Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Mayoritas Bergejala Ringan, Mengapa Covid Mengkhawatirkan?

Rabu 10 Feb 2021 23:10 WIB

Red: Indira Rezkisari

Foto udara kondisi Tempat Pemakaman Umum (TPU) Punggolaka di Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (10/2/2021). Daya sebar menjadi aspek paling mengkhawatirkan selama pandemi Covid-19. Buktinya dalam satu tahun, lebih dari 100 juta penduduk dunia telah terinfeksi Covid-19.

Foto udara kondisi Tempat Pemakaman Umum (TPU) Punggolaka di Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (10/2/2021). Daya sebar menjadi aspek paling mengkhawatirkan selama pandemi Covid-19. Buktinya dalam satu tahun, lebih dari 100 juta penduduk dunia telah terinfeksi Covid-19.

Foto: Antara/Jojon
Daya sebar Covid-19 jadi aspek paling mengkhawatirkan dari pandemi ini.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Adysha Citra Ramadani, Flori Sidebang, Ali Mansur, Sapto Andika Candra

Sebagian besar pasien Covid-19 mengalami gejala ringan atau bahkan tak bergejala. Tingkat fatalitas kasus atau angka kematian Covid-19 di dunia menurut studi berskala besar dalam jurnal BMJ Open 2020 diperkirakan 2-3 persen.

"Jauh dong angka itu sama 50 persen (angka kematian) HIV, harusnya kita lebih takut dong sama HIV?" tanya dokter dan influencer medis dr Gia Pratama Putra dalam peluncuran virtual Hevit-C Plus bersama PT Kalbe Farma Tbk, Rabu (10/2).

Jawaban dari pertanyaan tersebut tentu saja tidak. Kedua penyakit tersebut sama-sama perlu diperhatikan dan ditangani dengan baik.

Meski sebagian besar pasien Covid-19 bergejala ringan dan angka kematian Covid-19 tidak sebesar kematian pada kasus HIV, bukan berarti Covid-19 dapat diremehkan. Dr Gia mengatakan yang membuat Covid-19 ini menakutkan adalah penularannya.

Dr Gia mengatakan jumlah penderita HIV di dunia adalah sekitar 80 juta. Akan tetapi jumlah 80 juta ini merupakan akumulasi sejak 1980. Dengan kata lain, dibutuhkan waktu sekitar 40 tahun untuk kasus HIV mencapai angka 80 juta.

Di sisi lain, dr Gia mengatakan jumlah kasus Covid-19 saat ini sudah mencapai 106 juta. Padahal, pandemi Covid-19 baru terjadi dalam kurun waktu setahun.

"Jadi yang kita takutkan dari corona (Covid-19) itu bukan daya bunuhnya, tapi daya sebarnya yang luar biasa," tukas dr Gia.

Dampak dari penularan Covid-19 yang mudah ini kerap disaksikan sendiri oleh dr Gia dalam kesehariannya bertugas di rumah sakit. Sebagai satgas Covid-19 di rumah sakit tempatnya bekerja, dr Gia mengatakan dahulu semua pasien yang positif Covid-19 diisolasi di rumah sakit agar tidak menularkan ke orang lain.

"Tapi tidak ada tempat sekarang, alhasil aku dengan terpaksa memilih yang dirawat itu hanya yang saturasi oksigen di bawah 95 persen," ujar dr Gia.

Mengingat Covid-19 sangat mudah menular, dr Gia berpesan agar masyarakat menjaga kesehatan tubuhnya dengan baik. Dr Gia memiliki rumus yang mudah diingat untuk menjaga kesehatan tubuh agar tidak mudah tertular Covid-10.

"Rumusnya gampang hafalkannya, RI sama dengan JV dibagi IT (RI=JV:IT)," jelas dr Gia.

RI, lanjut dr Gia, merupakan singkatan untuk risiko infeksi. Sedangkan JV adalah singkatan untuk jumlah virus dan IT singkatan untuk imunitas tubuh. Mengacu pada rumus tersebut, untuk bisa menurunkan risiko infeksi (RI) yang perlu dilakukan adalah menurunkan jumlah virus (JV) dan meningkatkan imunitas tubuh (IT).

Untuk menurunkan jumlah virus, hal yang dapat dilakukan adalah mematuhi protokol kesehatan dengan baik dan benar. Beberapa di antaranya adalah menggunakan masker, rajin mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan menjaga jarak.

Terkait meningkatkan imunitas tubuh, ada beberapa aspek yang juga penting untuk diperhatikan. Tiga aspek yang utama adalah istirahat yang cukup, olahraga rutin, dan menyantap makanan bernutrisi.

"Tidur yang cukup, mudah-mudahan enam sampai tujuh jam lah per hari, cukup," lanjut dr Gia.

Mengenai nutrisi, dr Gia mengatakan ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu asupan makronutrisi dan mikronutrisi. Makronutrisi itu mencakup protein, karbohidrat, dan lemak yang harus dikonsumsi secara seimbang. Sumber makanan yang dipilih juga sebaiknya yang menyehatkan. Misalnya, lebih memilih sumber karbohidrat kompleks dibandingkan sederhana.

Untuk mikronutrisi, dua hal yang perlu diperhatikan adalah asupan vitamin dan minral. Ibarat sebuah mobil, dr Gia mengatakan makronutrisi adalah bensin dan mikronutrisi adalah oli.

"Jumlah (mikronutrisi) yang dibutuhkan sedikit, tapi krusial," ujar dr Gia.

Vitamin dan mineral bisa didapatkan melalui buah dan sayur yang dikonsumsi sepanjang hari. Akan tetapi, konsumsi buah dan sayur sebagian orang terkadang tidak mencukupi. Bila asupan vitamin dan mineral tidak tercukupi melalui pola makan, konsumsi suplemen dapat membantu.






BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA