Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

Sunday, 14 Rabiul Akhir 1442 / 29 November 2020

mozaik

mozaik- Terapi Musik dalam Peradaban Islam

Senin 11 Aug 2014 14:30 WIB

Red:

Seni musik yang berkembang begitu pesat pada era keemasan Islam tak sekadar mengandung unsur hiburan. Para musisi Islam legendaris, seperti Abu Yusuf Yaqub ibnu Ishaq al-Kindi (801-873  M) dan al-Farabi (872-950 M) telah menjadikan musik sebagai alat pengobatan atau terapi.

Sebenarnya, apa yang disebut dengan terapi musik? Terapi musik merupakan sebuah proses interpersonal yang dilakukan seorang terapis dengan menggunakan musik untuk membantu memulihkan kesehatan pasiennya. Sejak kapan peradaban Islam mengembangkan terapi musik? Dan, benarkah musik bisa menjadi alat terapi untuk menyembuhkan penyakit?

 

 

 

 

 

 

 

 

Alifghotika.blogspot.com

 

R Saoud dalam tulisannya bertajuk "The Arab Contribution to the Music of the Western World" menyebut al-Kindi sebagai psikolog Muslim pertama yang mempraktikkan terapi musik. Menurut Saoud, pada abad ke-9 M, al-Kindi sudah menemukan adanya nilai-nilai pengobatan pada musik.

"Dengan terapi musik, al-Kindi mencoba menyembuhkan seorang anak yang mengalami quadriplegic atau lumpuh total," papar Saoud. Terapi musik juga dikembangkan ilmuwan Muslim lainnya, yakni al-Farabi (872-950 M). Alpharabius, begitu peradaban Barat biasa menyebutnya, menjelaskan tentang terapi musik dalam risalah yang berjudul Meanings of Intellect.

Amber Haque (2004) dalam tulisannya bertajuk "Psychology from Islamic Perspective: Contributions of Early Muslim Scholars and Challenges to Contemporary Muslim Psychologists, Journal of Religion and Health" mengungkapkan, dalam manuskripnya itu, al-Farabi telah membahas efek-efek musik terhadap jiwa.

Terapi musik berkembang semakin pesat di dunia Islam pada era Kekhalifahan Turki Utsmani. Prof Nil Sari, sejarawan kedokteran Islam dari  Fakultas Kedokteran Universitas Cerrahpasa Istanbul, mengungkap perkembangan terapi musik pada masa kejayaan Turki Utsmani.

Menurut Prof Nil Sari, gagasan dan pemikiran yang dicetuskan ilmuwan Muslim, seperti al-Razi, al-Farabi, dan Ibnu Sina tentang musik sebagai alat terapi dikembangkan para ilmuwan pada zaman kejayaan Turki Utsmani. Mereka, antara lain, Gevrekzade (wafat 1801), Suuri (wafat 1693), Ali Ufki (1610-1675), Kantemiroglu (1673-1723), serta Hasim Bey (abad ke-19 M). "Para ilmuwan Muslim pada era kejayaan Turki Utsmani itu telah melakukan studi mengenai musik sebagai alat untuk pengobatan," papar Prof Nil Sari. Menurut dia, para ilmuwan dari Turki Utsmani itu sangat tertarik untuk mengembangkan efek musik pada pikiran dan badan manusia.

Tak heran jika Abbas Vesim (wafat 1759/60) dan Gevrekzade telah mengusulkan agar musik dimasukkan dalam pendidikan kedokteran. Keduanya berpendapat, seorang dokter yang baik harus melalui latihan musik. Usulan Vesim dan Gevrekzade itu diterapkan di universitas-universitas hingga akhir abad pertengahan. Sekolah kedokteran pada saat itu mengajarkan musik serta aritmatika, geometri serta astronomi kepada para mahasiswanya.

Teori terapi musik

Menurut Prof Nil Sari, masyarakat Turki pra-Islam meyakini bahwa kosmos diciptakan oleh Sang Pencipta dengan kata "ku"  "kok" (suara). Mereka meyakini bahwa awal terbentuknya kosmos berasal dari suara. Menurut kepercayaan Islam, seperti yang tertulis dalam Alquran, Allah SWT adalah Pencipta langit dan bumi.

"... Dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: 'Jadilah'. Lalu jadilah ia." (QS Al-Baqarah:117).

Setelah Islam bersemi di Turki, masyarakat negeri itu masih tetap meyakini kekuatan suara. Inilah yang membuat peradaban Islam di era Turki Utsmani meyakini bahwa musik dapat menjadi sebuah alat terapi yang dapat menyeimbangkan badan, pikiran, dan emosi sehingga terbentuk sebuah harmoni pada diri seseorang.

Prof Nil Sari mengungkapkan, para ahli terapi musik di zaman Turki Utsmani meyakini bahwa pasien yang menderita penyakit tertentu atau emosi seseorang dengan temperamen tertentu  dipengaruhi oleh ragam musik tertentu. "Para ahli musik di era Turki Utsmani menyatakan, makam (tipe melodi) tertentu memiliki kegunaan pengobatan tertentu juga," papar Prof Nil Sari.

Ada sekitar 80 ragam tipe melodi yang berkembang di masyarakat Turki Utsmani. Sebanyak 12 di antaranya bisa digunakan sebagai alat terapi. Menurut Prof Nil Sari, dari teks-teks tua dapat disimpulkan bawa jenis musik tertentu dapat mengobati penyakit tertentu atau perasaan tertentu.

Pada era kejayaan Kesultanan Turki Utsmani, terapi musik biasanya digunakan untuk beberapa tujuan, seperti pengobatan kesehatan mental, perawatan penyakit organik, perbaikan harmoni seseorang, yakni menyeimbangkan kesehatan antara badan, pikiran, dan emosi. Musik juga diyakini mampu menyebabkan seseorang tertidur, sedih, bahagia, dan bisa pula memacu intelegensia.

Prof Nil Sari mengungkapkan, para ilmuwan di era Turki Utsmani meyakini bahwa musik memiliki kekuatan dalam proses alam. Musik dapat berfungsi meningkatkan mood dan emosi secara keseluruhan. rep:heri ruslan ed: wachidah handasah

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA