Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Muhammadiyah: Pemimpin Negara Lari dan Menutupi Masalah dengan Pencitraan

Senin 19 Dec 2011 18:11 WIB

Rep: Muhammad Fakhruddin/ Red: Djibril Muhammad

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin.

Foto: Republika/Alfian Syafril

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Masalah yang dihadapi Bangsa Indonesia sepanjang 2011 semakin menumpuk. Namun, para pemimpin negara terkesan lari dari masalah dan menutupi masalah dengan kebohongan berupa pencitraan.

Katua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin, mengatakan, ada banyak predikat yang bisa diberikan dalam kehidupan berbangsa dan negara sepanjang tahun 2011, yakni penuh dusta, penuh dosa, dan lainnya.

"Tergantung darimana kita melihatnya," kata Din saat dalam refleksi akhir tahun bertajuk 'Tahun Penuh Dusta, Masihkah Asa Tersisa' di Gedung Dakwah PP Muhammadiyah, Jakarta, Senin (19/12).

Predikat tahun penuh dusta ini bisa dikaitkan dalam kehidupan berbangsa secara keseluruhan atau pada pemangku amanah secara terbatas. "Saya kira lebih tepat, predikat tersebut dialamatkan pada pemangku amanah secara terbatas," kata Din.

Menurut Din, para pemimpin harus bertanggung jawab dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap berbagai masalah bangsa yang hingga kini tidak terselesaikan. Antara lain, banyaknya rekayasa korupsi, baik langsung maupun tidak langsung, secara sengaja maupun tidak.

Bahkan rekayasa korupsi dilakukan melalui undang-undang. Namun ketika terjadi permasalahan, para pemangku amanah itu malah lari dari masalah. "Escape from the problem. Atau merasa tidak ada masalah atau mungkin karena merasa ada legitimasi besar maka masalah tak diselesaikan," ungkap Din.

Karena berbagai masalah tidak terselesaikan sehingga terjadi penumpukan masalah dan bangsa ini sebenarnya berada dalam masalah besar. Namun, berbagai masalah tersebut tidak terlalu terlihat karena dibungkus dengan angka ekonomi pada tataran makro ekonomi dan bukan mikro ekonomi.

Uang yang banyak dalam data statistik itu bukan milik rakyat, namun milik multi-national coorporation (MNC). Dan nyatanya banyak rakyat yang kelaparan, miskin, dan penganguran.

Menurut Din, untuk menyelesaikan masalah yang sudah terlanjur kronis itu, perlu ada jalan keluar yang massif seperti big bang (dentuman besar). Big bang tersebut bisa dilakukan pimpinan tertinggi untuk menyelesaikan masalah atau datang dari bawah.

"Saya khawatir big bang itu justru datang dari bawah. Ini yang tidak kita harapkan bersama," kata Din menegaskan.

Din berharap bangsa ini bisa melakukan langkah bersama untuk menyambut tahun depan yang lebih baik. "Masih ada asa tersisa di tengah berbagai masalah bangsa ini. Dengan mengakumulasi asa yang ada secara bersama, kita bisa mengatasi masalah besar sekalipun," beber Din.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA