Saturday, 15 Rajab 1442 / 27 February 2021

Saturday, 15 Rajab 1442 / 27 February 2021

'Dulu Membela Negara dengan Nyawa, Sekarang dengan Nama dan Uang'

Rabu 09 Nov 2011 16:28 WIB

Red: Djibril Muhammad

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG - Anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Bandung Hasim Munaf sedih dan kecewa melihat kondisi negaranya sekarang.

"Dulu saat maju membela negara yang kami daftarkan nyawa, tetapi kini orang-orang maju dengan alasan ingin memajukan negara tapi yang didaftarkan hanya sebatas nama dengan tujuan akhirnya uang," kata Munaf kepada wartawan usai menabur bunga di Taman Makam Pahlawan, di Bandung, Rabu (9/11).

Wanita berusia 83 tahun itu sangat sedih karena perjuangan dia dan teman-temannya dulu tidak berbekas karena Negara RI yang begitu dicintainya masih bisa diombang-ambing negara lain.

"Saya menangis karena teringat perjuangan kita dulu untuk memerdekakan Indonesia, tetapi kini bisa kalian lihat kondisi negara ini masih jauh dari harapan kita," tuturnya.

Munaf menceritakan perjuangannya dulu di intelijen Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang berbuah hasil membanggakan ketika membebaskan tawanan pejuang Indonesia yang disekap Belanda.

"Saya dulu menyamar untuk membebaskan para tawanan pejuang kami, saat itu saya memulai menjadi intelijen ketika usia 16 tahun," ungkapnya.

Karena pembebasan itu, Hanif dihargai 200 gulden sebagai tebusan bagi siapapun yang menangkap Hanif dan beruntung karena kepintarannya menyamar, wanita kelahiran 13 Januari 1928 tersebut selamat dari kejaran antek-antek Belanda.

"Padahal pada saat itu, saya ada di wilayah mereka (Belanda) tetapi karena saya menyamar menggunakan pakaian compang-camping dan diberi bebabuan bangkai membuat mereka mengira saya gelandangan," ceritanya.

Kemudian, ia menceritakan, dia dan teman seperjuangannya sempat berdiam di hutan selama empat tahun ketika dia berjuang di Sumatera pada 1945. "Ketika itu, kita hanya membawa ketapel yang digantungkan di leher dan bambu runcing," katanya.

Hasim Munaf dilahirkan di Sumatera Pesisir Selatan, Paiman. "Sejak 16 tahun saya berjuang di sana, sedangkan di kota Bandung, pada tahun 1960-an dan sejak tahun 1970-an suami saya lebih dulu meninggalkan, kini saya tinggal dengan anak-anak di daerah Cemara."

Janda veteran itu berharap ada penerus perjuangannya dengan mengabdikan jiwa raganya secara tulus.



sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA