Wednesday, 13 Jumadil Awwal 1444 / 07 December 2022

Empat Museum Pamerkan Koleksi di Mal

Jumat 25 Oct 2013 00:40 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Museum Sangiran, Jawa Tengah

Museum Sangiran, Jawa Tengah

Foto: Republika/Agung Suprianto

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Sejumlah museum dan balai konservasi di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta bareng pamerkan koleksinya di Mal Plaza Simpang Lima Semarang mulai 24-29 Oktober 2012.

Pada pameran bertajuk "Pameran Bersama Warisan Budaya Dunia" yang dibuka, Kamis (24/10), setidaknya ada empat museum yang ambil bagian, yakni Museum Batik Pekalongan, Museum Tosan Aji Purworejo, Museum Wayang Indonesia Wonogiri, dan Museum Purbakala Sangiran.

Balai Konservasi Borobudur juga ikut ambil bagian, kemudian Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah dan BPCB Yogyakarta, Paheman Nguri-Uri Wesi Aji (Puriwiji), dan Paguyuban Pecinta Batik "Bokor Kencono".

Masing-masing menampilkan koleksi andalannya, seperti Museum Tosan Ajo Purworejo yang membawa sekitar 20 koleksi pusaka untuk dipamerkan, antara lain keris jalak tilam sari Surakarta dan keris tilam upih Mataram.

Menurut pemandu Museum Tosan Aji, Teguh Wahyu Kuntoro, keris-keris yang dipamerkan memiliki "dapur" dan "pamor" yang berbeda dan khas, seperti dapur "carubuk", "tilam sari", "omyang", dan "tilam upih".

"Keris paling tua yang dipamerkan, yakni keris carubuk Padjajaran. Selain keris, ada dua pusaka berbentuk pedang suduk. Cara pemajangan keris juga berbeda-beda, biasanya kan diletakkan di atas meja," katanya.

Bisa juga memajang dengan sistem "jagrak", yakni semacam wadah penyangga sehingga keris berdiri, kata dia, tetapi ada cara lain, yakni dengan sistem "blawong" yang memajang keris dengan kayu di tembok.

Tak mau kalah, Museum Wayang Wonogiri juga memamerkan berbagai wayang koleksinya, mulai wayang purwa (kulit), wayang mini, wayang wahyu, wayang klithik, wayang bali, hingga wayang suket yang terbuat dari rumput.

"Bahan pembuatannya ada sama, tetapi punya ciri khas tersendiri, seperti wayang wahyu dari kulit yang digunakan dalam cerita Kristen dan Katolik, wayang sadat untuk cerita Walisongo," kata pemandu museum, Sukiyadi.

Namun, ada pula yang bahannya berbeda dari wayang kulit, kata dia, semisal wayang mini yang terbuat dari tembaga, wayang golek dari kayu, wayang potehi, dan wayang suket yang bahan pembuatannya dari rumput.

"Wayang suket pun ada yang pembuatannya halus dan kasar. Kalau koleksi tertua, ya wayang Semar Pangruwatan yang dibuat pada tahun 1716 sumbangan dari Ki Warseno Guno Sukarso, dalang dari Wonogiri," katanya.

Sementara itu, Balai Konservasi Borobudur menampilkan pesona Candi Borobudur dalam berbagai media, seperti miniatur, gambar, video, disertai penjelasan dan makna dari relief-relief yang terukir di candi tersebut.

Relief Jataka-Avadana misalnya, memuat kisah Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Sidharta Gautama, kemudian relief Gandavyuha yang melukiskan penggambaran Sudhana dalam upaya mencapai kebuddhaan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA