Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Ekspedisi Maritim akan Temukan Kapal Karam Bersejarah

Ahad 12 Jul 2015 20:15 WIB

Red: Muhammad Hafil

Lautan nan dalam (ilustrasi)

Lautan nan dalam (ilustrasi)

Foto: bachelortrade.com

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekspedisi Arkeologi Maritim Indonesia akan segera memetakan kapal-kapal karam di dasar laut Indonesia dan ini akan dilakukan dalam secepatnya. Ekspedisi ini digagas dalam pertemuan silaturahmi pada saat berbuka puasa yang dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan kelautan Indonesia.


Di antaranya,  Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Ade Supandi, Direktur Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Sudirman Saad, Direktur Indonesia Maritime Institute (IMI),  Y. Paonganan, dan arkeolog  Ali Akbar.


Melalui siaran pers yang diterima Republika, Ahad (12/7), Sudirman Saad menekankan pihaknya telah memerintahkan agar melakukan survei nasional untuk seluruh benda muatan kapal tenggelam (BMKT). "Kami membuka kerja sama dengan pihak-pihak yang sejalan," kata Sudirman Saad.


Sedangkan  Ali Akbar menyatakan bahwa Ekspedisi Arkeologi Maritim Indonesia dirancang untuk memetakan lokasi kapal karam di seluruh Indonesia. Menurutnya, letak Indonesia yang menjadi perlintasan laut sejak dahulu kala tidak semuanya sukses dilayari karena berbagai sebab.

"Cukup banyak kapal tenggelam misalnya kapal Portugis, Belanda, dan Cina dari periode tahun 1500-1800 yang diperkirakan mencapai 400 kapal yang tenggelam di perairan Indonesia. Jumlah tersebut dapat mencapai angka yang lebih besar jika dihitung juga periode sebelum dan sesudahnya," kata Ali.

Untuk tahap awal, pihaknya akan berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait dan pemerintah daerah. Selanjutnya, perairan akan dibagi menjadi beberapa wilayah survei.


Flor de la Mar adalah kapal yang paling dicari karena pada saat tenggelam tahun 1511 memuat harta benda yang diboyong Portugis setelah menaklukkan Kerajaan Malaka. Pada saat berlayar menuju Portugis, kapal ini diperkirakan diterjang badai di sekitar Aceh dan sejak itu tidak pernah terlacak lagi keberadaannya.

Ekspedisi Arkeologi Maritim Indonesia penekanannya adalah menghasilkan pengetahuan dan mendata potensi kemaritiman Indonesia berbasis muatan dan kapal karam. "Hasil ekspedisi ini akan disampaikan kepada pemerintah untuk kemudian mengambil tindakan misalnya pengangkatan, pariwisata, perlindungan wilayah laut, dan sebagainya," kata Ali.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA