon presiden (capres) nomor urut 01 di Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengajak semua pihak untuk waspada menjelang hari pencoblosan Pilpres 2019 ini. Dedi khawatir ada pihak yang memanfaatkan momentum hajat demokrasi ini untuk memecah belah kesatuan Repulik Indonesia. 

Dedi menyampaikan hal tersebut menyusul mulai panasnya tensi pemenangan kedua kubu capres. Bahkan, belum lama ini, ditemukan adanya video 'emak-emak' yang diduga melakukan kampanye hitam ditujukan kepada pasangan calon Jokowi Widodo-Maruf Amin, di Karawang.

"Yang paling penting adalah Pak Jokowi dan Pak Prabowo harus waspada dan mari kita bersihkan lingkungan pendukung kita yang mencoba membuat konflik dan mengadu dombakan," ujar Dedi, di Kota Bandung, Selasa (26/2).

Menurut Dedi, bukan tak mungkin ada pihak yang memboncengi setiap kubu untuk kepentingan memporak porandakan Indonesia. Padahal, sebenarnya, pihak tersebut tidak mendukung pasangan nomor urut 01 maupun 02.

"Tetapi dia memanfaatkan momentum politik ini, sebagai momentum untuk membuat konflik horizontal di Indonesia," katanya.

Disinggung terkait video yang diduga mengarah pada kampanye hitam yang melibatkan emak-emak di Kabupaten Karawang, Dedi menilai, hal tersebut sudah mengarah pada tindakan kriminal, bukan hanya tindak pidana pemilu.

"Ya itu tindakan kriminal. Bukan persoalan hanya pidana pemilu, tapi saya lebih menyoroti bahwa itu tindakan kriminal," katanya.

Menurut Dedi, tindakan kriminal lahir dari sebuah pemikiran ideologis dan pemikiran ideologis lahir karena sentimen dengan memanfaatkan konten yang berhubungan dengan agama. Bahkan, Dedi menganggap, emak-emak pelaku kampanye hitam sebagai korban doktrinasi ideologis. "Ini kan emak-emak yang terdoktrin ideologis," katanya.

Dedi mengaku heran dengan tindakan emak-emak yang berkampanye secara door to door tersebut. Apalagi, kubu  Prabowo-Sandi mengklaim sudah unggul di empat daerah di Pulau Jawa, termasuk di Provinsi Jabar sendiri.

"Berarti, kalau masih ada orang yang berkampanye seperti itu, ya berarti belum terkuasai, kan logikanya sederhana. Kalau sudah terkuasai, ngapain ada yang kampanye seperti itu," katanya.

Dedi pun meminta agar semua pihak menjaga iklim demokrasi ini sebaik mungkin. Ia tidak ingin pesta politik ini hanya dijadikan ajang untuk menyalurkan ekspresi kebencian dan menungganginya dengan paham dan gagasan yang bertentangan dengan substansi pemilu itu sendiri.

"Saya mengimbau ke buzzer-buzzer medsos, jangan mengambil keuntungan di atas kegentingan masyarakat," katanya. 

Pada kesempatan inipun, Dedi meminta agar kaukus perempuan politik lebih memainkan perannya dalam mewujudkan demokrasi yang sehat. Ini dikarenakan peran kaum ibu ini sangat strategis. "Tingkat kebutuhan isu perempuan jauh lebih strategis. Ngomongin pembangunan itu di dalamnya ngomongin perempuan. Perempuan jadi pengendali dari sistem keluarga," katanya.

Menurut Dedi, perempuan harus berperan besar dalam melahirkan politik yang damai. "Yang mengikuti kata hati, mengikuti nalar-nalar atau aspek yang ada pada seorang wanita. Menjunjung tinggi kelembutan," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA