Friday, 17 Zulhijjah 1441 / 07 August 2020

Friday, 17 Zulhijjah 1441 / 07 August 2020

Yogyakarta Dinobatkan MURI Jadi Daerah Pelopor Budaya Etika Berlalu Lintas

Ahad 01 Sep 2013 11:26 WIB

Rep: Neni Ridarineni/ Red: Heri Ruslan

Stasiun Tugu Yogyakarta

Stasiun Tugu Yogyakarta

Foto: Republika/Aditya Pradana Putra

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Daerah Istimewa Yogyakarta menerima penghargaan  dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai pelopor daerah budaya etika berlalu lintas yang pertama secara nasional.

Di samping itu juga diserahkan penghargaan MURI kepada Yayasan Astra Honda Motor sebagai pelopor implementasi model sekolah budaya etika lalu lintas.

Penghargaan tersebut diserahkan pada acara Pekan  Nasional Keselamatan Jalan 2013 yang diselenggarakan di Bangsal Kepatihan Yogyakarta, Ahad (1/9).Pada kesempatan ini juga disampaikan deklarasi Yogyakarta sebagai kota berbudaya etika berlalulintas.

Pada kesempatan ini Tika siswa SMAN 8 Yogyakarta membacakan deklarasi tersebut yang isinya:

1. Menyadari bahwa kecelakaan masih menjadi keprihatinan yang tinggi.

2. Kecelakaan juga mengakibatkan korban jiwa dan raga serta kerugian materi.

3. Merupakan tanggung jawab kita semua untuk berperan dan mengambil kontribusi dalam keselamatan jalan.

4.  Kerkomitmen untuk ikut serta dalam mewujudkan DIY sebagai daerah etika budaya berlalulintas.

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof Musliar Kasim dalam sambutannya mengapresiasi adanya deklarasi Aksi Keselamatan Jalan karena sudah  melibatkan komunitas pendidikan dan komunitas lain dalam melaksanakan aksi keselamatan jalan.  dlm laksanakan aksi keselamatan jalan dan komunitas lain.  Karena  banyak diantara para pelajar yg tidak tertib dalam segala aspek kehidupam kemasyarakatan.

''Jika yang  menjadi contoh saja yakni orang yang terdidik tidak menggunakan etika dalam berlalulintas, siapa lagi yang bisa menjadi contoh?''tanya Masliar.

Menurut dia, kurikulum etika berlalu lintas hal ini sejalan dengan kurikulum 2013. Karena, dia menambahkan, yang dikembangkan dalam kurikulum pendidikan tidak hanya pengetahuan dan keterampilan, melainkan juga sikap.

Sementara itu Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutannya yang dibacakan Wakil Gubernur DIY Paku Alam IX mengatakan memberi pengetahuan tentang etika berlalulintas baik, tetapi belum cukup untuk membenahi perilaku baik berlalulintas.

Oleh karena itu wujud pendidikan etika berlalulintas harus diperjelas implementasinya. Bukan hanya pada ranah kognitif saja, melainkan harus berdampak positif terhadap ranah afektif dan psikomotorik yang  berupa sikap dan perilaku peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Baskara Aji, kurikulum pendidikan etika berlalu lintas diterapkan di DIY sejak dua tahun yang lalu dari Taman Kanak-kanak/Pendidikan Anak Usia Dini hingga SMA.  A

cara ini selain dihadiri oleh  dua wakil menteri serta Wakil Gubernur DIY Paku Alam IX, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DIY, juga Perwakilan MURI Paulus Pangka, Direktur PT Astra Honda Motor Markus Budiman Widihandojo, Ketua Yayasan Astra Honda Motor Kristanto.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA