Jumat, 22 Zulhijjah 1440 / 23 Agustus 2019

Jumat, 22 Zulhijjah 1440 / 23 Agustus 2019

Menghapus Debu Kehidupan

Kamis 07 Agu 2014 12:55 WIB

Rep: c85/ Red: Slamet Riyanto

Melukis adalah luapan ekspresi yang mampu menghapus segenap kelabu hidup pelukisnya.

"It's so refreshing, Pa," ujar seorang perempuan kecil berambut pirang kepada ayahnya. "Sangat menyejukkan," katanya. Perempuan itu menunjuk potret sebuah pura, tempat peribadatan umat Hindu, yang terletak di punggungan bukit, rindang dengan pohon beringin di halamannya. Di lereng bukit, terlukis danau kecil.

Sedikit kabut tambak menutupi permukaan airnya, mengaburkan bentuk ilalang yang tumbuh di tepiannya. Tercetak kecil di ujung kanan bawah pigura, tercantum judul lukisannya, "Kabut di Ubud".

Sang pelukis, Yana Daloe, mencoba menuang memorinya tentang Ubud ke atas media lukis cat air. "Fokus lukisan saya memang keindah an alam Indonesia. Kalau fotografer langsung bisa merekam momen, saya harus menyimpan dulu di ingatan, baru saya tuang ke lukisan," ujarnya kepada Republika, awal pekan ini.

Bergeser ke kanan, terpajang di dinding lukisan sepasang angsa yang bercengkerama. Perempuan kecil beram but pirang terlihat mengamati setangkai teratai yang menjulur di tengah danau, tak jauh dari dua ang sa putih tadi. "Apakah mereka nyata?" tanyanya kepada ayahnya. "Tentu saja," jawab sang ayah singkat.

Dahi gadis itu mengernyit, "Tapi, bunganya terlalu besar." Kehabisan jawab an, sang ayah hanya berujar, "Ayo lah sayang, itu sebuah lukisan. Si pelukis bebas mau menggambar apa?" Keduanya sibuk membahas sebuah lukisan karya Lydia Saputra.

Giselle, nama asli gadis pirang itu, dan David, sang ayah, adalah pengunjung pameran lukisan bertajuk Indonesia Indah: 3 Ekspresi. Diadakan di sayap kiri Galeri Seni Kunstkring di ka wasan Menteng, Jakarta Pusat. Lukisan-lukisan karya tiga pelukis menghiasi pilar-pilar tinggi bangunan khas kolonial itu. Ketiga pelukis itu adalah Yana Daloe, Elia Aryamus, dan Lydia Saputra.

Mereka memadukan tiga gaya melukis yang sama-sama manfaatkan media cat air atau aquarelle. "Berawal dari sama-sama belajar lukis cat air, kemudian kami sahabatan, dan akhirnya kami adakan pameran bersama," jelas Yana Daloe, salah satu pelukis. Pameran yang berlangsung sepanjang Agustus ini resmi dibuka pada 12 Agus tus dan memamerkan total 30 karya lukis.

Selain dua lukisan tadi, ada pula lukisan tentang hutan hujan. Di atas kanvas berukuran 56 x 76 cm, terlukis deret an batang pohon pinus yang kurus menjulang. Dahannya yang jarang men jadi rumah bagi dedaunan berwarna kuning keemasan dengan aksen daun kering yang beterbangan. Lukisan ini berjudul "Golden Forest", karya seorang wanita karier yang nekat melakoni hobi melukisnya dengan serius.

Dialah Elia Aryamus yang mengagumi lukisan sejak kecil, tetapi merasa bahwa hanya orang-orang yang berdarah seni yang bisa melukis sehingga tidak punya keberanian untuk melukis. Tuntutan rutinitas pekerjaan membuat kebosanan dan keinginannya membuncah untuk menuangkan tekanan emo sionalnya ke dalam wadah seni.

"Ternyata, dengan semangat belajar yang tinggi, seni lukis cat air bisa dilakoni. Justru malah kreativitas bisa berkembang," kata Elia.

Itulah uniknya pameran ini. Dipawangi oleh tiga pelukis cat air yang berlatar belakang keilmuan nonseni.

Yana Daloe, misalnya, hingga 2010, dia aktif berkarier di IBM Indonesia. Namun, dia tak mau hidupnya melulu tentang karier. "Saya luangkan untuk melukis. Sejak absen di IBM empat tahun lalu, saya bisa lebih leluasa menggoreskan kuas di atas kanvas," ujarnya.

Pun dengan Elia Aryamus yang merupakan jebolan Universitas Parahyang an, jurusan ekonomi. Berawal dari hobi, kini Elia bahkan telah memiliki galeri sendiri dan telah mengadakan ber bagai pameran bersama dan solo.

Bagi ketiganya, melukis adalah media ekspresi. Keputusan untuk menggunakan cat air patut diacungi jempol.

"Gaya lukisan impresionis ini dapat dibanggakan dengan hasil karya yang berkelas. Dari sudut pandang saya sebagai seorang fo tografer, karya ini luar biasa unik saat banyak orang lebih memilih cat minyak. Dan, tentu dalam lukisan mereka ada konten dan ekspresi pelukisnya," ujar Jeffry Su rian to, CEO Gallery Photography In donesia.

Pameran 3 Ekspresi merupakan ben tuk upaya tiga wanita yang matang secara karier untuk kembali mengairi dahaga akan kebebasan berekspresi. "Mengalir adalah salah satu kata yang menyenangkan dalam cat air karena mencerminkan kehidupan itu sendiri," ujar Yana Daloe.

Dia percaya pada kata bijak pelukis dunia kenamaan, Picasso, "Art washes away from soul the dust of everyday life", bahwa seni dapat menghapus debu kehidupan sehari-hari.

(ed:dewi mardiani)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA