Wednesday, 23 Syawwal 1440 / 26 June 2019

Wednesday, 23 Syawwal 1440 / 26 June 2019

BNPB: Penegakan Hukum Kasus Kebakaran Hutan Kurang Kuat

Jumat 04 Sep 2015 14:51 WIB

Rep: C02/ Red: Bayu Hermawan

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menilai penegakan hukum kasus kebakaran hutan dan lahan tidak sekuat pada tahun 2013 dan 2014.

Ia mengatakan saat ini tidak banyak penegak hukum yang menempati titik pembakaran hutan. Padahal menempati titik utama pembakaran tersebut bisa mencegah pembakaran hutan kembali. Dari data yang didapat BNPB, hutan sudah dibakar bisa dibakar kembali, sehingga potensi kabut asap semakin tinggi dan menghambat jarak pandang.

"Untuk penegakan hukum kita masih kurang," ujarnya di Graha BNPB Jakarta, Jumat (4/9).

Ia menjelaskan pada tahun 2013 dan 2014, penegakan hukum di titik pembakaran sangat kuat. Penegak hukum berani menduduki lokasi pembakaran. Sehingga masyarakat takut untuk melakukan pembakaran kembali.

"Sehingga dalam hitungan minggu, kabut asap bisa dikendalikan," katanya.

Sutopo meminta kepala daerah seperti Bupati, Walikota ataupun Gubernur harus turun tangan menanggulangi karhutla. Jika memungkinkan, kepala daerah tersebut bisa membangun pos-pos siaga di titim yang sering dibakar masyarakat.

"Kepala daerah harus turun tangan menghadapi karhutla ini. Kalau bisa bikin pos darurat atau siaga di lokasi strategis," tegasnya.

Selain itu, BNPB masih terus berupaya melakukan pemadaman melalui udara.  BNPB sudah menyiapkan tiga pesawat untuk hujan buatan dan 13 helikopter untuk bom air. Untuk satu helikopter bom air bisa mengangkut 5000 liter air sekali penerbangan.

Satu helikopter bisa berangkat 100 kali dalam sehari. Namun tetap masih belum efisien karena kabut asap membatasi penerbangan. Seperti kemarin, Kamis (3/9), pesawat pemadam di Pakanbaru tidak bisa berangkat karena jarak pandang tipis.

"Kita bisa padamkan lewat udara tapi kemarin tidak bisa berangkat di Pekanbaru. Jarak pandang pendek hanya 100 meter," ucapnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA