Monday, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 December 2019

Monday, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 December 2019

Parpol Dianggap Gagal, Yudi Latif Harapkan Ormas

Sabtu 17 Aug 2013 19:09 WIB

Rep: Ira Sasmita/ Red: Mansyur Faqih

Yudi latif

Yudi latif

Foto: antara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Intelektual muda dari Universitas Paramadina, Yudi Latif mengatakan ada fungsi istimewa organisasi kemasyarakatan (ormas) yang tidak dimiliki elemen bangsa lainnya. Ormas dinilai sebagai kontainer terbaik untuk membawa mimpi dan visi bagi perubahan bangsa Indonesia.

Yudi menilai, meski telah merdeka hingga 68 tahun, kehidupan bernegara di Indonesia saat ini seperti kehilangan mimpi besar. Bangsa dikuasai dan dieksploitasi oleh kepentingan politik yang hanya sebatas pencitraan. Upaya pemerintah untuk melakukan pembangunan tidak menyentuh rakyat dan hanya dilakukan dan dinikmati oleh sekelompok penguasa. 

"Kalau masih punya mimpi kontainer terbaik untuk membawa mimpi perubahan, kontainernya ormas. Belum ada bukti parpol bisa menjadi pembawa tranformasi dalam kehidupan bernegara," kata Yudi di Jakarta, Sabtu (17/8).

Direktur Eksekutif Reform Institute itu menambahkan, sepanjang sejarah pergerakan di Indonesia, ormas terbukti menjadi inisiator perubahan hingga kemerdekaan RI. Seperti yang dilakukan Serikat Dagang Islam, Budi Utomo, Nahdlatul Ulama hingga Muhammadiyah.

Namun, sistem demokrasi sekarang ini menjadikan partai politik sebagai pemegang keistimewaan tertinggi. Sayangnya, lanjut Yudi, perubahan dan terobosan tidak mampu dilakukan parpol.

Situasi paradoks tersebut disebabkan biaya kekuasaan yang semakin tinggi. Survei yang dilakukan AC Nielsen menyebutkan biaya iklan pemilu pada 1999 mencapai Rp 35 miliar. Pada pemilu 2004, naik menjadi Rp 3 triliun. Angka tersebut bertambah tiga kali lipat pada pemilu 2009. 

Tingginya ongkos politik itu, membuat komitmen partai bagi pembangunan kesejahteraan bersama otomatis turun. Karena partai terpaksa menggadaikan sumber daya bangsa untuk kompensasi atas tingginya biaya politik tersebut. Akibatnya, sumber daya alam, hingga intelektual bangsa tergadai oleh kekuatan koorporasi sebagai pemilik modal politik.

"Proses demokrasi terlihat memang dilakukan langsung oleh rakyat, tapi hasilnya hanya dinikmati sekelompok orang. Karena itu tak bisa berharap pada parpol, agenda reformasi tidak akan bisa diambil alih parpol," ungkap Yudi.

Karena itu, Yudi melanjutkan, ormas bisa menjadi elemen yang masih bisa diharapkan untuk melakukan perubahan. Kekuatan sipil menjadi lokomotif untuk memperjuangkan perubahan bangsa. Serta kontainer yang bisa membawa kekuatan sipil tersebut, menurut Yudi hanya ormas.

"Tentu ormas harus kembali kepada khitahnya, tidak ikut-ikutan tergadai oleh kekuatan uang. Bagaimana ormas bisa memberdayakan kekuatan sipil untuk menjalankan pergerakannya," jelas Yudi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA