Cita Rasa Negeri Piramida (2-habis)

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Chairul Akhmad

 Rabu 23 Jul 2014 15:00 WIB

Um Ali, kudapan Mesir. Foto: Honestcooking.com Um Ali, kudapan Mesir.

REPUBLIKA.CO.ID, Masyarakat Negeri Piramida biasa menyantap sajian ini bersama nasi briani dan sup lentil. Apa itu lentil? Jenis kacang yang satu ini memang kurang populer bagi masyarakat Indonesia.

Namun, di supermarket Anda bisa menemukan kacang yang kaya gizi dan telah dibudidayakan manusia pada sekitar 9.500-13 ribu tahun silam ini.

Lentil merupakan keluarga legume, tanaman yang bijinya disimpan dalam polong-polong, seperti kedelai. Lapisan kulit ari kacang ini bermacam-macam. Ada yang merah jingga, cokelat, hijau, kuning, abu-abu, hitam, sampai yang berbercak-bercak ungu dan hitam.

India adalah penghasil terbanyak lentil di dunia. Di sana, lentil dimasak dengan bumbu kunyit, jahe, bawang dan tomat lalu dimakan bersama nasi panas atau chapati, roti khas India. Namun, lentil tak hanya ada di India.

Kacang ini juga ditemukan di Eropa, Asia, Amerika Utara,  Timur Tengah, Afrika Utara, termasuk Mesir.  Di Mesir dan negara-negara Arab lainnya, lentil biasanya diolah dengan minyak zaitun dan dibumbui bawang merah, bawang putih, garam, lada, dan kunyit sehingga menjadi sup kental yang lezat.

Selain lamb ouzzy dan sup lentil, Anda juga bisa mencicipi shish kebab (satai kebab). Sajian ini disantap dengan salad tomat dan roti pita.

Tak hanya menu berbahan daging, Yehia juga menyajian sajian berbahan ikan. Salah satunya adalah fish harra, yang diolah dari ikan tuna atau kakap.

Dalam sajian ini, perut ikan yang telah dibersihkan diisi dengan rempah-rempah khas Mesir, tomat, wortel, bawang,daun basil dan bumbu kari. Kemudian, ikan dipanggang dalam oven bersuhu 170 derajat Celsius selama 30 menit. Olahan ikan ala Mesir ini biasa disantap dengan salsa tomat yang terbuat dari tomat, bawang bombay, daun ketumbar, jeruk nipis, lada dan garam.

Selain memiliki karya-karya kuliner yang unik, Mesir juga memiliki tradisi Ramadhan yang khas. El Nahas menceritakan, masyarakat Mesir biasanya memulai buka puasa dengan takjil seperti sambousek (sejenis pastel), baladi salad dan khoshaf.Khosaf adalah buah-buahan kering yang disiram dengan sirup.

Saat berbuka puasa bersama di masjid, laki-laki dan perempuan berada di tempat terpisah. Biasanya, mereka menyantap hidangan berbuka bernama fatah, yakni sepiring besar berisi roti, yang dilengkapi dengan sup dan daging.

Tradisi menarik lainnya, El Nahas melanjutkan, pada pekan pertama Ramadhan, masyarakat Mesir umumnya berbuka di rumah. Kemudian pada pekan kedua, mereka akan bersilaturahim dengan berbuka puasa di rumah sanak saudara secara bergiliran.

Nah, pada pekan ketiga, mereka mulai membersihkan rumah masing-masing dan membuat penganan untuk Idul Fitri yakni kahk.  Ini adalah sejenis kue kering yang ditaburi gula bubuk. Tak heran, masyarakat Mesir menyebut juga kahk sebagai kue gula. Kue kering ini terasa manis dan akan meleleh ketika dimakan

Yang menarik, setiap rumah membuat kue ini dan akan saling mencicipi satu sama lain. “Ini tradisi perempuan Mesir saat  Lebaran.”

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X