Thursday, 10 Ramadhan 1442 / 22 April 2021

Thursday, 10 Ramadhan 1442 / 22 April 2021

Seksi kematian yang akhirnya menjadi menteri kebudayaan

Profil Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah, Anies Baswedan

Ahad 26 Oct 2014 22:10 WIB

Red: Joko Sadewo

Anies Baswedan

Anies Baswedan

Foto: antara

REPUBLIKA.CO.ID,  Anies Rasyid Baswedan lahir di Kuningan, Jawa Barat 7 Mei 1969. Anies adalah cucu dari pejuang kemerdekaan Abdurrahman Baswedan. Ia menginisiasi gerakan Indonesia Mengajar dan menjadi rektor termuda yang pernah dilantik oleh sebuah perguruan tinggi di Indonesia pada 2007. Saat itu, ia telah menjadi rektor Universitas Paramadina pada usia 38 Tahun.

Anak dari pasangan Rasyid Baswedan dan Aliyah Rasyid ini, mulai mengenyam bangku pendidikan padausia 5 tahun di TK Masjid Syuhada. Menginjak usia 6 tahun, Anies kecil melanjutkn pendidikan di SD Laboratori di Yogyakarta.

Setelah SD, Anies diterima di SMP Negeri 5 Yogyakarta dan bergabung dengan Organisasi Siswa Intra Sekolah di SMPnya itu. Ia menduduki jabatan sebagai pengurus bidang humas yang dijuluki sebagai “seksi kematian,” yang tugasnya mengabarkan berita kematian. Anies juga pernah ditunjuk menjadi ketua panita tutup tahun di SMP-nya.

Di Masa SMA, Anies belajar di SMA Negeri 2 Yogyakarta dan ia juga tetap aktif berorganisasi hingga terpilih menjadi Wakil Ketua OSIS dan mengikuti pelatihan kepemimpinan bersama tiga ratus orang ketua OSIS se-Indonesia. Alhasil ia terpilih menjadi Ketua OSIS se Indonesia pada tahun 1985. Pada tahun 1987 ia mengikuti program pertukarana pelajar AFS dan tinggal selama setahun di Milwaukee, Winconsin, Amerika Serikat. Karena program ini, ia harus menempuh masa SMAnya selama empat tahun dan baru lulus pada tahun 1989.

Suami dari Fery Farhati Gani ini pernah berkuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta di Fakultas Ekonomi pada tahun 1989-1995. Ia juga tetap menggeluti dunia organisasi di masa kuliahnya, ia pernah menjabat sebagai Ketua Senat Universitas pada kongres tahun 1992. Anies juga membentuk Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai lembaga eksekutif memosisikan senat sebagai lembaga legislative.

Setelah lulus kuliah, Anies bekerja di Pusat Antar Universitas Studi Ekonomi UGM, sebelum mendapat beasiswa Fulbright dari AMINEF untuk melanjutkan kuliah masternya dalam bidang keamanan internasional dan kebijakan ekonomi di School of Public Affairs, University of Maryland, College Park pada tahun 1997. Ia juga dianugerahi William P. Cole III Fellow di universitasnya, dan lulus pada bulan Desember 1998.

Pria 45 tahun ini pernah menjadi Peliti Pusat Antar-Universitas Studi Ekonomi UGM, Manajer Riset IPC, Inc, Chicago, Direktur Riset Indonesian Institute Center, Kemitraan Untuk Reformasi Tata Kelola Pemerintahan, Direktur Riset Indonesian Institute Center, Rektor Universitas Paramadina, Ketua Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar.

Setelah bertahun-tahun bergelut dalam gerakan sosial, Anies Baswedan terpanggil untuk memasuki dunia politik. Ia diundang untuk terlibat mengurus negeri dengan mengikuti konvensi Demokrat pada 27 Agustus 2013. Anies menerima undangan tersebut dengan ikhtiar untuk ikut melunasi Janji Kemerdekaan.

Semangat melunasi janji kemerdekaan itulah yang merupakan misi Anies untuk negeri ini. Bagi Anies apa yang tercantum di Pembukaan UUD 1945 bukan sebuah cita-cita melainkan sebuah janji yang harus dilunasi. “Janji itu adalah melindungi, menyejahterakan, mencerdaskan, dan membuat keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.

Ia menilai janji-janji tersebut harus dilunasi oleh seluruh warga negara, termasuk dirinya. Ia meyakini konvensi ini sebagai sebuah panggilan tanggung jawab dan kehormatan. Ia mengatakan bahwa dirinya memilih untuk terlibat dan turun tangan melunasi janji kemerdekaan.

Setelah gagal untuk menjadi calon presiden Konvensi Capres Partai Demokrat, ia berkomitmen Anies Baswedan untuk ikut turun tangan mendorong orang-orang baik ia lanjutkan dengan membantu pasangan capres-cawapres Jokowi-JK dalam pilpres 2014.

Anies membantu pasangan nomor urut dua dalam Pilpres 2014 ini dengan menjadi juru bicara pasangan tersebut. Jokowi mengungkapkan bahwa kehadiran Anies sangat penting dalam tim pemenangannya. Oleh sebab itu ia meminta bantuan Anies untuk bergabung dengan timnya.

Bagi Jokowi, Anies adalah sosok muda yang inspiratif dan dekat dengan kaum muda. Karena alasan tersebut Mantan Walikota Solo ini meminta Anies untuk membantu dirinya dan JK dengan menjadi Juru Bicaranya.

Pasca dinyatakan memenangkan pemilu presiden oleh KPU pada 22 Juli 2014. Pasangan Jokowi-JK meminta Anies untuk menjadi salah satu staf deputi Rumah Transisi Jokowi-JK. Rumah transisi tersebut ditujukan untuk menyiapkan kabinet sebelum pengangkatan resmi Jokowi-JK sebagai capres dan cawapres.

Anies menjadi staf deputi bersama Wakil Sekjen PDIP Hasto Kristianto, Sekretaris Tim Pemenangan I Andi Widjajanto, dan Sekretaris Tim Pemenangan II Fasial Akbar. Staf deputi ini diketuai oleh Rini M.Soemarno yang merupakan Menperindah era pemerintahan Presiden Megawati.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA