Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

Tuesday, 10 Syawwal 1441 / 02 June 2020

OJK: Literasi Keuangan Ibu Rumah Tangga Rendah

Kamis 07 Aug 2014 18:19 WIB

Red: Muhammad Hafil

Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Foto: Adhi Wicaksono/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tingkat literasi sektor jasa keuangan di kalangan ibu rumah tangga dinilai masih rendah yakni 2,13 persen, berdasarkan penelitian yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan dari 8.000 responden di 20 provinsi di Indonesia.

"Khusus untuk ibu rumah tangga, tingkat literasinya masih 2,13 persen dan tingkat utilisasinya 3,37 persen," kata Anggota Dewan Komisioner Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Kusumaningtuti S Setiono di Jakarta, Kamis.

Titu mengatakan, berdasarkan sensus penduduk pada 2010, seluruh penduduk Indonesia berjumlah 237,6 juta jiwa yang terdiri dari 118 juta perempuan, di mana 74 juta di antaranya dikelompokkan sebagai ibu rumah tangga.

Menurut Titu, literasi adalah tingkat "melek keuangan" atau tingkat pemahaman, pengetahuan, keyakinan terhadap produk jasa keuangan tertentu dan kewaspadaan terhadap produk jasa keuangan yang mencurigakan.

"Karena tingkat literasi tentang jasa keuangan ibu rumah tangga masih rendah dibandingkan jumlah ibu rumah tangga tersebut, maka kami memandang perlu memberikan edukasi tentang jasa keuangan untuk ibu rumah tangga," katanya.

Menurut Titu, edukasi tersebut penting karena menurut penelitian, ibu rumah tangga memiliki beberapa potensi untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan bangsa, karena ibu rumah tangga yang mengelola keuangan keluarga dan mengajarkan kebiasaan mengelola keuangan terhadap putera puterinya.

Selain itu, tambah Titu, ibu rumah tangga juga seringkali memiliki kegiatan lain untuk mendapatkan penghasilan di tengah kesempatan kerja yang relatif rendah dan memiliki harapan hidup lebih panjang daripada bapak-bapak.

Kemudian, lanjut Titu, ibu rumah tangga juga kerap mendominasi keputusan pemanfaatan keuangan keluarga dalam jangka pendek, misalnya membeli emas, membeli reksadana atau menabung.

Titu menambahkan, menurut penelitian oleh Bank Dunia, tingkat keterlibatan masyarakat terhadap lembaga keuangan formal berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan penduduk di negara tersebut.

"Jadi, kalau masyarakat bisa menabung atau memperoleh kredit di lembaga keuangan formal, ujung-ujungnya bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Semoga program edukasi ini bisa mewujudkan hal itu," kata Titu.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA