Berburu Malam Seribu Bulan

Rep: Rahmat Fajar/Sonia Fitri/ Red: Chairul Akhmad

 Selasa 22 Jul 2014 23:07 WIB

Suasana iktikaf di Masjid At-Tin. Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang Suasana iktikaf di Masjid At-Tin.

REPUBLIKA.CO.ID, Ratusan jamaah mulai memenuhi Masjid At-Tin, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, sejak Jumat (18/7) malam. Satu tujuan mereka beriktikaf, memanfaatkan sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk beribadah. Juga, berharap memperoleh malam Lailatul Qadar.

Sebuah malam yang kebaikannya lebih dari seribu bulan. Ustaz Bachtiar Nasir hadir dalam pembukaan kegiatan iktikaf itu. Dari pukul 22.00 hingga 23.00 WIB, ia menyampaikan tausiyah. Ia mengajak jamaah bertadabur atau memahami dan mengambil pelajaran dari Alquran.

Menurutnya, iktikaf momen terbaik untuk memahami kitab suci itu. Periwayat hadis Imam Bukhari berhenti mengumpulkan hadis sahih kemudian fokus pada Alquran. Imam Abu Hanifah, pendiri mazhab, menghentikan aktivitas lain dan beralih ke Alquran.

Wiwit, warga Pondok Gede, sudah dua tahun ini mengikuti iktikaf di At-Tin. Ini merupakan tahun keduanya. Ia menuju At-Tin seusai shalat Tarawih di rumahnya. Tekadnya, menambah ilmu agama yang disampaikan para ustaz. “Saya juga ingin keimanan lebih meningkat.”

Selain itu, Heri, warga Cikarang, Bekasi, berangkat bersama istrinya. Mereka bersama-sama menjalani iktikaf. Meski demikian, ia mengaku tak beriktikaf secara penuh hingga akhir. Sebab, ia harus pulang ke rumah dan masuk kerja.

Di luar ruang utama masjid, banyak jamaah lain bersama keluarganya menjalani kegiatan yang sama. Mereka membawa bekal selama menetap di masjid. Abdul Latif, panitia iktikaf Masjid At-Tin, mengatakan bahwa jamaah iktikaf ramai sejak malam ke-20 Ramadhan.

“Kami memberikan dua pilihan kepada mereka, mau beriktikaf gratis atau membayar Rp 30 ribu,” kata Latif, Ahad (20/7). Jamaah yang membayar mendapatkan fasilitas tambahan berupa makan sahur, suvenir, dan tentu saja ikut berinfak ke masjid.

Sejak hari pertama iktikaf, jamaah yang memilih fasilitas berbayar sebanyak 275 orang. Ia meyakini jumlah jamaah semakin bertambah, terutama pada akhir pekan dan bilangan malam-malam ganjil Ramadhan. “Sebab, ada kemungkinan mendapat Lailatul Qadar.”

Pada malam ganjil, yaitu malam ke-23, 25, dan malam ke-27 Ramadhan, pendaftar yang membayar biasanya membeludak hingga 600 orang. Ia mengatakan, peningkatan jumlah jamaah juga bisa dipicu hadirnya pembicara dan ulama yang diundang ke masjid.

Ia menuturkan, suasana masjid selalu ramai dan penuh. Cara jamaah datang ke masjid juga beragam. Ada yang sendiri-sendiri dan berkelompok. Ia mencontohkan, pada akhir pekan, ada rombongan sekolah sekitar 250 orang. Ada pula rombongan keluarga.

Mereka berasal dari kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, Cikarang, Padang, Pekalongan, Palembang, dan daerah Indonesia lainnya. “Penuh, ada yang bawa anak hingga bawa kasur,” ujarnya menegaskan.

Untuk menyambut jamaah, panitia menyediakan tempat penitipan barang, sambungan listrik untuk charger, jual pulsa, dan fasilitas lainnya guna mendukung kenyamanan beribadah jamaah. Ia mengimbau jamaah memperhatikan tata tertib.

Menurut Latif, tata tertib harus diperhatikan agar iktikaf berjalan lancar. Dengan demikian, jamaah dapat beribadah dengan nyaman. Selain At-Tin, masjid lainnya juga menggelar iktikaf, misalnya Baitul Ihsan Bank Indonesia dan Masjid Agung Sunda Kelapa.









BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X