Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Friday, 4 Rajab 1441 / 28 February 2020

Rugikan Petani, RNI Protes Kebijakan Impor Gula Rafinasi

Senin 04 Aug 2014 18:39 WIB

Red: Taufik Rachman

Dirut RNI, Ismed Hasan Putro

Dirut RNI, Ismed Hasan Putro

Foto: wihdan hidayat

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Dirut PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Persero Ismed Hasan Putro menyayangkan rencana Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi yang memberikan izin impor gula rafinasi.

"Di saat musim giling pabrik gula dan hancurnya harga gula petani akibat serbuan gula rafinasi impor pada pasar tradisional, rasanya kurang bijak bila Mendag kembali mengizinkan impor rafinasi. Untuk itu rencana tersebut harus dibatalkan," kata Ismed di Jakarta, Senin.

Menurut Ismed, dampak kebijakan Mendag saat dipimpin Gita Wirjawan yang membebaskan impor gula rafinasi tanpa kontrol, telah menyebabkan jutaan petani dalam dua tahun terakhir menanggung kerugian yang sangat besar.

Gula rafinasi impor bukan saja merembes, tapi sudah mengusai perniagaan gula nasional dari Aceh sampai Papua.

"Menteri Pertanian Suswono pun sudah membuktikan temuannya di lapangan. Meski kemudian tak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan nasib gula tebu petani," tegasnya.

Untuk itu tambah Ismed, harapan satu-satunya penanganan masalah gula rafinasi adalah pada Presiden-Wapres dan Mendag dalam pemerintahan baru.

"Sesungguhnya, Mendag M. Lutfi sebagai anak bangsa bisa berempati dan ikut menyelamatkan nasib petani tebu nasional. Caranya, batalkan rencana impor rafinasi," ujarnya.

Jika ada kekhawatiran akan kurangnya pasok gula rafinasi untuk kebutuhan industri makanan dan minuman, sebaiknya dimulai dengan menyerap habis terlebih dulu gula rafinasi impor yang kini beredar leluasa di pasar.

Sebelumnya, Mendag Muhammad Lutfi memastikan segera mengeluarkan izin impor gula rafinasi karena stok gula yang sudah diimpor pada paruh pertama 2014 akan segera habis.

Sepanjang tahun 2014, kuota gula rafinasi yang berhak diimpor oleh pengusaha sebesar 2,8 juta ton, sementara semester I importasi telah direalisasikan 2,1 juta ton.
Sisanya, sekitar 635.000 ton, semestinya memang diimpor pada semester kedua agar bisa memenuhi komitmen pada industri.

sumber : antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA