Senin, 15 Safar 1441 / 14 Oktober 2019

Senin, 15 Safar 1441 / 14 Oktober 2019

Menjalin Silaturahim Relasi, Sampaikan dengan Parcel

Jumat 25 Jul 2014 14:00 WIB

Red:

Budaya mengirim parcel yang ada di masyarakat selama ini bertentangan dengan ajaran agama Islam. Mengapa? Memberikan bingkisan atau parcel menjelang lebaran, masih tetap diminati oleh sebagian kalangan. Gaya hidup sebagai tanda mempererat silaturahim ini, masih dipegang oleh masyarakat perkotaan. Meski dari tahun ke tahun tradisi mengirim parcel mengalami penurunan, namun masih ada kalangan tertentu, khususnya dunia usaha yang tetap mempertahankannya. Alasan mereka mempertahankan tradisi tersebut untuk menjaga hubungan baik.

"Sudah lebih dari lima tahun kami memegang tradisi kirim parcel ke relasi," kata Budi Hermanto, staf bagian umum sebuah perusahaan ma nufaktur di wilayah Gede bage Kota Bandung kepada Republika.

Setiap lebaran, perusahaannya selalu mengirim parcel ke sejumlah relasi baik dalam kota maupun diluar Kota Bandung. Pengiriman tersebut, biasanya dilakukan empat atau tiga hari menjelang lebaran. Untuk membeli parcel, dia sengaja melakukan survei ke sejumlah toko di Kota Bandung. Budi mengatakan, tak terikat dengan satu toko saja dalam berburu parcel, lantaran beda kemasan dan isi.

"Tahun ini kebetulan saya mencari di kawasan Jl Buah batu. Sekalian survei mencari harga yang termurah dengan kualitas yang bagus," ujar dia. Budi mengungkapkan, par cel yang dibelinya untuk dikirim ke sejumlah relasi sebagian besar berisi ma kanan. Makanan dan minuman, kata dia, akan lebih bermanfaat dibanding parcel berisi pecah belah atau peralatan dapur.

Selain bisa langsung digunakan oleh sang penerima, isi parcel yang terdiri dari kue, makanan ringan, serta minuman ringan tersebut harganya juga terjangkau. "Untuk tahun ini kami membeli sebanyak 30 parcel dengan harga berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu," tutur dia.

Alasan serupa juga di ungkapkan Yandi. Pimpinan Sahara Tour and Travel ini di Jl Buahbatu Bandung ini, selalu berkirim parcel kerelasi usahanya. Menurut dia, sebagian besar relasi yang dikirimi parcel adalah para pembimbing haji dan rekanan.

Menurut dia, parcel berisi makanan dipilih lantaran praktis dan harganya terjang kau. Kata dia, parcel makanan tersebut sebagian besar berisi kue kering atau kaleng serta minuman ringan. "Ini sebagai bentuk silaturahim saja. Tidak ada maksud lain. Dan lagi yang kita kirim adalah para ustad dan kyai,’’ imbuh dia.

Menurut penilaian Yandi, tradisi mengirim parcel harus tetap dilestarikan. Pasalnya, kata dia, memberi pada hari lebaran sebagai bentuk terjalinnya tali silaturahim. Dia mengatakan, pemberian parcel dari pihak swasta kepada penyelenggara negara itu yang harus dihindari.

Pasalnya, kata dia, pemberian parcel kepada pejabat pemerintah itu tentunya ada maksud lain. Kalaupun mau memberi parcel, imbuh dia, lebih baik kepada mereka yang posisi sosialnya lebih di bawah.

"Akan lebih baik tidak di berikan kepada pejabat. Lebih baik kepada mereka yang sta tus ekonominya berada di bawah kita. Atau orang-orang yang banyak berjasa kepada masyarakat," kata dia. Masih banyaknya pihak yang membutuhkan parcel, membuat usaha ini tetap ada. Namun sejak tiga tahun terakhir ini, usaha parcel mengalami penurunan. Hal tersebut diungkapkan Voni Fransisca, pengelola toko Yani Parcel di Jl Buahbatu.

Menurut dia, tahun ini, penjualan parcel mengalami penurunan dibanding tahuntahun sebelumnya. Ia meng aku, tak mengetahui alasan pasti mengapa bisnis parcel mengalami kelesuan dalam dua tahun terakhir ini. "Tahun lalu lebih bagus dari sekarang. Entah apa penyebabnya,’’kata dia yang lebih dari 15 tahun menggeluti usaha ini.

Menurut Voni, parcel buatannya dijual dengan harga bervariasi mulai dari Rp 75 ribu hingga Rp 2 juta perunit. Untuk harga parcel terendah Rp 75 ribu, kata dia, berisi makanan dan minuman. Sedangkan parcel dengan harga tertinggi, yaitu Rp 2 juta, berisi bahan pecah belah, seperti gelas, piring, serta top les.

Parcel yang dijual di tokonya, ujar Voni, hasil rangkaian sendiri. Ia membeli bahan-bahan yang dibutuhkan kemudian merangkai atau mengemasnya sendiri. Dia memiliki karyawan yang ahli dalam mengemas parcel tersebut. Untuk parcel makanan dan minuman, kata dia, sangat selektif terutama soal masa berlaku dan sertifikat halal. Jika kedua syarat tersebut tak terpenuhi, ia tak akan membeli bahan-bahan tersebut untuk dibuat parcel.

Tak hanya menjual parcel, Voni juga menyediakan petugas pengantar. Untuk dalam dan Kota Bandung, imbuh dia, pembeli barang tak dikenakan biaya pengiriman. Namun kalau tujuan di luar kota, imbuh dia, konsumen akan dikenakan ongkos kirim. Pengiriman dalam kota, kata dia, menggunakan mobil atau motor. "Kita liat lokasi nya. Kalau ke lokasi macet dan pengiriman hanya dua atau tiga unit parcel kita gunakan motor saja agar cepat. Tapi kalau hujan dan banyak kita gunakan mobil boks," ujar dia.

Model pengiriman parcel tanpa dipungut biaya juga dilakukan sejumlah toko parcel di Jl Karapitan. Di jalan ini hampir setiap toko menjual parcel berbagai bentuk, jenis, dan isi. Di antaranya ada Darma Parcel, Gran Parcel, dan sejumlah toko lainnya. Tokotoko tersebut hanya menjual parcel menjelang lebaran saja. Sedangkan pada bulan-bulan biasa, pemilik toko tersebut menjual pakaian, alat olahraga atau kelontongan. "Hanya usaha musiman saja. Menjelang lebaran dan natal,’’ kata Beni salah seorang kar ya wan toko parcel di Jl Karapitan.

Sekretaris MUI Jabar H Rafani Achyar menilai, buda ya mengirim parcel yang ada di masyarakat selama ini bertentangan dengan ajaran agama Islam. Menurut dia, budaya parcel yang berkembang hanya memberikan parcel dari bawahan ke atasan atau dari perusahaan kepada pe jabat atau orang yang secara ekonomi atau sosial berada di atas.

"Memberi itu bagus dan diajarkan oleh Islam. Tapi ka lau yang diberi adalah pejabat atau orang mampu secara ekonomi itu namanya salah kaprah," kata dia. Rafani justru mengimbau agar umat Islam mengembangkan nilai-nilai ajaran agamanya melalui pemberian zakat atau shodakoh kepada kaum fakir miskin atau anak yatim. Menurut dia, budaya kirim parcel yang salah ka prah itu lebih baik dihilang kan saja. "Umat Islam kem bali ke ajarannya yaitu mem beri sh odakoh dan zakat kepada fakir miskin," ujar dia.rep:djoko suceno ed: agus yulianto

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA