Sunday, 16 Muharram 1441 / 15 September 2019

Sunday, 16 Muharram 1441 / 15 September 2019

Beban Kuliah S-1 Terlalu Tinggi

Rabu 13 Aug 2014 18:39 WIB

Red:

JAKARTA -- Mahasiswa program sarjana strata 1 (S-1) di Indonesia dinilai terlalu banyak beban mata kuliah. Akibatnya, mereka tidak memiliki pengetahuan yang terfokus dan mendalam. Hal itulah yang menjadi alasan peneliti dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia I (FEUI) Rangga Handika mengkaji kemungkinan dilakukannya pengurangan jumlah mata kuliah pada mahasiswa program S1.

Menurutnya, jumlah mata kuliah di berbagai universitas di Indonesia terlalu banyak. ''Dalam satu semester, mahasiswa Indonesia harus mengambil antara tujuh, delapan, bahkan sampai sembilan mata kuliah,'' kata Rangga, Selasa (12/8).

Ia membandingkan dengan beberapa universitas-universitas di negara maju, seperti Australia dan Amerika. Di negara tersebut, Rangga mengatakan, mahasiswa dalam satu semester hanya perlu mengambil empat sampai lima mata kuliah.

Terlalu banyaknya mata kuliah yang diambil mahasiswa Indonesia, Rangga menerangkan, membuat mahasiswa tidak memiliki cukup waktu untuk membaca buku-buku bahan kuliah dan belajar dengan baik. Mahasiswa di Indonesia menurutnya hanya dikejar waktu untuk mengerjakan tugas kuliah dan sibuk mengejar nilai.

Akibatnya, nilai-nilai mahasiswa Indonesia memang bagus. Namun, sesungguhnya mereka tidak memiliki pengetahuan yang fokus dan mendalam terhadap mata kuliah yang dipelajarinya. Waktu bekerja dalam seminggu, Rangga mengatakan, normalnya 40 jam. Makanya, mahasiswa belajar normalnya juga hanya 40 jam agar efektif.

Penelitian awal terkait mata kuliah sudah dilakukannya di berbagai universitas di Indonesia, termasuk UI dinilai terlalu banyak. Ironisnya, setelah disurvei ke beberapa mahasiswa yang sudah lulus kuliah, mereka tidak ingat secara mendalam mata kuliah yang pernah dipelajarinya saking terlalu banyak.

Berdasarkan hipotesis awal, Rangga mengatakan, di Indonesia banyak juga mata kuliah yang mirip malah saling tumpang-tindih. Ia mencontohkan, pada semester satu sebuah mata kuliah sudah diambil. Pada semester enam, mata kuliah yang mirip itu juga diambil.

Dalam penelitian yang mendapat bantuan dana dari Tanoto Foundation ini, Rangga dan timnya akan mengusulkan pengurangan mata kuliah hingga empat saja per semesternya. Hal itu agar mahasiswa bisa fokus belajar secara mendalam. ''Kuliah itu harus fokus pada kualitas, bukan kuantitas,'' ujarnya.

Ia mengatakan, selama ini mahasiswa kebanyakan mengejar nilai A atau B. Nanti begitu ujian selesai, mereka sudah lupa isi materinya. Padahal, tujuan pendidikan bukan seperti itu.

Kalau mahasiswa hanya mengambil empat mata kuliah per semester, menurutnya, mereka akan memiliki waktu untuk membaca buku, membaca bahan kuliah, drilling soal-soal ujian, juga berorganisasi.

''Saya sendiri merasakan bedanya belajar di Indonesia dan Australia. Di Indonesia saya tidak ada waktu membaca buku, di Australia saya bisa banyak membaca buku untuk belajar lebih mendalam,'' katanya.

Sejumlah universitas yang akan dijadikan kajian, antara lain, Australian National University, University of Melbourne, Cambridge University, Oxford, dan London Business School. Sedangkan yang di Indonesia, di antaranya UI, Universitas Gadjah Mada, dan Institut Teknologi Bandung.

Hasilnya nanti akan membandingkan jumlah mata kuliah antara universitas unggulan di Indonesia dan universitas di negara maju. red: dyah ratna meta novia, ed: andi nur aminah

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA