Kiai Hasyim: Sikapi Perkara Pilpres dengan Makna Luhur Idul Fitri
Rabu , 30 Jul 2014, 06:11 WIB
Antara
Hasyim Muzadi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan ketua umum pengurus besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menyerukan masyarakat Indonesia untuk kembali kepada makna luhur Idul Fitri dalam menyikapi perkara pilpres yang sudah masuk ke ranah Mahkamah Konstitusi (MK).

"Yang diperlukan adalah bukti dan pembuktian. Tidak memerlukan nafsu politik dan kegaduhan masyarakat. Kembalikan pada makna luhur idul fitri," kata Kiai Hasyim, Rabu (29/7).

Polarisasi pilpres tempo hari, ujarnya tidak boleh mengoyak silaturrahim kaum muslimin dan persaudaraan nasional. Politik, dalam pandangan Kiai Hasyim, harus untuk kepentingan agama, bukan agama untuk kepentingan politik. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Malang dan Depok ini menegaskan, bahwa politik adalah alat yang tujuannya adalah keluhuran nilai agama.

"Kita harus berpolitik agama bukan beragama politik. Politik agama adalah politik yang bernafaskan nilai luhur agama. Sedangkan agama politik adalah politik yang mengorbankan agama asal politiknya nyampai," katanya.

Kaum muslimin diimbaunya, jangan sampai terjebak dalam strategi menghalalkan semua cara. "Idul Fitri kembali ke ahsani taqwim, yakni wujud makhluk Allah yang terluhur konstruksinya secara lahir batin," paparnya.

Umat Islam, tambahnya, dituntut menyempurnakan hubungannya kepada Allah tanpa melupakan penyempurnaan terhadap eksistensi dan peran sebagai makhluk sosial dengan segala pernik-pernik tata hubungan sosialnya. Namun, mewujudkan nilai luhur Idul Fitri dalam praktek kehidupan bermasyarakat dan berbangsa tidak mudah.

"Memang problem umat beragama bukanlah pada pemahaman agamanya tapi bagaimana memfaktakan ajaran itu dalam perilaku kemasyarakatan sehari hari," urai Kiai Hasyim.

Redaktur : Agung Sasongko
Reporter : Indah Wulandari
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
avatar
Login sebagai:
Komentar